Searching

Tampilkan postingan dengan label Author. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Author. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Februari 2009

Andrea Hirata

Beberapa hari yang lalu, di sebuah milis yang kuikuti ada perbincangan tentang dunia tulis menulis. Ngobrol ngalor ngidul akhirnya nama Andrea pun tersentil. Salah seorang anggota milis yang lebih banyak tinggal di daratan Eropa sana menulis pertanyaan retorik apakah Andrea terkenal karena dia lulusan Universitas Sorbonne.
I swear I am not really a fan of Andrea Hirata meski harus kuakui aku mengangkat topi tinggi-tinggi buatnya, seorang Ikal kecil dekil, berasal dari sebuah desa terpencil dan miskin, yang mampu mewujudkan impiannya untuk menembus bangku perkuliahan, bahkan setelah lulus dari Universitas Indonesia dia melanjutkan ke universitas bergengsi dunia, Universitas Sorbonne. Dan berhubung membaca adalah salah satu hobbyku, maka tak heran bukan kalau aku pun membaca keempat novel tetralogi LASKAR PELANGI itu.
Aku tidak begitu banyak mengikuti berita-berita tentang Andrea karena bagiku kehidupan pribadinya tidak menarik kuikuti, yang aku sukai adalah keempat bukunya, dari LASKAR PELANGI, SANG PEMIMPI, EDENSOR, dan MARYAMAH KARPOV.
Dengan sekedar iseng, aku menulis komentar atas pertanyaan retorik yang kutulis di atas, "Apakah Andrea Hirata terkenal karena dia lulusan Universitas Sorbonne?" Dari beberapa kritik sastra yang kubaca tentang LASKAR PELANGI, novel ini terkenal karena para pembaca sedang terkena penyakit BOSAN dengan tema-tema novel yang ada. (Contoh: Keterkenalan novel 'Ayat-ayat Cinta' membuat orang-orang pun menulis novel-novel dengan tema yang mirip-mirip. Senada dengan saat terkenalnya seorang Ayu Utami karena dwilogi SAMAN dan LARUNG nya. Karena banyak orang menuding seksualitas yang diusung oleh Ayu sebagai pendongkrak popularitas kedua novel ini, banyak orang kemudian beramai-ramai menulis novel yang banyak dibumbui oleh seks, tanpa tema yang khusus mengapa seks diilustrasikan dalam novel-novel mereka. Ayu Utami berbeda karena dalam kedua novel itu dia ingin mendobrak ketabuan bahwa perempuan dilarang berbicara tentang seks, dan kritik tentang virginitas yang wajib dimiliki semua perempuan tatkala memasuki
gerbang perkawinan.)
Aku menulis bahwa Andrea terkenal bukan karena dia lulusan Sorbonne, melainkan karena cerita yang ditulis oleh Andrea dalam LASKAR PELANGI benar-benar memikat pembaca, tema yang berusaha untuk membangkitkan semangat para pelajar untuk rajin berangkat ke sekolah, karena para anggota 'laskar pelangi' yang berasal dari desa terpencil dan miskin itu selalu penuh semangat untuk berangkat sekolah, untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan. Andy F Noya mengangkat LASKAR PELANGI dan Andrea Hirata dalam salah satu acara KICK ANDY karena cerita yang membumi dan mengharukan tersebut, bukan karena sang penulis adalah lulusan Sorbonne.
Seandainya Andrea menulis EDENSOR sebagai novel perdananya, aku tidak yakin bahwa dia akan seterkenal sekarang, meksipun EDENSOR ditulis dengan teknik penulisan yang jauh lebih menarik dibandingkan tatkala Andrea menulis LASKAR PELANGI. Karena dia adalah seorang prodigy dan pekerja keraslah maka dia pun mampu meningkatkan kemampuan menulisnya dalam waktu yang singkat. Apakah karena dia lulusan Sorbonne? Dalam hal ini, mungkin iya. Namun hal ini bukanlah penyebab utama seorang Andrea terkenal di Indonesia, dan kemudian sampai ke manca negara. Lulusan Sorbonne membuat dia seorang prodigy yang semakin terasah.
Salah satu bukti bahwa LASKAR PELANGI lah yang menyebabkan seorang Andrea terkenal adalah buku yang dia tulis sebelum LASKAR PELANGI, buku ilmiah berdasarkan riset tesisnya, SAMA SEKALI TIDAK TERKENAL, sebelum LASKAR PELANGI terkenal.
Any comment, please dear friends?

Friends net 14.24 070209


Rabu, 25 Juni 2008

Ayu Utami


Senin 17 Desember 2007 aku menghadiri acara ‘talk show’ dengan pembicara utama Ayu Utami dengan moderator Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka. ‘Talk show’ diselenggarakan di sebuah event yang diberi tajuk KAMPOENG WEDANGAN bertempat di kampus BLPT Jalan Brotojoyo Pondok Indraprasta Semarang. 


Menurut info yang kubaca di Suara Merdeka, acara dimulai pukul 19.00, sedangkan aku baru sampai ke tempat sekitar pukul 19.30. Untuk memberi alasan mengapa aku datang terlambat (coz I always insist I belong to the punctual type :) ) aku selesai mengajar pukul 19.00. I needed some time untuk berjalan dari classroom ke teachers’ room, mengembalikan attendance list ke tempatnya, minum, dll. Setelah itu, aku harus mengantar Angie pulang ke rumah dulu, karena dia harus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi final semester di sekolah, sehingga dia ga bisa ngikut aku nongkrongin Ayu Utami. :) 

Sesampai di rumah, aku sempatin mengganti “baju kebesaranku” mengajar (rok panjang hitam, blus, plus blazer hitam), dengan celana jeans plus sweater (hawa di Semarang sedang cukup dingin karena hujan yang sedang “rajin” turun membasahi bumi yang memiliki landmark Tugumuda ini). 


Meskipun datang terlambat, dengan pedenya aku langsung menempatkan diri duduk di salah satu kursi yang terletak di deretan paling depan. Aku tengarai karena hujan yang mengguyur sejak siang hari, sehingga tidak banyak masyarakat Semarang yang mengunjungi KAMPOENG WEDANGAN; tidak banyak juga orang yang menempati kursi yang disediakan oleh panitia untuk “menikmati” Ayu Utami. LOL. Begitu duduk, Triyanto bertanya kepada hadirin, “Ada pertanyaan?” Waduh ... jelas I had no question karena aku belum tahu sampai mana perbincangan antara Ayu dan Triyanto, dan aku juga lumayan kaget karena aku yakin acara belum lama dimulai (mengingat ‘budaya’ buruk jam karet yang nampaknya telah mendarah daging di orang-orang Jawa; sorry, bukan bermaksud menghakimi nih: AKU YAKIN TIDAK SEMUA ORANG JAWA MEMPRAKTEKKAN BUDAYA—if we can call it BUDAYA—JAM KARET.) kok tahu-tahu Triyanto sudah ‘menyeruduk’ hadirin dengan “Ada pertanyaan?”

Berhubung tidak, atau belum ada satu pun pengunjung yang mengacungkan tangan sebagai tanda ingin mengajukan pertanyaan, Triyanto turun dari panggung, menghampiri seorang pengunjung yang duduk di sebelah kananku, dan bertanya,

“Apa yang membuat anda menghadiri acara ini?”

Berhubung jawabannya terlalu berbelit-belit, atau memang aku yang sudah menjadi makhluk pelupa, LOL, aku pun lupa apa alasan yang dia kemukakan. Aku sudah mempersiapkan diri jika Triyanto menanyaiku pertanyaan yang sama: “I am one fan of Ayu Utami! That for sure made me come to this place.” But ternyata harapanku itu terlalu tinggi. Triyanto langsung balik ke panggung, tanpa melirikku sedetikpun. (kayaknya sih. LOL.)

Satu hal yang sangat menarik bagiku yang dikemukakan oleh Ayu adalah dia menegasikan teori Roland Barthes tentang “The author is dead” begitu seorang pengarang usai menulis buku, dan buku tersebut dipublikasikan dan disebar ke masyarakat. (You can read one post of mine, I entitled “The death of the author” or similar like that in my blog http://afeministblog.blogspot.com) di post ini, aku pun menuliskan ketidakpedeanku untuk menggunakan teori Barthes ini, karena aku lebih condong ke teori Genetic Structuralism milik Lucien Goldmann, yang melibatkan ketiga elemen penting dalam menelaah suatu karya sastra, world view, the author’s view, plus his/her background, as well as the work itself.)


Berbeda denganku yang tidak mengimani teori Barthes karena aku bukan seorang yang pede, Ayu menjelaskan bahwa dia baru saja kembali dari Prancis, dalam rangka menghadiri launching SAMAN dalam versi Francaise. Sebelum buku SAMAN berbahasa Prancis itu diluncurkan ke masyarakat Prancis, Ayu diminta untuk menjelaskan kepada publik, “What is Saman all about?” yang bermakna Ayu tidak dimatikan oleh masyarakat sastra disana, Ayu tetap dianggap hidup sehingga suaranya perlu didengar untuk menjelaskan apa sih yang dia kemukakan, maupun yang dia kritisi, lewat novel perdananya yang dianugerahi sebagai tonggak bangkitnya Sastrawan Angkatan tahun 2000.

Seorang pengunjung bertanya tentang polemik sastra yang heboh di internet beberapa waktu lalu, antara pihak Forum Lingkar Pena—yang dimotori oleh Taufik Ismail—dengan Komunitas Utan Kayu—tempat dimana SAMAN dulu dilahirkan, meskipun sekarang Ayu tidak lagi terlibat secara aktif di KUK. Aku ingat yang ‘heboh’ di internet, adalah pelaku polemik yang menurutku mengklasifikasikan diri mereka ke dalam dua ‘kubu’ yakni ‘penghujat’ dan ‘pembela’ KUK dengan alasan masing-masing, bersaing siapa yang mampu mengemukakan alasan yang lebih intelektual. Ayu sendiri yang dihujat adem ayem saja. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” mungkin Ayu berpikir begitu.
Dan, ternyata setelah bertemu langsung, Ayu pun tetap memilih untuk tidak ‘menceburkan’ diri ke kelompok pembela KUK, ataupun pembela diri sendiri. Dengan kata lain Ayu tetap dengan arif membiarkan para ‘anjing’ itu menggonggong, dan dia tetap berlenggang.😉

Tatkala mendapatkan kesempatan, aku bertanya, “Bukankah itu berarti mbak Ayu ‘dimatikan’ oleh kelompok penghujat?”

Dari jawaban yang diberikan olehnya, aku mengambil kesimpulan bahwa dia memang memilih sikap, “I don’t give a damn.” Katanya lagi, dari sekian banyak kritik yang ditulis oleh para krittikus sastra, baik dalam maupun luar negeri, satu kritik yang dia soroti, ditulis oleh seorang feminis Australia yang mengatakan, bahwa sebenarnya SAMAN akhirnya kembali lagi ke dikotomi makhluk publik dan domestik, makhluk superior dan inferior, karena SAMAN, sang karakter laki-laki lah yang mendapatkan porsi sebagai ‘pahlawan’, makhluk publik dan superior, sedangkan karakter perempuan yang ada, tetaplah merupakan tokoh pelengkap, seperti biasa, kehadiran makhluk berpayudara dan bervagina ini hanya untuk menjadikan satu suasana, era, or whatever we call it, menjadi lebih colorful.


FYI, tujuan utama panitia KAMPOENG WEDANGAN mengundang Ayu Utami adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat Semarang, bahwa menulis bisa dijadikan salah satu cara berwirausaha, mengingat tema utama KAMPOENG WEDANGAN adalah “Expo Kewirausahaan dan Budaya”.


Berbicara tentang menulis, Ayu Utami membagi profesi menulis ini menjadi dua
1.penulis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai WRITER, sebagai tataran pemula
2.pengarang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai AUTHOR, sebagai kelas yang lebih tinggi, lebih sesuai disejajarkan dengan SENIMAN


Untuk menjadi AUTHOR, seseorang seyogyanya memulai dari tataran pemula, sebagai WRITER. Tulislah apa saja, misal tentang “How to be a millionaire”, “How to say NO to your boyfriend when he asks you to have sex” (NOTE: ini ideku, bukan yang disampaikan oleh Ayu. LOL.) Dalam menggapai ke-AUTHOR-annya, Ayu memulainya dengan profesinya sebagai wartawan dan kolumnis. Setelah merasa capable, dia baru memulai menulis proyek idealis (plus ambisius)nya, yakni menulis novel yang dia beri judul SAMAN.


Masih banyak lagi yang dikemukakan oleh Ayu, kusimpan untukku sendiri. LOL. Atau, kalau mood nulis datang (lagi), akan kutulis di post yang lain. 


LL TBL 10.52 221207

Rabu, 18 Juni 2008

Agus Noor


Potongan Cerita di Kartu Pos adalah kumpulan cerpen ketiga karya Agus Noor yang kumiliki, setelah Selingkuh Itu Indah dan Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia. Bisa dikatakan bahwa aku suka karya-karya penulis laki-laki satu ini mengingat aku memiliki tiga buah buku hasil tulisan laki-laki yang dilahirkan di Tegal 1968 ini. Seingatku sangat jarang aku memiliki buku tulisan penulis laki-laki lebih dari satu. Eka Kurniawan dengan novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka dan mampu menghenyakkanku tatkala membacanya dari lembar ke lembar berikutnya, dan membuatku ternganga dengan kepiawaiannya merangkai alur cerita yang sangat kompleks, maju mundur dengan indahnya, pun hanya mampu memprovokasiku untuk membeli satu bukunya yang lain, yang berjudul Lelaki Harimau. Total hanya dua buah buku karya Eka Kurniawan yang kumiliki. Aku memiliki buku Pramudya Ananta Toer hanya satu buku, dan bukan satu dari buku tetraloginya yang sangat terkenal itu. Umar Kayam aku memiliki novel klasiknya yang berjudul Para Priyayi. Penulis (Indonesia) laki-laki mana lagi ya yang kumiliki bukunya? Lupa. LOL. Kayaknya memang hanya ketiga orang ini yang bukunya berada di rak bukuku. LOL. Gosh, hampir lupa, Andrei Aksana dengan Lelaki Terindahnya. :)

Kembali ke kumpulan cerpen terbaru dari Agus Noor yang kumiliki. Harus kuakui bahwa gaya menulisnya semakin matang, cerita mengalir dengan nikmat dan indah, meskipun itu merupakan tulisan surealis (yang terus terang saja, sebenarnya tidak begitu kusukai. LOL.) Tentu saja hal ini jika kubandingkan dengan kedua kumpulan cerpennya yang sebelumnya. Ada sembilan cerpen di buku ini, dan saat ini baru lima cerpen yang kubaca, karena memang kusengaja untuk tidak segera menghabiskan membaca semua cerpen itu dalam satu kali duduk. Dari kelima cerpen yang telah kubaca—masing-masing judulnya “Komposisi untuk Sebuah Ilusi”, “Sirkus”, “Cerita Buat Bapak Presiden”, “Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu” dan “Dongeng buat Pussy”—yang membuatku tercenung dalam waktu yang cukup lama setelah usai membacanya adalah “Sirkus”.

Dalam “Sirkus”, Agus Noor mengungkapkan kegundahan hatinya melihat masalah-masalah sosial yang ada di Indonesia, seperti harga BBM yang melambung tinggi yang menyebabkan harga-harga sembako pun melonjak, tak terjangkau masyarakat kecil, dan akhirnya menyebabkan puluhan juta balita kekurangan gizi, yang di kemudian hari tentu akan menghasilkan generasi penerus yang tidak mumpuni. Poor us!!! :(

Guess where I read this short story? Di Paradise Club sewaktu aku melakukan cycling. I did three things at the same time: cycling, listening to music from my MP, and reading.

Btw, belum tahu penulis laki-laki siapa lagi yang bakal kubeli bukunya untuk menambahi koleksiku. :) Banyak penulis lain tentu saja, hanya aku belum tergoda saja untuk membelinya. :)

PT56 20.59 151206

Penulis Perempuan

 

Ayu Utami and me at Omah Petroek, 26 Agustus 2023

Penulis perempuan (Indonesia) yang hasil karyanya kumiliki tentu lebih banyak daripada penulis laki-laki. Maklum, I love women (coz I am a feminist, not coz I am a lesbian :-D )

Pertama, Ayu Utami dengan dwiloginya Saman dan Larung. Bukunya yang berjudul Si Parasit Lajang merupakan salah satu buku favoritku, yang tak bosan-bosannya kubaca. :) Gaya menulis khas Ayu Utami adalah menyentil masalah sosial—terutama yang berhubungan dengan perempuan—dengan gaya ringan dan bercanda yang membuatku sangat suka membacanya.

Kedua, Oka Rusmini. Aku memiliki beberapa novelnya, seperti Tarian Bumi dan Kenanga. Kumpulan cerpennya yang berjudul Sagra juga ada di antara buku-buku koleksiku. Topik khas tulisan Oka Rusmini tentu saja sentilannya tentang nasib perempuan Bali yang meskipun telah bekerja keras, masih saja direndahkan oleh masyarakatnya yang patriarki.

Ketiga, Djenar Maesa Ayu. Aku memiliki ketiga kumpulan cerpennya yang berjudul Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, dan Cerpen tentang Cerita Cinta Pendek. Aku juga memiliki novel tulisan Djenar yang berjudul Nayla. Meskipun sama-sama mengkritik tentang nasib perempuan yang kurang beruntung hidup dalam kungkungan patriarki—seperti Ayu Utami—satu hal yang jelas dan gampang terlihat adalah gaya menulis Djenar yang sangat sarkastis dan sinis. Suasana cerita lebih sering terasa gloomy.

Aku memiliki dua buah buku hasil karya Aquarini Priyatna yang bukan merupakan fiksi (baik novel maupun kumpulan cerpen). Yang pertama berjudul Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Femininitas, dan Globalitas dalam Iklan Sabun. Yang kedua, salah satu buku favoritku, berjudul Kajian Budaya Feminis, Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Aku juga memiliki terjemahan buku Feminist Thought milik Rosemary Tong, diterjemahkan oleh Aquarini.

Aku sangat suka dengan buku Filosofi Kopi hasil karya Dewi Lestari. Meskipun sangat suka, hal ini tidak berarti aku telah berhasil diprovokasi untuk membeli buku Dewi Lestari yang lain, seperti Supernova series.

Aku memiliki dua buah buku hasil karya Gadis Arivia, si pemrakarsa terbitnya Jurnal Perempuan, jurnal favoritku. Pertama, berjudul Filsafat Berperspektif Feminis, dan yang kedua Feminisme: Satu Kata Hati.

Melulu tentang perempuan, feminisme, dan gender, eh? :) Nana banget kan? LOL.

Selain buku-buku tersebut di atas, buku-buku lain yang kumiliki adalah buku berbahasa Inggris, yang membantuku dalam menulis tesis, buku-buku tentang Amerika, (maklum alumni American Studies), buku-buku sastra—baik yang teori maupun novel, kumpulan cerpen, antologi, dll, juga buku-buku terjemahan, seperti buku-buku tulisan Asghar Ali Engineer, Amina Wadud, Riffat Hassan dan Fatima Mernissi, Qasim Ali.

PT56 21.37 151206

Dewi Lestari


Sunday May 28, 2006 I attended a book discussion in one big bookstore in my hometown. The speaker, Dewi Lestari (Dee), is one new writer in Indonesia. In the same occasion, she promoted her newest book entitled Filosofi Kopi (The Philosophy of Coffee). FYI, this is the first time for me to attend such an occasion. Not clear either why I was attracted to attend it. :)
Dee had been a renowned singer in Indonesia when she published her first novel entitled Supernova in 2001. I was not interested in it at all at that time. I thought she just wanted to make use of her popularity as a singer to sell her book.  Until now, she has published three novels of hers, series of Supernova. Frankly speaking, I haven’t read one of those books. :(
What made me interested in her fourth book Filosofi Kopi?
First, perhaps coz she used the word Kopi (coffee) here. I have consumed coffee daily regularly since I resumed my study in 2002. I needed stimulant to make me awake (sometimes all night when the time was due the following morning to submit assignments I got from my lecturers), and I thought coffee was the best choice. And I know recently more and more coffee shops opened in big cities in Indonesia where people can hang around with their friends, to chit chat, or even to have business meeting. .
Second, this book has been promoted by a mailing list where I joined as one member. At first, I didn’t give a damn on it. Many people have appreciated Dee’s novels but it didn’t really move my heart yet to read them. LOL.
Before attending the occasion to have a chat together with Dee also to promote her newest book, I had bought the book and had read some writings in it. In fact, I like them.  Two outstanding things I keep in my mind from the discussion in that occasion.
First, the way Dee answered a visitor’s question about her spiritualism journey. Recently, she said that she has converted to be a Buddhist. She gave us a very impressive illustration. When someone sinks in a deep sea, the islands around him/her will seem the same, a refuge for him/her to survive. Someone cannot go on living in the deep sea. He/she must go to the nearest island to save him/herself. No island will seem better/more comfortable/promising to give heavenly sanctuary. All islands are similar.
This is very beautifully said by Dee in the middle of violent dispute among religions in Indonesia nowadays. Some irresponsible people who consider themselves as the most right start to force people from other religion to convert. Some irresponsible people from violent Islamic groups start to force their intention to the government to legalize Pornography Bill in Indonesia soon. They also have forced to close a Non Governmental Organization that uses Islamic name but this NGO rejects Pornography Bill. Many feminists are worried if the same violent Islamic groups later will randomly arrest women and force police to put them into jail only coz they wear something they consider improper while in fact the indecent thought is inside the members’ mind of those groups, and not in women’s clothes. 
Can’t we just live peacefully hand in hand, side by side, without forcing what we believe to other people? Can’t we appreciate and respect one another?
Second, Dee explained that she started writing coz she felt anxious of something in her life and wanted to share her anxiety to other people.
That really makes the two of us. At first, I just discussed things that made me anxious or restless with my close friends. Sometimes I discussed them with my students. I never got satisfying feedback though, both from friends and students of mine. Then, I wrote my restlessness in emails and sent them to my loved ones. I know some of them understand my restlessness but they cannot give me feedback either. My knowing blog technology really comforted me. I started to share my writings—including my anxiety and restlessness—to wider audience, my blog readers.
Going back to Dee, I really enjoyed the time when attending her book campaigning although until now I only have one book of hers. I am not sure either yet if I will buy her other books—series of Supernova—later. Since I claimed myself as a feminist in 2003, mostly I have read books written from feministic perspective. I am of opinion that Dee doesn’t write her book from feministic perspective though not misogynist either. Misogynist books? COUNT ME OUT!!!
PT56 22.42 280506

Nh Dini


Several weeks ago I attended a sort-of promotion book of ARGENTEUIL by one senior writer in Indonesia, NH Dini at RUMAH SENI Semarang located at Kampung Jambe number 280. NH Dini herself as the main speaker, with Adhyanggono from Unika Soegijapranata as the moderator. NH Dini called ARGENTEUIL her autobiography which she wrote in the form of novel.

The first thing attracted my attention was when Dini said she has made herself accustomed to writing anything daily since she was very young in one special book she labeled ‘a red book’—because the cover of the book is red. The way she wrote in the red book was not like writing in diary—at least my way in writing diary --because she often used kinds of symbols recognized by herself only. From this ‘red book’ she improved her notes into many novels.

I asked whether she continued writing in her ‘red book’ after getting married. The background of my question was in the patriarchal culture—at least what I learned when I was a teenager from articles I read in magazines/books/newspapers—people believed that after getting married man and woman became one, each was the soul mate for the other. Therefore, women were not supposed to ‘confide in’ anybody else—including in their dead diary, the reflection of their own self—but to their husbands (I call ‘living diary’) that could be considered as the substitute of the dead diary. Husband and wife were supposed to be open to each other, no secrets between them. Dini said she continued writing in her diary—still using her secret symbols. Her husband let her do that and she was not ‘beaten’ by the so-called culture that I illustrated previously so that she didn’t teach her husband how to read the symbols. In other words it can be said that Dini kept doing her hobby and her husband let her have secrets. One moral lesson I was supposed to learn when I was in teenager—it was not sinful to keep something secretly from your husband—so that I wouldn’t have been beaten by the culture. Consequently, I would have had one most loyal friend, my ‘dead’ diary, when I was ‘buried’ under my sorrow because I couldn’t tell a human being. As a result, I wouldn’t have needed to be so depressed.

This is one thing I admire from NH Dini: as a Javanese woman who was born in the patriarchal Javanese culture, she already had a very progressive way of thinking. I believe this had happened before she moved to western countries to follow her husband where of course she was somewhat westernized.

The second thing I noted down from the discussion was when Dini said her two novels—PADA SEBUAH KAPAL and LA BARKA—were forbidden to be in the library of some schools in Jakarta in 1970s. The reason was because the two novels illustrated many inappropriate scenes. Surprisingly when she went to Indonesia to visit her mother in that decade, she was invited by Pondok Pabelan to give a talk about her writing career, and she found the two novels in the library there. She was questioning if some public schools in Jakarta—usually considered more receptive to anything since it was the metropolis city—forbade the students to read the novels, why Pabelan, the Islamic school, provided the novels in the library. It means Pabelan let the students read them.

When Dini asked one teacher there, the teacher explained, “We tell the students that these ‘inappropriate scenes’ are a part of western culture. We as eastern people are not to imitate what they are doing.”

This reminded me of what Ayu Utami said about her novel SAMAN. Ayu wanted to offer a new way of thinking to view women’s bodies. Women must listen to their own bodies, and not just listen to what patriarchal society demands from women. I also remember what Dewi Lestari said when she promoted FILOSOFI KOPI in Semarang around two years ago. When someone asked her converting to Buddhist, Dee explained “For someone who is going to sink in a wide sea, she/he will consider islands she/he sees the same. In Indonesia, the government (un)fortunately only gives six choices: Islam, Christian, Catholic, Hindu, Buddhism, and Confucianism. Luckily, the ‘island’ closest to where Dee was about to sink was Buddhism.” In her SUPERNOVA series, Dee illustrated her spiritual experience, to share with her readers. I could draw one similar conclusion between Ayu and Dee; that was to give a new paradigm.

This inspired me to ask Dini about her motivation to write her novels, especially the two novels I mentioned above. To my surprise (or disappointment), she said, “I didn’t have such a motivation when writing the two novels. I just wrote my experience.”

“What kind of moral lesson did you expect to convey to your readers?” I continued asking.

“Well, I just wanted people to know that this kind of experience happened, especially in an intermarriage involving one Indonesian and a westerner.”

Furthermore, when someone asked her why she wrote, Dini gave four reasons:

First, she realized that she had a talent in writing, so she improved that gift.

Second, her mother knowing that she had a talent in writing asked her to write books. It means Dini wanted to make her mother happy.

Third, she could earn her own money by doing her hobby.

Fourth, she got satisfaction when knowing that other people enjoyed reading her books.

And I was not supposed to expect ‘deeper’ and more critical reasons just like the contemporary writers.

PT56 12.40 060408