Searching

Tampilkan postingan dengan label KumCer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KumCer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

Bincang-bincang buku Perempuan Kopi



Talking about Book Discussion program, aku sangat jarang memiliki kesempatan untuk ikut hadir. Ada beberapa excuses yang bisa kukemukakan sebagai seseorang yang mengaku sebagai bookworm, book lover, atau pun book collector. :-D
  1. Waktu penyelengaraan yang sering tidak 'tepat' dengan waktu luang yang kumiliki. Sebagai seorang pekerja keras, aku kerja dua kali sehari, pagi jam 07.00 - 15.00; sore jam 17.00 - 21.00.
  2. Jika kebetulan waktu penyelenggaraan pas dengan waktu luang, tempat penyelenggaraan yang tidak friendly bagi seorang bike-to-worker sepertiku.
  3. Jika waktu dan tempat penyelenggaraan 'oke', mood-ku sedang kabur. wkwkwkwkwk ... (yang ini sangat jarang, suwer!) Atau mungkin anak semata wayangku sedang butuh perhatian ekstra sehingga tidak bisa kutinggalkan. (Sometimes one function to have kids is to have a very good scapegoat for something. LOL.)
Jumat 22 Juni 2012 kebetulan merupakan hari libur bagiku dan tidak ada kegiatan apa pun yang ada di agendaku, maka kusempatkan menghadiri acara "Bincang-Bincang Buku "Perempuan Kopi" besutan seorang pengarang perempuan yang intens sekali perhatiannya kepada isu perempuan, Dewi Nova. Plus, tempat penyelenggaraan yang tidak jauh dari tempat tinggalku, dan aku lumayan familiar dengan gedung itu, Kompas/Warta Jateng, yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno. Tahun 2010 lalu, Komunitas b2w Semarang mengadakan kerjasama dengan Kompas dalam rangka menyelenggarakan talk show 'jalur sepeda'. :)

DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku. :) Aku 'mengenal' nama itu pun karena seorang sahabat terkasih -- Asih Ernawati -- menyebut namanya beberapa bulan lalu sebagai seorang penulis yang sangat concerned terhadap isu perempuan. Aku belum pernah tahu buku apa yang pernah dia tulis sampai beberapa bulan lalu DN mempromosikan buku "Kami Tidak Bisu" yang ditulis oleh Kamilia Manaf sedangkan DN adalah editornya.

Judul buku "Perempuan Kopi" telah kuketahui beberapa minggu lalu dari wall DN maupun wall orang lain yang mempromosikannya. Aku memang kepengen beli, namun menunggu kesempatan aku 'bernafas lega' dari kegiatan sehari-hari untuk kemudian meluncur ke toko buku. Maka, ketika aku membaca flyer di efbe yang mempromosikan acara bincang-bincang buku yang diselenggarakan di kantor Kompas/Warta Jateng, aku langsung berniat datang.

Berhubung aku belum punya bukunya dan belum membaca satu pun cerpen yang ada di dalamnya, aku hanya menjadi pendengar yang baik saja selama bincang-bincang yang dimoderatori oleh Kang Putu. :) Namun seperti yang bisa diperkirakan dari 'background' yang diberikan oleh Asih bahwa DN adalah seseorang yang sangat care pada isu perempuan, cerpen-cerpen yang ada di dalamnya berkisah tentang perempuan-perempuan.

Mengapa 'perempuan'? DN adalah seorang perempuan yang juga selalu penuh semangat menyuarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan suara perempuan yang terpinggirkan di tengah-tengah status quo kultur patriarki.

Mengapa 'kopi'? DN menjelaskan bahwa kopi memiliki sejarah kolonialisasi. Belanda yang menjajah Indonesia sekian abad, yang membawa kopi ke Indonesia yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil kopi ketiga terbesar di dunia (http://forum.detik.com/indonesia-penghasil-kopi-terbesar-ke-3-dunia-t292411.html). Namun, masyarakat Indonesia sendiri harus membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi yang memiliki kualitas di atas rata-rata. Ada kisah sedih di balik sebiji kopi, laksana para perempuan yang suaranya terpinggirkan.

Komentar beberapa pembaca yang sempat kurekam adalah tentu seorang DN menulis tidak hanya sekedar menulis, melainkan melalui riset yang cukup memadai. DN sendiri menjelaskan bahwa dia berpindah menulis ke fiksi -- dari 'laporan' riset dan essay -- karena dia ingin membuat para pembacanya selalu terkenang isu-isu yang dia angkat dalam tulisannya. Berbeda dengan membaca hasil riset yang mungkin kurang dibumbui kata-kata indah sehingga orang akan mudah lupa.

Dalam buku "Membaca Sastra" Melani Budianta dkk mengawalinya dengan mengemukakan beda antara tulisan fiksi versus non fiksi, dimana memang biasanya orang akan lebih teringat sebuah 'berita' yang ditulis dalam bentuk fiksi yang lebih menyentuh. Misalnya, kisah seorang perempuan Cina yang menjadi korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 Jakarta yang ditulis dalam bentuk cerpen akan lebih menggugah perasaan pembaca dari pada membacanya dalam bentuk berita di surat kabar.

"Menciptakan tokoh yang utopis" merupakan salah satu kenikmatan yang disukai oleh seorang DN dalam menulis fiksi. Dalam cerpennya yang berjudul "Anak", DN mengaku menciptakan seorang tokoh utopis, seorang ibu yang sedemikian rupa mempersiapkan anak gadisnya yang berusian belasan tahun untuk mengenali dirinya sendiri, mengenal gairah seksualnya, termasuk bagaimana melakukan seks yang aman dengan anggapan bahwa sang anak adalah seorang hetero, terkaget-kaget ketika sang anak mengaku bahwa dia seorang lesbian. Meskipun kaget, sang ibu -- yang tentu diciptakan oleh DN sebagai seorang feminis yang memahami segala isu seksualitas termasuk orientasi seksual -- menerima pengakuan sang anak dengan legawa, dengan penuh perhatian.

Mengingat seksualitas merupakan salah satu topik sentral yang diusung dalam buku ini, maka seorang pembaca pun mengatakan bahwa dalam buku ini, DN merayakan seksualitas. Seorang perempuan mungkin menjadi seorang korban seksual dalam satu waktu, namun bisa jadi juga seorang perempuan sangat bebas menyuarakan kebutuhan seksualnya tanpa perlu merasa tabu atau dikungkung oleh moral publik. Sebuah kebebasan yang hanya bisa diperoleh oleh seorang perempuan jika dia menginginkannya.

Mengenai 'tuduhan' bahwa mungkin DN menulis buku ini untuk pembenaran ketaklaziman -- isu lesbianisme -- DN dengan manis mengatakan bahwa memang dia tidak pernah berpikir bahwa cinta sesama jenis merupakan satu ketaklaziman. Cinta ya cinta. Titik.

Sudahkan anda memiliki buku "Perempuan Kopi"? Jika anda mengaku sebagai seseorang yang hobi membaca, yang concern terhadap isu perempuan, yang hobi minum kopi, ayo bacalah bukunya. :)

McD 13.34 220612

Beberapa komen dari lapak sebelah, yang harus kucopy-paste disini, sebelum dihilangkan secara paksa.

orangjava wrote on Jun 26
ISBN??
afemaleguest wrote on Jun 26
orangjava said
ISBN??
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
orangjava wrote on Jun 26
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
Mana??
afemaleguest wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
orangjava wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
Mau nyari di AMAZON kali aja ada yang jual....buku RI gak ada disini...kalau ada sudah diterjemahkan dalam bahasa Jejeran Sleman..seperti dari Muchtar Lubis, Pramudyia Ananta Toer...
afemaleguest wrote on Jun 26
tentu belum diterjemahkan ke bahasa asing mana pun :-D
bambangpriantono wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
afemaleguest wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
Ngopo?
*sruputt*
afemaleguest wrote on Jun 26
Ngopo?
*sruputt*
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
Oooo..RS endi?
Gek ndang mari yo
afemaleguest wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
onit wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
afemaleguest wrote on Jun 27
onit said
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
ada ... torabika ... tapi aku belum pernah nyoba kopi torabika je
^^
rengganiez wrote on Jun 26
membaca "Perempuan Kopi" sambil ngopi yo, mbak...
afemaleguest wrote on Jun 26
iyo
hahaha
rembulanku wrote on Jun 26
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
afemaleguest wrote on Jun 27
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
sshhhttt ...
eman-eman duite ... haghaghaghag
martoart wrote on Jun 30
DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku.
Sama. Malah kukira De 'Supernova'
afemaleguest wrote on Jul 4
:-)

Rabu, 25 Juni 2008

Rusmi Ingin Pulang


RUSMI INGIN PULANG adalah judul kumpulan cerpen tulisan penulis yang tak asing lagi di belantara sastrawan di Nusantara, Ahmad Tohari. Ada lima buah cerpen yang terpilih untuk dimasukkan ke dalam buku ini; yakni “Rusmi Ingin Pulang”, “Nyanyian Malam”, “Si Minem Beranak Bayi”, “Blokeng”, dan “Bulan Kuning Sudah Tenggelam” yang panjangnya bisa dikategorikan novela.
Seolah ingin menegaskan kepiawaiannya dalam tema yang membuatnya sebagai seorang sastrawan yang cukup disegani dengan triloginya yang berjudul RONGGENG DUKUH PARUK, LINTANG KEMUKUS DINI HARI, dan JANTERA BIANGLALA, dalam kelima cerpen ini pun Ahmad Tohari bermain-main dengan permasalahan yang biasa menimpa kaum perempuan yang hidup di pedesaan. Kelima cerpen yang termaktub dalam kumpulan cerpen ini semua bertutur tentang perempuan desa dengan segala permasalahannya, sebagai tokoh utama.


Dalam “Rusmi Ingin Pulang”, Tohari terlihat ingin menyentil keberadaan kaum agamawan dan tokoh masyarakat yang bukannya ikut tergerak untuk melindungi kaum yang termajinalkan (seorang perempuan yang menjadi janda karena ditinggal mati suaminya). Mereka hanya berdiam diri saja melihat para penduduk desa memojokkan sang janda, Rusmi, yang menjalani kehidupan yang sulit semenjak sang suami yang menjadi sandaran hidupnya meninggal dalam sebuah kecelakaan, sehingga dia harus pergi meninggalkan desa kelahirannya tersebut.


Dalam “Nyanyian Malam”, Tohari bercerita tentang seorang perempuan dengan tipe yang tak jauh beda dari cerpen yang pertama. Dengan cara “menghidupkan kembali aib lama dusun dimana dia tinggal”, Jebris, seorang janda beranak satu, meneruskan kehidupannya setelah diceraikan oleh suaminya, sebagai seorang pelacur. Sebuah surau yang dibangun tak jauh dari rumah Jebris, untuk menghapus aib lama, tak mempan memberi penerangan di hati Jebris. Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap hidup seorang janda yang tak memiliki pendidikan formal apa-apa, juga kemampuan menciptakan lapangan kerja?


Dalam “Si Minem Beranak Bayi”, Tohari memilih tema yang sedikit berbeda: keluguan orang-orang desa yang berpikir bahwa tugas orang tua akan berakhir setelah menikahkan anaknya, meskipun si anak masih berusia belasan tahun. Kebanggaan bahwa “anak-anaknya laris manis” lebih penting baginya daripada membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang cukup, agar memperoleh penghidupan yang lebih layak dari orang tuanya. Bahkan tatkala sang anak, dalam usia yang masih sangat muda, empat belas tahun, melahirkan bayi prematur, sehingga membuat hidupnya seperti di ujung tanduk, karena tidak mendapatkan pertolongan medis yang memadai, tidak cukup membuatnya menjadi risau.


Cerpen keempat yang berjudul “Blokeng” memiliki sentilan sosial yang amat kuat. Ketika ada seorang perempuan idiot, tak memiliki sanak keluarga, bertahan hidup dengan cara mengais sampah di pasar, tinggal di sebuah gubuk tanpa perabot, tanpa lampu, siapakah yang akan mau bertanggung jawab jika tiba-tiba perempuan ini hamil? Orang-orang yang merasa dirinya jauh lebih terhormat dibandingkan Blokeng, si perempuan idiot ini, ternyata justru jauh lebih tak bermartabat. Blokeng dengan serta merta mengatakan bahwa bukan Lurah Hadining lah yang menghamilinya, ketika sang tokoh masyarakat ini dengan bijak mengatakan kepada warganya bahwa dia akan bertanggung jawab terhadap bayi yang dilahirkan, untuk menghentikan kesaling-curigaan, saling tuduh menuduh, dan untuk menghentikan keresahan yang menimpa desa tempat tinggal mereka. Bagaimana Blokeng tahu bahwa bukan Lurah Hadining yang menghamilinya, sedangkan gubuknya dalam keadaan gelap gulita, tatkala seorang laki-laki datang malam-malam, menidurinya? Dan bagaimana pula reaksi warga mendengarkan kesaksian Blokeng?


Bulan Kuning Sudah Tenggelam” (BKST) lebih tepat disebut novela dibandingkan cerita pendek dari segi panjang cerita, sekaligus tema sentral cerita yang bercabang. Dibandingkan “Blokeng” yang pendek namun sangat kuat penokohan sang tokoh utama, “BKST” menurutku sangat kedodoran, dan terlalu bertele-tele dalam mengemukakan konflik batin sang ‘aku’, seorang perempuan bernama Yuning. Satu hal yang kurang tereksplorasi dengan utuh adalah konflik antara Yuning dengan suaminya. Di awal cerita Tohari menceritakan Yuning yang keukeuh untuk tetap memilih hidup bersama suaminya, dibandingkan dengan kedua orang tuanya yang telah renta. Sayangnya setelah sang ayah meninggal dunia, Tohari tidak mengeksplorasikan bagaimana perasaan sang suami, Koswara, setelah mertua laki-lakinya meninggal karena kepongahan Koswara. Novela ini akan menjadi ‘lengkap’ jika ada bagian percakapan antara Yuning dengan Koswara, setelah ayahnya meninggal dunia, untuk mengungkapkan bagaimana perasaan Koswara, sehingga rasa bersalah itu tidak hanya menghinggapi seorang Yuning, namun juga dibagikan kepada sang suami yang tentu juga ikut andil dalam ‘membunuh’ sang mertua. Sayangnya Tohari terlalu asyik ‘bermain-main’ dengan tokoh Yuning. Kehadiran tokoh yang bernama Sabina Salahudin di akhir cerita terasa sangat dipaksakan. Cerita sudah akan menjadi sangat menarik jika Tohari tetap berkutat di konflik utama, Yuning, sang anak angkat dari seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani, yang memilih menikahi seorang insinyur pertenakan yang miskin.


RUSMI INGIN PULANG diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Matahari, Jogjakarta, pada tahun 2004.
PT56 15.23 240608

Rabu, 18 Juni 2008

Agus Noor


Potongan Cerita di Kartu Pos adalah kumpulan cerpen ketiga karya Agus Noor yang kumiliki, setelah Selingkuh Itu Indah dan Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia. Bisa dikatakan bahwa aku suka karya-karya penulis laki-laki satu ini mengingat aku memiliki tiga buah buku hasil tulisan laki-laki yang dilahirkan di Tegal 1968 ini. Seingatku sangat jarang aku memiliki buku tulisan penulis laki-laki lebih dari satu. Eka Kurniawan dengan novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka dan mampu menghenyakkanku tatkala membacanya dari lembar ke lembar berikutnya, dan membuatku ternganga dengan kepiawaiannya merangkai alur cerita yang sangat kompleks, maju mundur dengan indahnya, pun hanya mampu memprovokasiku untuk membeli satu bukunya yang lain, yang berjudul Lelaki Harimau. Total hanya dua buah buku karya Eka Kurniawan yang kumiliki. Aku memiliki buku Pramudya Ananta Toer hanya satu buku, dan bukan satu dari buku tetraloginya yang sangat terkenal itu. Umar Kayam aku memiliki novel klasiknya yang berjudul Para Priyayi. Penulis (Indonesia) laki-laki mana lagi ya yang kumiliki bukunya? Lupa. LOL. Kayaknya memang hanya ketiga orang ini yang bukunya berada di rak bukuku. LOL. Gosh, hampir lupa, Andrei Aksana dengan Lelaki Terindahnya. :)

Kembali ke kumpulan cerpen terbaru dari Agus Noor yang kumiliki. Harus kuakui bahwa gaya menulisnya semakin matang, cerita mengalir dengan nikmat dan indah, meskipun itu merupakan tulisan surealis (yang terus terang saja, sebenarnya tidak begitu kusukai. LOL.) Tentu saja hal ini jika kubandingkan dengan kedua kumpulan cerpennya yang sebelumnya. Ada sembilan cerpen di buku ini, dan saat ini baru lima cerpen yang kubaca, karena memang kusengaja untuk tidak segera menghabiskan membaca semua cerpen itu dalam satu kali duduk. Dari kelima cerpen yang telah kubaca—masing-masing judulnya “Komposisi untuk Sebuah Ilusi”, “Sirkus”, “Cerita Buat Bapak Presiden”, “Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu” dan “Dongeng buat Pussy”—yang membuatku tercenung dalam waktu yang cukup lama setelah usai membacanya adalah “Sirkus”.

Dalam “Sirkus”, Agus Noor mengungkapkan kegundahan hatinya melihat masalah-masalah sosial yang ada di Indonesia, seperti harga BBM yang melambung tinggi yang menyebabkan harga-harga sembako pun melonjak, tak terjangkau masyarakat kecil, dan akhirnya menyebabkan puluhan juta balita kekurangan gizi, yang di kemudian hari tentu akan menghasilkan generasi penerus yang tidak mumpuni. Poor us!!! :(

Guess where I read this short story? Di Paradise Club sewaktu aku melakukan cycling. I did three things at the same time: cycling, listening to music from my MP, and reading.

Btw, belum tahu penulis laki-laki siapa lagi yang bakal kubeli bukunya untuk menambahi koleksiku. :) Banyak penulis lain tentu saja, hanya aku belum tergoda saja untuk membelinya. :)

PT56 20.59 151206

Perburuan Wirog


“Perburuan Wirog” merupakan salah satu cerpen kesukaanku dalam kumcer “Petualangan Celana Dalam”. Bukan karena aku suka berburu wirog tentunya, melainkan karena ilustrasi Nugroho Suksmanto akan daerah kelahirannya, perbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari membuatku sibuk mengira-ira seperti apakah daerah ini di dekade 1950-1960-an? Aku menebak bahwa latar waktu yang diambil oleh Nugroho dalam cerpen ini sekitar dua dekade tersebut.
Dari cerpen ini aku tahu bahwa di zaman dulu (seberapa dulu? Yah ... dimulai dari zaman kolonial Belanda tentu saja, karena kata ‘Pendrikan’ ternyata berasal dari Fendrijk, nama seorang tuan tanah Belanda, penguasa wilayah barat daya kota Semarang) Pendrikan merupakan kawasan tempat tinggal para priyayi, sedangkan Kampung Magersari merupakan tempat tinggal para pendatang yang konon non priyayi. Kedua kawasan ini dibatasi oleh sebuah sungai yang disebut ‘Ngemplak’, bukan jalan Indraprasta seperti yang kutulis di postinganku sebelum ini yang kuberi judul “Petualangan Celana Dalam”. Apakah waktu itu daerah Pendrikan hanya melingkupi mulai dari Jalan Sugiyopranoto sampai jalan yang sekarang disebut Jalan Indraprasta? Dimanakah sungai yang disebut ‘Ngemplak’ oleh Nugroho?
Nampaknya bukan, karena di sebelah utara jalan Indraprasta seingatku daerah itu juga masih disebut daerah Pendrikan. Sekarang dibuktikan dengan keberadaan SD Pendrikan Utara 03-04 yang terletak di mulut Jalan Abimanyu; SD Pendrikan Utara 03-04 ini menghubungkan Jalan Abimanyu dengan Jalan Indraprasta. Seingatku pula waktu aku masih kecil (waktu duduk di bangku SD), kadang-kadang aku diajak shalat Jumat oleh Ibundaku di masjid milik SD/SMP/SMEA Muhammadiyah yang terletak di pinggir Jalan Indraprasta, sebelah Utara. Waktu dulu disebut-kalau aku tidak salah ingat-Muhammadiyah Pendrikan. Tahun 1950an, my dearest late Dad pernah menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah ini. Entah mengapa kemudian beliau tak lagi menjadi guru/Kepala Sekolah, dan bekerja di Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia).
Sedangkan daerah yang disebut Kampung Magersari, setahuku sekarang ini hanya di kawasan pemukiman di antara dua jalan raya, Jalan Sugiyopranoto dan Jalan Indraprasta. Sesempit itukah kawasan yang dihuni oleh para pendatang yang non priyayi tersebut?
Nampaknya aku benar-benar terhipnotis oleh Nugroho sehingga sekarang setiap kali aku berangkat bekerja melewati Jalan Indraprasta, aku selalu celingukan mencari sungai yang disebutnya sungai ‘Ngemplak’. Saking biasanya aku melewati jalan ini, aku tidak pernah memperhatikan memang ada dua buah sungai, yang satu lebih lebar, yang lainnya lagi lebih sempit. Ini berarti Pendrikan terletak di sebelah Timur ‘sungai’ Ngemplak (kalau masih bisa disebut ‘sungai’ sih, karena sekarang ‘sungai’ ini terlalu sempit, sehingga hanya menyerupai selokan. Dengan Selokan Mataram yang membatasi daerah UGM dengan pemukiman Jalan Kaliurang saja, ‘sungai’ Ngemplak masih lebih sempit.) sedangkan Kampung Magersari terletak di sebelah Barat ‘sungai’ Ngemplak.
Dan dari hasil celingukan tatkala berangkat bekerja, menyusuri jalan Indraprasta, aku melihat sebuah gapura yang bertuliskan Jl EMPLAK INDRAPRASTA. Nah, ini diakah daerah perbatasan tersebut? Di bawah ini gambar gapura tersebut. Di sebelah kiri ada sebuah sungai.

Hal ini juga membuatku benar-benar ingin kembali ke dekade aku lahir-mungkin di tahun-tahun tersebut setting time yang dipilih oleh Nugroho-untuk melihat what that area looked like; memandangnya dengan menggunakan kacamata seorang Nana saat sekarang ini; kalau bisa mengabadikannya dalam bentuk jepretan foto. Apakah ‘sungai’ ini sejak dulu hanya selebar itu? Ataukah karena perubahan alam-yang sering disebabkan oleh manusia-sungai Ngemplak sekarang ini menjadi begitu sempit. Juga aku ingin tahu dimanakah letak ‘papringan’ yang konon sering terdengar tangis seorang bocah perempuan mungil?
PT 56 21.15 050807

Jadilah Orang Cina


 

“Jadilah orang Cina!” (Be a Chinaman!) is a title of one short story in PETUALANGAN CELANA DALAM. As in my previous post, the story has setting place Semarang, especially Pendrikan and Magersari, where in the boundary of those two areas the writer of the book, Nugroho Suksmanto, was born. Let me quote the special stanza printed as an opening of the story.


Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha aku harus jadi orang “Cina”. Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka.


(I remember my father’s advice very well. If I want to be a businessperson, I have to be “a Chinaman”. He meant not only to socialize with Chinese and understand their behavior, but I also have to comprehend their culture and apply it in my daily life so that I can become successful as they are.)
In this story, Nugroho narrated a teenage boy’s experience before Ramadhan month came. Several weeks before Ramadhan, the dwellers of Magersari area were busy to do many activities to collect money to welcome Lebaran day, the biggest Holiday for Muslim. It had been a tradition to celebrate Lebaran, people wore new clothes, went sightseeing around the town, ate and drink to their heart’s content. To do all of those things, people needed much money.


What kind of activities did people in Magersari do to collect money? Such as making toys of ‘warak ngendog’ and piggy bank, making cookies, sewing clothes, and then they sold them in DUG-DER. Meanwhile for some naughty children, they tried their luck to collect money by gambling! Some games mentioned by Nugroho are ‘dadu kopyok’, ‘udar-bangkol’, ‘cap-sa’.


Talking about ‘dadu kopyok’ I remember I saw it done too in my dwelling place in 1970s, Bulu Setalan, on the south of Magersari. It was done by a group of people, adults, close to my house. (FYI, Bulu Setalan is a very crowded area where many small houses are built very close to each other, leaving no space for yard. In that era, my parents were one of two people in our alley who had televisions. No wonder in the evening, my house was always crowded by neighbors who wanted to watch television. 

This made me able to sneak out of the house to watch people gambling.) Curiously, I came close to it and watched those people playing. I thought it was just a kind of game. When I saw someone win, he could get much more money than the money he put on one number, I was amazed. Was it that easy to get much money with only a little capital? This made me think of taking some money from my piggy bank to join the game. Unfortunately, I didn’t see any other children around my age joining it. This made me doubtful. However, I was really tempted by the easy way to get much money. As a little child, I didn’t have any access to get much money in a short time besides asking for it to my parents. My relatives lived in one town in North Sulawesi, Gorontalo. This hampered me to enjoy one thing that other children did on Lebaran holiday: getting some pocket money from their grandparents, uncles, aunties, cousins, etc.


Thinking of the much money I would get led me to one thing: I had to take some money from my piggy bank! After I won, I could put my money back to my piggy bank, right? Among many neighbors watching television in the living room of my house, I sneaked into a special place where I hid my piggy bank, in one cupboard located in the kitchen. I did it in the dark so that I would not attract anybody’s attention. When making a small hole at the bottom my piggy bank carefully, but nervously (I felt like I had done a very big sin  stealing my own saving in my own piggy bank), I was shocked by someone’s voice, “What are you doing in the dark Na? Why didn’t you turn on the lamp?”


I almost fainted. Huh, it was my brother!!! Feeling shy because he caught me in the act, but also feeling sure of what I was doing, I told him my plan. (In fact, he had watched me secretly for some time while I watched those adult people gambling.) Unfortunately he didn’t agree with me. He said, “That is called JUDI (Gambling). It is not just a common game! And you know that JUDI is HARAM in our religion. Don’t do this! No one is rich only because of gambling, our religion teacher said that, right? Our parents will be angry too to know this.”


Uh … I was very disappointed. However, as someone raised in a very strictly religious family, of course I was afraid of making sin, especially making my parents angry!


So? I never joined it even though I was very tempted. I still watched people playing it around my house until my dad found out and he forbade me to go out in the night to see those people. 


P.S.: What is the relationship between the title of the short story with gambling? Read the story by yourself, will ya? :)


PT56 21.20 150807


-------------------------------
1 Warak ngendog is a special creature that is believed to represent three different ethnic groups in Semarang: Javanese, Chinese and Arabian. Its head is like a dragon (Chinese), its body is the combination of buraq (a special animal believed to take Prophet Muhammad to Sidratil Muntaha => Arabian) and goat (Javanese).


2 Dug-der is a special event held some days before Ramadhan month. This is like a fair done in the evening. In the event, people sell many things, from children toys, clothes, various kinds of food—especially dates are sold because Muslim people believe that to break their fast during Ramadhan month, their fasting will be blessed more if they eat dates

Minggu, 08 Juni 2008

Petualangan Celana Dalam 2


 

Hari Selasa 24 Juli kemarin aku memintaku siswa Elementary Class 2 untuk membawa buku bacaan favorit masisng-masing karena topik Lesson 3 adalah "My Favorite Book". Tak ketinggalan tentu aku pun membawa beberapa buku favoritku. Yang kubawa: "Si Parasit Lajang" kumpulan essay Ayu Utami (always become my favorite, since I bought it in 2003), "Lelaki Terindah" novel dengan topik yang masih bisa dianggap lumayan kontroversial tulisan Andrei Aksana, "Melampaui Pluralisme" hasil karya Hendar Riyadi, dan "Srinthil" Media Perempuan Multikultural edisi Oktober 2003.

Dari hasil diskusi tentang buku favorit masing-masing, seorang siswa bertanya padaku apakah aku telah membaca buku yang berjudul "Petualangan Celana Dalam". Mungkin aku pernah mendengar judul buku ini, namun aku belum membacanya. Ketika aku bertanya ke Berti, nama siswa itu, siapa nama penulisnya, dia lupa. Seorang siswa lain menyebut nama "Djenar Maesa Ayu" yang tentu saja langsung tidak kusetujui. Meskipun aku tidak memasukkan nama Djenar sebagai salah satu penulis kesukaan, aku memiliki semua buku tulisannya. (atau bisa juga dibalik, meskipun aku memiliki semua buku tulisan Djenar, dia tidak kumasukkan ke dalam salah satu penulis kesukaanku. LOL. Dasar guru Bahasa iseng. LOL.) Kebetulan Berti memiliki buku tersebut, yang tentu saja kemudian membuatku memintanya untuk membawanya ke kelas pada pertemuan berikutnya, Kamis 26 Juli.

Hari Kamis, Berti tidak lupa membawa buku yang ternyata berisikan kumpulan cerpen tulisan Nugroho Suskmanto yang kelahiran Semarang. Bahkan dengan baik hatinya dia pinjamkan buku itu kepadaku. Waktu aku bertanya, "Berti, do you remember how much it costs?" Dia lupa, dan mengatakan, "You can borrow it, Ma’am. I have finished reading it." Tentu saja hal ini membuatku bersuka cita. LOL. Well, secara sekilas tatkala membaca salah satu cerpen yang dijadikan judul buku, "Petualangan Celana Dalam", aku langsung suka dengan cara menulis Nugroho. Hal ini membuatku berpikir untuk membeli buku ini. Namun kalau Berti meminjamkan buku ini kepadaku, berarti aku bisa segera membacanya, tanpa perlu menunggu aku harus ke toko buku dulu untuk membelinya, dan aku harus menunggu waktu luang yang akan bisa kupakai untuk pergi ke toko buku, isn’t it great?

"Perburuan Wirog" adalah cerpen yang dicetak di halaman pertama. Tentu karena alasan judul ini kurang komersil akhirnya tidak dipilih sebagai judul buku. LOL. Nugroho yang kelahiran Semarang menunjukkan kecintaannya pada kota kelahirannya ini, plus ingatan yang sangat bagus akan masa kecil yang dia lewatkan di satu daerah yang disebut sebagai batasan perbatasan Pendrikan dan Magersari. Sekarang tentunya yang disebut sebagai Jalan Indraprasta, jalan yang selalu kulalui tiap hari, tatkala akan berangkat kerja, maupun berangkat ke Paradise Club ataupun ke warnet langganan.

Membaca "Perburuan Wirog" serasa melemparkanku kembali pada masa kecilku, sekitar tahun 1970-an. Aku tinggal di satu daerah yang disebut Bulu Setalan, terletak di sebelah Selatan Magersari. Masa kecil (baca: masa SD) cukup kulewatkan di daerah Bulu Setalan pula. Nama Magersari dan Pendrikan tentu sangat familiar bagiku. Namun berhubung untuk mencapai Magersari, aku harus menyeberang jalan besar, Jalan Sugiyopranoto, aku tidak pernah keluyuran kesana. Apalagi kakakku satu-satunya yang dengannya aku banyak menghabiskan masa kecilku sambil bermain kelereng, "umbul", gobak sodor, layang-layang, naik sepeda, sampai ke bekel, dakon, lompat tali, tipe orang rumahan. Mana pernah dia ngajakin aku nyebrang jalan raya?

Meskipun begitu aku masih ingat aku pernah diajak ke salah satu teman my dearest Mom ke sana, naik becak. Jalanan yang lengang, (maklum, masih tahun 1970-an), suasana yang asri, angin semilir mengalir lembut (again, it was still in 1970-an), membuatku menikmati kunjungan itu.

Membaca beberapa cerpen dalam "Petualangan Celana Dalam" benar-benar membuatku sadar betapa aku mencintai kota kelahiranku ini. Kota yang memiliki landmarks Tugumuda dan Lawangsewu. Kota yang cukup damai, karena merupakan salah satu kota yang tidak dilanda kerusuhan yang hebat, tatkala kota-kota lain menderita hal tersebut di tahun 1998, masa menjelang runtuhnya Orde Baru.

Membaca "Petualangan Celana Dalam" pun mengingatkanku atas satu novel detektif anak-anak yang berjudul NONI. Aku dulu sangat menyukai NONI, bukan hanya lantaran lakonnnya seorang anak perempuan (anak perempuan jadi jagoan? Wah NANA banget deh, huehehehe ...) namun karena setting place yang mengambil nama-nama daerah Semarang, mulai dari Krapyak, Karangayu, Gombel, Wonodri (sayang Pusponjolo tidak disebut LOL, namun "Pasar Bulu" tentu sempat disebut) membuat novel anak-anak ini terasa sangat membumi, dibandingkan dengan Lima Sekawan tulisan Enid Blyton (yang juga sangat kusukai waktu aku duduk di bangku SMP) yang tentu saja mengambil setting place London, Hampshire, dan sebagainya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, bagi yang hobby membaca apalagi yang hobby koleksi buku, beli yuk buku yang berjudul "Petualangan Celana Dalam" ini? Terutama yang asli Semarang, dan hobby bernostalgia masa kecil, kumpulan cerpen ini cukup menghibur, dan menemani kita kembali mengingat masa lalu.

("Mengapa masa kecil selalu terasa lebih indah dan membahagiakan dibanding masa sekarang?" I keep asking myself. Jawabanku sementara adalah, "Masa kecil adalah masa tanpa beban berat, such as harus bertanggung jawab mengerjakan ini itu, cara berpikir anak kecil yang innocent tidak pernah berpikir yang sulit-sulit.")

PT56 10.08 280707

Petualangan Celana Dalam

PETUALANGAN CELANA DALAM is the first collection of short stories (in Bahasa Indonesia, recently we call this kind of book as KUMCER, an acronym of KUMpulan CERpen) of Nugroho Suksmanto. The book was published by Gramedia. The first printing was in October 2006. This writer was born on 12 November 1952 in the boundary of Pendrikan and Magersari, Semarang Tengah. Due to his birth place, I think it is not surprising if he uses some areas in Semarang as setting place in some of his short stories.
This book consists of seventeen short stories. The first five short stories—“Perburuan Wirog”, “Lolong Panjang”, “Tidak untuk Bermain Catur”, “Tuhan Meminjam Tanganku” and “Jadilah Orang Cina!”—have Semarang as the setting place. They also have similar setting time, during the decade of 1960s. Although “Petualangan Celana Dalam” was the first short story I read after I borrowed it from a student of mine, and I directly got strongly attracted to this book due to the same story whose title was chosen to be the title of the book, I must say that I was really enchanted by this KUMCER because of those five short stories. The “I” character was a little boy who was a teenager. They really reminded me of my own childhood, especially in 1970s. Everything reminding us of our childhood is always interesting? Perhaps because I can say that my childhood left a happy era in my memory.
The other twelve short stories have various setting place and time, from Jakarta, until some cities abroad, such as Belgium and the Netherlands especially for the one entitled “Putus Cinta di Belgia”. They have various topics too, such as the gloomy experience of someone accused guilty due to G30S/PKI, affair with other people, an innocent and pretty housemaid, mental breakdown, etc. Sixteen of the stories have male characters as the “I” (the first person’s view), and one has female as the main characters, as the central character. It is no wonder because the writer is a male. The only story with female as the main characters—entitled “Lukisan-Lukisan Perasaan”—seemed, in my personal opinion, very forced by the writer to give a different impression toward the readers. Unfortunately, apparently the writer didn’t dig out more deeply the emotional and psychological conflicts of the female characters. I am of opinion because the writer is a male. Comparing this short story to short stories written by Djenar Maesa Ayu with similar topics, I can see the weak investigation of women’s emotional and psychological conflicts done by Nugroho Suksmanto. (In the PREFACE of the book, Nugroho personally thanked Djenar for her advice to publish a book.) His strength lies in the male characters with their inner problems.
However, as a whole, I want to recommend my blog visitors to read this book. This is really entertaining and a bit contemplative for several stories.
PT56 13.57 140807