Searching

Jumat, 22 April 2011

T R I F L E S


 
'TRIFLES' is always in the curriculum of DRAMA ANALYSIS CLASS that I handle in the even semester.


PLOT


This one-act drama written by Susan Glaspell tells us about a murder of a husband, John Wright. His wife, Mrs. Wright -- her maiden name was Minnie Foster -- was the suspect since she was the last person seen when a neighbor -- Mr. Hale -- found Mr. Wright dead in his house. The following day after the finding, Mr. Hale came back to the house together with the Sheriff and County Attorney to gather evidence -- either to make themselves convinced that Mrs. Wright was the murderer or on the way around: they might find fingerprints of the 'real murderer'. These three men were accompanied by Mrs. Hale -- the wife of the neighbor -- and Mrs. Peter -- the wife of the Sheriff. The two women were about to collect some personal belongings of Mrs. Wright who apparently was already in custody; these personal belongings were, among other things. clothes, some stuff to quilt, etc.


Glaspell intentionally showed the contradictory traits between men and women: the three men paid more attention to anything 'big' or 'serious' to collect evidence, because the crime done was also a serious one: murder. On the contrary, the two women took a very close look at some 'trivial things (alias 'trifles') such as, preserves, bread set, a large sewing basket and a piece cloth Mrs. Wright was quilting. In the end, it turned out that the women even found the evidence that strongly showed Mrs. Wright was the murderer from those trifles, while the men did not find any. However, to show 'loyalty to the same gender' -- as accused by the County Attorney when Mrs. Hale defended Mrs. Wright when the County Attorney said bad things about how messy the kitchen of Mr. Wright's house was -- the two women kept the evidence for themselves.


DESPERATE HOUSEWIFE -- an analysis



From the conversation between Mrs. Hale and Mrs. Peters, one can conclude that John Wright had a contradictory trait from his wife, Minnie Foster. Before marrying John, Minnie was a very cheerful girl, singing in a choir, wearing pretty dresses as well as colorful ribbons on her hair. Meanwhile, John belonged to a very quiet man. He refused the offer of Mr. Hale to 'go on a party telephone' by saying that 'folks talked too much'. Apparently he didn't like noise at all.


Because of that, it can be concluded that during their marriage -- for about thirty years -- Minnie was forced to be someone else who was not herself in the past. She could not sing, she could not enjoy having a company -- let us say when a neighbor dropped by at her house. Mrs. Hale herself as a neighbor said that she did not really like visiting the Wrights' house since John did not like it.


When the two women found a dead canary hidden inside a box in the sewing basket, they directly drew a conclusion what made Minnie killed her husband. John killed Minnie's only entertainment. (Mrs. Hale said that only a year ago Minnie bought the canary, 29 years after the wedding, after 29 years living in a quietness and being repressive.) It can be interpreted that John killed Minnie's soul. No longer could Minnie control her emotion, she killed her husband.


HISTORICAL BACKGROUND



The choice of 'kitchen' as the main setting by Glaspell refers to the setting considered as the only women's sphere in that era. 'Trifles' was written in 1916, the decade considered to be important before American women got their right to vote in 1920 after struggling to get it since the first summit in 1848. Despite the fact that women had spent some decades for that demand, the government did not really pay attention to it.


Through this play, Glaspell wanted to criticize the government that it was high time for them to give right to women to be involved in 'men's spheres'. Although 'only' gathering evidence through trivial things -- homemaking stuff -- in the so-called unimportant setting, the two women found evidence as well as the motif why Minnie Foster killed the husband.


A woman indeed will be able to do anything that people might think impossible when she is cornered, when she is forced.


PT56 21.24 220411

Jumat, 04 Maret 2011

Gender Voices in Literature


Tahun 1998 konon dianggap sebagai awal mula digulirkannya tema-tema yang mengusung suara perempuan. SAMAN, novel pertama karya Ayu Utami, didapuk sebagai karya sastra yang mewakili tema ini. Dalam novel ini Ayu Utami mengkritisi pandangan masyarakat yang mengkultuskan keperawanan perempuan lewat keempat tokoh sentral yang kebetulan perempuan: Laila, Shakuntala, Yasmin, dan Cok. Laila yang lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan tingkat relijiusitas lumayan tinggi dikisahkan menghadapi dilemma tatkala ingin mendobrak kesakralan selaput dara dengan usahanya untuk melakukan sexual intercourse dengan kekasihnya yang kebetulan adalah suami perempuan lain. Cok dikisahkan sebagai pembangkang tentang hal ini dengan memiliki banyak pacar dan sexual intercourse jelas bukan hal yang tabu untuk dia lakukan. Sedangkan Yasmin – a too good to be true character – akhirnya pun menjerumuskan dirinya dengan terlibat pengalaman seksual dengan Saman, sang mantan frater. Shakuntala – mungkin karena kebenciannya pada kaum laki-laki yang dia anggap sebagai pangkal mula permasalahan yang menimpa kaum perempuan – merusak selaput daranya sendiri. Jika di buku yang kedua, LARUNG, Ayu Utami mengisahkannya sebagai seorang lesbian tentu sangat masuk akal. Kaum feminis radikal menyodorkan lesbianisme sebagai opsi agar sama sekali tidak terlibat dengan kaum laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.

SAMAN kemudian diikuti oleh novel-novel maupun cerita pendek cerita pendek karya penulis perempuan lain dengan menyuguhkan tema yang sama: mendobrak status quo posisi perempuan, baik dalam rumah tangga, maupun dalam relasi hubungan seksual. Beberapa nama penulis perempuan yang mengikuti ‘aliran’ ini misalnya Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu.

Bagaimana dengan penulis laki-laki? Adakah yang kemudian juga menghasilkan karya yang memiliki tema yang sama? Apakah mereka pun menyodorkan wacana dimana si tokoh perempuan bisa dikategorikan sebagai seorang Laila, Yasmin, Cok, atau Shakuntala? Dengan kata lain perempuan adalah subjek dalam menentukan kehidupannya sendiri. Terlepas dari campur tangan dan pandangan laki-laki tentang posisi perempuan yang konvensional.

Tulisan ini akan membandingkan tokoh perempuan dalam cerita pendek berjudul “Janji Jalu” karya Dewi Ria Utari dan “Mengawini Ibu” karya Khrisna Pabhicara.

JANJI JALU

Ada dua tokoh sentral dalam cerpen ini, Galuh dan Nyi Pamengkas, sang Bude. Galuh yang sejak kecil dibesarkan oleh sang Bude – karena kedua orangtuanya dikisahkan merantau ke Abu Dhabi demi masa depan yang lebih menjanjikan namun kemudian ternyata keduanya dikabarkan meninggal dunia dalam sebuah kebakaran yang herannya tidak melukai sang majikan – adalah contoh tokoh perempuan yang masih ‘hijau’,  yang tidak mengenal karakter laki-laki dengan baik. Dalam kultur patriarki tidak terhitung jumlah laki-laki yang hanya memanfaatkan keluguan seorang perempuan demi keberhasilan sang laki-laki itu sendiri.

Nyi Pamengkas merupakan tokoh kebalikan dari Galuh. Pengalaman hidupnya mengajarkannya bagaimana dia bisa seolah-olah menjadi ‘korban’ ketamakan kaum laki-laki, namun sebenarnya dia mengambil keuntungan dari ‘sandiwara’ yang dia mainkan itu. Dia memiliki sejumlah laki-laki yang lebih muda darinya untuk klangenan. Para laki-laki itu berpikir mereka bisa mendapatkan keuntungan dari Nyi Pamengkas tanpa mereka sadari bahwa Nyi Pamengkas lah yang paling memperoleh untung dari hubungannya dengan para ‘klangenan’ itu: dia senantiasa awet muda dan memesona meski usianya telah lebih dari kepala lima.

Nyi Pamengkas yang seorang dalang tersohor ingin menurunkan kepiawaiannya kepada Galuh; tidak hanya dalam bidang mendalang namun juga bagaimana bersikap menghadapi laki-laki.

MENGAWINI IBU

Tokoh sentral dalam cerita pendek ini adalah seorang laki-laki yang tidak terima tatkala melihat ayahnya selalu dan selalu menyakiti hati ibunya dengan membawa pulang para perempuan untuk bercinta di rumah. Konon ‘kebiasaan’ ini dimulai ketika sang ibu telah kehilangan kemampuan untuk ‘serve’ sang ayah di tempat tidur.

Sang anak laki-laki selalu memprotes sang ibu yang diam saja dan tidak pernah memprotes tindakan sang ayah yang nampak telah menafikan perasaan istrinya. Sang ibu dikisahkan sebagai seorang perempuan yang senantiasa memiliki berjuta maaf dan berjuta cinta untuk memahami apa pun yang dilakukan oleh sang suami. Namun toh sang anak sering juga melihat luka di mata sang ibu, yang coba dia samarkan dengan kata-kata bijak penuh maaf.

Hingga satu kali sang ibu meninggal dengan membawa luka di hati. Sang anak pun berjanji pada diri sendiri untuk membalas dendam kepada sang ayah, meski sang ibu melarangnya untuk membalas dendam karena biar bagaimanapun, laki-laki berhidung belang itu adalah ayahnya. Dia ternyata tidak akan pernah bisa memaafkan tindak-tanduk ayahnya yang telah membunuh ibunya.

“Jangan tiru kelakuan ayahmu,” pesan sang ibu tetap terngiang di telinga sang anak.

Dia memang tidak dikisahkan menelantarkan istrinya secara psikologis kelak di kemudian hari. Dendamnya kepada ayahnya dia salurkan dengan cara meniduri perempuan-perempuan yang menjadi ‘ibu barunya’,  tanpa sepengetahuan sang ayah tentu.

TOKOH PEREMPUAN DALAM KEDUA CERPEN

Dari ringkasan kedua cerita pendek di atas kita bisa menyimpulkan bahwa pengarang laki-laki dan pengarang perempuan mendudukkan tokoh perempuan dalam posisi yang berbeda. Dewi mengisahkan Nyi Pamengkas yang perkasa, yang menguasai setiap permasalahan dengan kelihaiannya sebagai seorang perempuan. Dia tidak kehilangan kontrol emosi ketika Galuh mengkhianatinya dengan memberikan gunungan emas kepada Jalu, salah satu laki-laki klangenannya yang ternyata menipu Galuh. Bahkan dari kasus ini, dia mengajari Galuh bagaimana bersikap menghadapi laki-laki. Nyi Pamengkas adalah sang subjek.

Sedangkan Khrisna tetap memberikan karakter perempuan yang dipuja dalam kultur patriarki, seorang perempuan yang maha pemaaf dan maha pecinta. Perempuan sang maha ini – tak peduli bagaimana pun caranya meyakinkan sang anak bahwa cinta dan pengertian adalah segalanya dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan catatan pihak perempuan lah yang didudukkan dalam posisi “the most loving, loyal, and understanding angel” – akhirnya dikisahkan meninggal karena tak mampu lagi menahan duka. Kematian yang membebaskan segala duka duniawi? Apa pun itu, tokoh perempuan di sini adalah objek. Sang ibu objek permainan sang ayah. Tokoh-tokoh perempuan yang kemudian menjadi ‘ibu-ibu’ berikutnya adalah permainan sang anak dalam membalas dendam kepada sang ayah.

READER-RESPONSE THEORY

Tatkala sebuah karya diterbitkan dan sampai ke tangan pembaca, para pengikut teori ‘the death of the author’ pun berpesta-pora bagaimana mereka akan menanggapi karya tersebut. Seorang pembaca yang mengimani ideologi feminisme akan sangat memuja karya-karya yang memiliki tema seperti cerpen JANJI JALU, tokoh perempuan adalah subjek. Karya yang mendobrak status quo tentang posisi perempuan yang diobjekkan, yang hanya bisa menangis meski menggunakan ‘cinta’ sebagai tameng.

Meski tentu saja tak bisa kita negasikan bahwa dalam kultur yang masih saja mengunggulkan patriarki ini tokoh perempuan yang merupakan objek bisa jadi merepresentasikan kondisi perempuan dalam banyak kasus di tengah masyarakat. Masih banyak kasus perempuan yang membiarkan dirinya menjadi korban yang diam saja tatkala sang suami berbagi kelamin dengan perempuan lain. Apalagi dengan embel-embel label “perempuan merupakan makhluk sempurna,  yang tidak pernah menyadari kesempurnaannya, sebagai satu-satunya kelemahannya.” Perempuan yang dininabobokkan dengan pernyataan “engkaulah ibu semesta dimana pusat segala cinta dan maaf ada dalam dirimu.”

KESIMPULAN

Laki-laki dan perempuan bisa saja mengusung tema yang sama, menyodorkan suara perempuan. Namun, hasilnya bisa jadi tetap terjebak dalam kultur yang telah menjajah kaum manusia sejak zaman yang entah.

GL7 11.44 040311

Kamis, 08 Juli 2010

Perempuan Sejenisku

Coleman

 
PEREMPUAN SEJENISKU
Wanda Coleman
(diterjemahkan secara bebas oleh seorang Nana Podungge)

kuikuti lekuk liku penisnya
dengan lidahku

ada warna tertentu yang dimiliki para perempuan
sepertiku, yang biasa dilihat oleh kaum lelaki

berada di lapisan paling bawah dimana tekanan
terasa sangat kuat, berupa kaum yang paling tak diingini
hingga rasanya mati jauh lebih baik
begitu kupikir

ada warna tertentu dimana perempuan
kaumku dipandang oleh lelaki kulit hitam
sebagai orang suci
sebagai ibu
sebagai saudara
sebagai pelacur
namun yang paling sering sebagai musuh

ini bukanlah salah kami, kami adalah korban
yang memilih untuk terus berjuang dan terus hidup

ada warna tertendu dimana perempuan
kaumku dipandang oleh lelaki kulit putih
sebagai makhluk eksotis
sebagai musuh
namun yang paling sering sebagai pelacur

luka yang cukup membuatku menangis
namun tak kulakukan

kuikuti lekuk liku penisnya
dengan lidahku

akankah kupandang
matahari!


Gombel Lama 13.13 delapan juli duaribu sepuluh

Satu hal penting untuk dikemukakan di awal yakni Wanda Coleman adalah seorang pengarang perempuan berkulit hitam sehingga akan mudah bagi kita untuk melakukan interpretasi atas puisinya ini. Coleman menuliskan duka hatinya terlahir sebagai perempuan berkulit hitam di Amerika Serikat.

Sejarah tentang praktek perbudakan di negeri Paman Sam selama kurang lebih duaratus tahun tentu sangat menentukan bagaimana masyarakat dimana memperlakukan ‘saudara-saudara’ mereka yang berkulit hitam. Jika sampai sekarang saja kaum perempuan berkulit putih disana masih merasa dinomorduakan, apalagi kaum perempuan berkulit hitam. (Bukti, Hillary Clinton tidak disukai ketika dia menominasikan diri untuk maju ke pemilihan presiden beberapa tahun lalu. Bukti lain, di pertengahan tahun 1980-an, tatkala salah seorang dosenku – perempuan – mengambil gelar master dan doktor di Amerika, dia mendapat applause yang sangat hebat ketika dia memperkenalkan posisi dia di almamaterku sebagai kepala jurusan Sastra Inggris. Konon di Amerika sana, posisi kepala jurusan, apalagi Dekan dan di atas itu, sangatlah ‘maskulin’ alias dipegang oleh kaum berpenis.)

Maka, jika masyarakat Amerika bisa dibagi menjadi kasta-kasta tertentu (berdasarkan jenis kelamin, plus warna hitam dan putih, bukan berdasarkan race yang banyak dijumpai di sana), maka ada empat kasta utama. Paling tinggi adalah laki-laki berkulit putih, di bawahnya, perempuan berkulit putih, di bawahnya lagi laki-laki berkulit hitam, dan yang paling bawah adalah perempuan berkulit hitam. Inilah yang dimaksud oleh Coleman dalam puisinya pada baris kelima dan keenam being on the bottom where pressures are greatest dan juga least desirable.

Laki-laki berkulit hitam sendiri menganggap rendah perempuan berkulit hitam, seperti yang terlihat pada bait keempat. Ada saat-saat tertentu dimana perempuan berkulit hitam dianggap sebagai orang suci, yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah mendendam, sebagai satu sikap menerima nasib terlahir sebagai perempuan berkulit hitam; mereka harus menerima itu. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai seorang ibu; di satu sisi sebagai ‘mesin pembuat anak’ karena pada saat-saat tertentu kaum kulit hitam mengidolakan perempuan berkulit hitam yang subur. Pada zaman perbudakan dulu, para pemilik budak memaksa budak-budak perempuannya untuk dihamili oleh budak-budak laki-lakinya – atau terkadang para pemilik budak itu meniduri budak-budak perempuannya sendiri – untuk memiliki budak lebih banyak. Hal ini dianggap lebih murah daripada harus membeli budak baru di pasar budak. Anak-anak yang dilahirkan oleh perempuan-perempuan budak otomatis akan menjadi budak pula, dan menjadi hak milik sang tuan (pemilik budak). Di sisi lain, perempuan berkulit hitam dianggap sebagai ibu yang seharusnya memberi pengayoman kepada kaum lelaki berkulit hitam, tatkala mereka membutuhkannya. Hal ini sama dengan ‘peran’ sebagai ‘sister’. Sedangkan peran sebagai ‘pelacur’ ini juga merupakan ‘warisan’ zaman perbudakan dulu; perempuan berkulit hitam – sebagai kelas masyarakat yang paling hina – harus mau diapakan saja. Pada baris terakhir bait keempat, but mostly as the enemy menjelaskan bagaimana tatkala kaum laki-laki kulit hitam frustrasi atau marah kepada kaum kulit putih, namun tak berani mengungkapkan hal tersebut, maka perempuan kulit hitamlah yang menjadi ‘bemper’ alias korban sasaran kemarahan laki-laki kulit hitam. Sebagaimana kaum kulit putih menyiksa kaum kulit hitam (terutama laki-laki) di masa perbudakan dulu, begitu pula laki-laki kulit hitam menyiksa perempuan kulit hitam.

Bait keenam menggambarkan bagaimana laki-laki kulit putih memandang perempuan kulit hitam: eksotis, seperti kita tahu kaum kulit putih mengidolakan warna ‘tan’, sehingga perempuan kulit berwarna nampak eksotis di mata mereka; enemy meski menganggap mereka eksotis, namun karena selama berabad-abad kaum kulit hitam dianggap hina, bahkan kadang lebih hina dibandingkan binatang (dalam novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe perlakuan ini jelas digambarkan), laki-laki kulit putih tak berani melakukan tindakan yang lebih daripada hanya memandang mereka dari kejauhan, atau menyiksa mereka sebagai ungkapan kemarahan yang tidak jelas sebabnya mengapa. Atau paling banter adalah menganggap mereka sebagai but mostly as whores. Puisi ini ditulis ketika perbedaan kulit putih dan kulit hitam masih sangat mendalam, dimana laki-laki kulit putih akan sangat dilecehkan oleh masyarakat jika jatuh cinta kepada perempuan berkulit hitam. Jika yang sebaliknya yang terjadi, perempuan kulit putih jatuh cinta pada laki-laki kulit hitam, sang laki-laki akan dibunuh dengan cara digantung di pohon ramai-ramai oleh kaum kulit putih. (lynching )


lynching

Dalam versi Bahasa Inggris, dengan sengaja Coleman menulis i yang berarti saya dengan huruf kecil untuk menunjukkan betapa perempuan berkulit hitam tidak memiliki arti apa pun di tengah masyarakat Amerika. blow job yang dilakukan oleh perempuan kulit hitam (seperti yang tertulis pada larik kesatu dan kedua, kemudian diulangi lagi pada larik keduapuluh lima dan duapuluh enam) menunjukkan rendahnya posisi perempuan berkulit hitam.

Bait terakhir merupakan tanya Coleman akankah ada masa depan yang cerah bagi perempuan kaumnya.

GL7 13.59 080710

Interpretasi dalam Bahasa Inggris bisa diklik disini Women of My Color

Senin, 28 Juni 2010

Topeng Nalar versus North Country


Dalam tulisan kali ini aku ingin membandingkan sebuah cerpen berjudul “Topeng Nalar” karya Dewi Ria Utari dengan sebuah film yang berjudul “North Country”. (untuk sinopsis cerita film ini, klik saja http://nana-podungge.blogspot.com/2009/03/north-country.html )




Satu hal yang membuatku tiba-tiba tertarik untuk membandingkan kedua cerita ini adalah kedua cerita tersebut memiliki tokoh utama yang sama, yakni seorang single parent yang memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki yang kedua perempuan. Lebih mengerucut lagi, anak pertama dilahirkan tanpa tahu siapa sang ayah, sedangkan anak kedua dari seorang laki-laki yang dengan resmi menikahi sang tokoh perempuan. Perbedaannya adalah, tokoh Josey Aimes dalam “North Country” meninggalkan suaminya karena KDRT yang dilakukan oleh suaminya terus menerus, sedangkan tokoh “aku” dalam “Topeng Nalar” ditinggal pergi oleh suaminya begitu saja dengan alasan ‘melaut’ dan tidak pernah kembali lagi. Kesimpulannya memang akhirnya menjadi sama, kedua perempuan ini menjadi single parent disebabkan KDRT.


Kemiripan lain lagi adalah kedua tokoh tidak memiliki pendidikan yang cukup tinggi yang membuat mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup layak untuk menghidupi kedua anak mereka. Josey semula ‘hanya’ bekerja sebagai seorang hairdresser di sebuah salon dengan gaji yang pas-pasan, sampai akhirnya dia bertemu dengan teman SMAnya, Glory, yang telah bekerja di sebuah perusahaan pertambangan, Pearson Taconite and Steel Inc, dengan gaji yang lumayan. Kebetulan di pertengahan tahun 1980-an itu perusahaan pertambangan tersebut memang mulai membuka lowongan untuk pekerja perempuan. Karena keinginan Josey yang kuat untuk memberi penghidupan yang layak untuk kedua anaknya, ia pun melamar pekerjaan di Pearson Taconite and Steel Inc, walau ia ditentang oleh ayahnya sendiri yang meski sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan yang sama, merasa malu jika anak perempuannya bekerja di perusahaan yang “seharusnya” hanya untuk kaum laki-laki saja.

Sang “aku” dalam “Topeng Nalar” bekerja di sebuah perusahaan rokok sebagai buruh ‘nglinthing rokok” setelah tak banyak lagi tanggapan untuk menari Topeng maupun Tayub dia terima lagi. Menyadari bahwa ‘profesi’ sebagai penari tidak memberinya pemasukan yang cukup (budaya tradisional telah tergusur dengan budaya-budaya modern tentu saja), sang “aku” tidak ingin mewariskan kemahirannya menari kepada sang anak kedua, yang bernama “Nalar”. Dia ingin garis keturunan penari topeng berhenti di tubuhnya, tak perlu ia menurunkannya kepada Nalar. Dia yakin meski sedikit namun rutin, penghasilan yang dia terima sebagai buruh pabrik rokok akan mampu membiayai anak-anaknya sekolah sampai paling tidak lulus SMA. Setelah itu, dia akan merasa cukup puas jika anaknya bekerja sebagai buruh pabrik, penjaga toko, maupun sales.

Dalam North Country, hubungan buruk antara Josey dan Sammy, anak pertama, dilandasi oleh ketidakterbukaan antara mereka berdua. Di luaran memang gosip yang terdengar adalah Josey – di usianya yang masih belia, 16 tahun – telah berhubungan seks dengan beberapa laki-laki, sehingga dia sendiri tidak tahu siapakah yang telah menanamkan benih di tubuhnya. Sementara yang sebenarnya terjadi adalah Josey diperkosa oleh salah satu guru SMA-nya. Josey tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskan kepada Sammy apa yang terjadi di masa lalu, tanpa harus melukai perasaan Sammy, karena dia sebenarnya adalah anak hasil perkosaan. Sementara itu, yang didengar oleh Sammy adalah ibunya seorang perempuan murahan yang melakukan hubungan seks dengan banyak laki-laki, karena kecantikan fisik yang kebetulan ia miliki.

“Rahasia” ini akhirnya terbongkar juga dalam sidang pengadilan antara Pearson Taconite and Steel Inc versus Josey Aimes, sebagai penggugat karena pelecehan seksual yang dia terima tatkala bekerja di perusahaan pertambangan tersebut. Pengacara yang disewa oleh perusahaan tersebut berusaha menguatkan opini bahwa Josey adalah perempuan murahan dengan memanggil guru SMA Josey sebagai salah satu “sex partner” nya waktu SMA; satu hal yang ternyata malah justru membuka borok lama, pemerkosaan tersebut.

Mengetahui bahwa dia adalah anak hasil pemerkosaan sangat memukul Sammy. Namun di sisi lain, hal ini malah membuka komunikasi terbuka antara ibu dan anak, yang akhirnya justru memperbaiki hubungan keduanya. Dengan kemenangan kasus pelecehan seksual di pengadilan pada pihak Josey meyakinkan Sammy bahwa ibunya bukanlah perempuan murahan. Sementara itu, menyadari bahwa sang ibu memilih untuk meneruskan kehamilannya – meski kehamilan itu hasil pemerkosaan – Sammy pun tahu bahwa itu benar-benar pilihan sang ibu yang memutuskan untuk tidak ‘menghukum’ jabang bayi dengan menggugurkannya.

Dalam Topeng Nalar hubungan buruk antara sang “aku” sebagai ibu dan Danu, anak pertamanya memang benar-benar didasari oleh ketidaktahuan sang “aku” siapakah yang telah menghamilinya. Senantiasa menganggap Danu sebagai salah satu kesialan dalam hidupnya, sang “aku” pun memperlakukan Danu dengan tidak semestinya seorang ibu meperlakukan seorang anak. Dia sering menyia-nyiakan Danu, memarahinya dengan alasan yang tidak jelas, dll. Hingga akhirnya Danu memilih minggat dari rumah.

Sementara itu, Nalar yang sangat ingin belajar menari Topeng, merasa Danulah satu-satunya orang yang memahaminya. Sang “aku” dengan kukuh tidak mau mengajari Nalar menari karena dia beranggapan menari tidak akan memberi penghasilan yang layak untuk Nalar di kemudian hari. Dia juga tidak tega jika mengharuskan Nalar menjalani berbagai tirakat yang harus dijalankan untuk menjadi seorang penari Topeng. Sementara itu, Danu justru senang membuatkan topeng-topeng untuk Nalar dari bahan kayu yang bisa dia peroleh dari daerah sekitar. Hal inilah yang lebih merekatkan hubungan emosi antara Danu dan Nalar.


Cerita berakhir dengan minggatnya Danu dan Nalar berdua, meninggalkan sang ibu yang kebetulan pada waktu itu mendapatkan tanggapan menari Topeng.

“North Country” berdasarkan kisah nyata sedangkan “Topeng Nalar” aku yakin hanyalah sebuah kisah fiksi belaka, meski bisa jadi juga terinspirasi dari kisah nyata yang pernah didengar/dibaca oleh sang penulis. Di sini aku tidak hanya menggunakan teori Comparative Literature, namun juga intertextual theory yang memungkinkan seorang kritikus, atau siapa pun itu untuk membandingkan dua karya atau lebih, meski memiliki beda genre. Dalam tulisan ini adalah perbandingan antara cerita pendek dan film. Kedua teori ini sangat dimungkinkan untuk mengkaji kedua cerita tersebut karena memiliki satu benang merah yang bisa kita kaitkan sebagai ‘universal theme’, yakni kehidupan seorang single parent yang disebabkan oleh KDRT.

PT56 16.27 270610

"Perbatasan" dari Sudut Pandang Feminisme



Bahwa karya sastra merupakan satu cermin dari apa yang terjadi di masyarakat adalah satu hal yang telah dikenal semenjak zaman Aristotle, dengan pendekatan yang ia sebut sebagai “mimesis”. Teori ini ‘dikembangkan’ oleh para kritikus Sastra di kemudian hari menjadi “moral-philosophical approach” dimana sebuah karya sastra dianggap sebagai salah satu media untuk mengajarkan moral dan filosofi hidup kepada para pembaca. Di abad 20 dengan adanya “the second wave of feminist movement” di tahun 1960-an, bergulirlah sebuah teori baru yang disebut sebagai “Feminist Literary Criticism” dimana inti utamanya adalah “Reading as a Woman”.

Cerpen-cerpen Dewi Ria Utari bisa dikategorikan sebagai karya sastra yang berpijak pada inti utama Feminist Literary Criticism, yakni “membaca sebagai perempuan”. Dewi menuliskan karya-karyanya menggunakan cara pandangnya sebagai perempuan yang terlepas dari kungkungan budaya patriarkal, dimana sudut pandang laki-laki sebagai yang utama, sedangkan perempuan adalah “the other” atau sang liyan.

Perbatasan adalah salah satu judul cerpen karya Dewi Ria Utari dalam KumCer nya yang berjudul “Kekasih Marionette” (Gramedia, 2009). Cerpen ini berkisah tentang sebuah komunitas masyarakat yang terletak di satu lokasi di bumi, yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat yang kita kenal dimana kita merupakan salah satu penduduknya. Hanya saja yang membedakan para penghuni kampung di situ dari ‘masyarakat kita’ adalah “kepolosan” mereka memandang nuditas, cara pandang hubungan laki-laki dan perempuan yang murni dan tidak terdistraksi oleh ajaran-ajaran yang hipokrit, dimana selalu dan selalu tubuh perempuan menjadi komoditi yang mungkin diperjualbelikan, atau sebaliknya, harus ditutupi seluruhnya, karena dituduh sebagai sumber kemaksiatan.



Sangat jelas terlihat bahwa melalui cerpen ini Dewi mengkritisi UU APP dan peraturan-peraturan di beberapa daerah di Indonesia yang menganggap tubuh perempuan seharusnya ‘didomestikasikan’ yang justru semakin “menjauhkan manusia dari naluri mereka” (hal. 129). Hal ini bisa dilihat dalam beberapa kutipan di bawah ini:

“Perempuan dilarang keluar malam.” (hal. 129)

”Aku bahkan tak habis pikir kenapa menangkapi perempuan yang keluar di malam hari.” (hal. 129)

”Gila! Mandi bersama lelaki dan perempuan? Itu porno sekali!” teriak Susan terkaget-kaget. ... “Porno itu apa? Kenapa kamu bilang gila? Kami bukan orang gila!” kataku. (hal. 126)



Selain mengkritisi UU APP dan peraturan-peraturan yang besumber dari kebencian (atau hiprokisi) dalam memandang tubuh perempuan, Dewi juga menyentil anggapan hubungan LGBT sebagai suatu penyakit masyarakat yang selayaknya dihapuskan. Anggapan ini pun tentu berdasarkan the so-called ajaran yang katanya berasal dari ‘langit’, yang tentu tak bisa dilepaskan dari hasil interpretasi para ahli agama yang notabene juga manusia biasa.

”Bergandengan tangan juga dihukum. Bahkan mereka mulai menangkapi lelaki yang tinggal bersama dengan teman lelakinya, juga perempuan-perempuan yang hidup satu rumah.” ... “Aku tersentak. Tak dapat kubayangkan betapa mengerikannya daerah asal ibuku. Bagaimana mungkin bergandengan tangan pun dilarang. Padahal di kampung ini, setiap orang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Setiap bertemu, kami berciuman. Baik itu sesama perempuan, sesama lelaki, atau lelaki perempuan. Tak ada yang salah dari semua itu.” (hal. 129)

Judul Perbatasan dipilih oleh Dewi untuk menunjukkan bahwa ada perbatasan yang memisahkan masyarakat yang masih (i>“murni” dalam memandang hubungan laki-laki dan perempuan, dengan masyarakat yang telah terkontaminasi ajaran-ajaran tertentu. Dengan memilih seorang anak perempuan sebagai tokoh utama cerpen, Dewi ingin menekankan bahwa seorang anak itu masih polos memandang aspek-aspek kehidupan ini. Para orang tua yang ada di sekitarnya lah yang akan menyebabkannya menjadi hipokrit ataukah tetap polos.

Kembali ke tesis semula. Dalam cerpen ini Dewi terlihat jelas menggunakan perspektifnya sebagai perempuan yang mampu melepaskan diri dari hegemoni budaya masyarakat patriarki. Pemerintah dengan UU APP dan peraturan-peraturan di beberapa daerah telah begitu menggelisahkan sebagian masyarakat karena dianggap telah sangat campur tangan dalam kehidupan pribadi warga negara, menggunakan parameter yang tidak begitu jelas. Sebagai anggota masyarakat yang ingin mengkritisi pemerintah, kita bebas mengutarakannya melalui media apa saja. Jika aku menggunakan media blog, Dewi menggunakan karya sastra sebagai penyalurannya.

PT56 08.40 280610