Searching

Selasa, 26 Juni 2012

Perempuan Buruh = Budak?


 
Ini respons yang langsung melintas dalam benakku seusai membaca cerpen "Kebun Teh", salah satu cerpen yang terhimpun dalam KumCer Perempuan Kopi.

Salah satu (atau dua ya?) pembaca yang menghadiri acara bincang-bincang buku Perempuan Kopi pada hari Jumat 22 Juni 2012 telah sempat menyinggung topik cerpen yang satu ini: bahwa perempuan yang hidup di perkebunan dan bekerja menjadi buruh -- atau apa pun posisinya -- tak pernah secara utuh memiliki tubuhnya, dan juga hidupnya. Bahkan, seorang perempuan bisa jadi juga bukan milik suami yang secara legal menikahinya.

Hal ini mengingatkanku ketika membaca novel Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang konon merupakan salah satu trigger pecahnya perang saudara di Amerika Serikat pada tahu 1860 - 1865. Para budak itu sama sekali tak punya hak untuk memiliki hidupnya, hidup mereka adalah milik tuan tanah yang juga memiliki mereka. Terserah para tuan tanah akan melakukan apa pun terhadap hidup para budak itu; misal dijadikan sapi perah untuk terus bekerja dari pagi hingga petang, dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki), atau hanya 'sekedar' menjadi budak seks sang tuan tanah.

Meski sangat menentang praktik perbudakan -- dalam bentuk apa pun juga -- aku berpikir yang dilakukan oleh para tuan tanah di Amerika Serikat bagian Selatan waktu itu masih bisa 'dikunyah' akal.

Namun jika ternyata praktik yang tidak jauh beda itu juga dilakukan di perkebunan-perkebunan di Indonesia, dimana para pekerja disana mendapat upah -- yang meski mungkin tidak layak -- akan tetapi predikat mereka bukanlah 'budak', mereka adalah pekerja.

Dewi Nova (DN) menyatakan bahwa ketigabelas cerpen yang dia tulis berdasarkan realitas hidup yang dia amati dalam kehidupannya sehari-hari. Secara lugas DN mengatakan bahwa topik cerpen dalam "Kebun Teh" pun dia ambil dari kenyataan yang pernah dia lihat sendiri.

Seorang peserta bincang-bincang buku "Perempuan Kopi" mengatakan di Kalimantan (atau Sumatra ya?) dia pernah mendapati praktik serupa. Namun lebih 'setara'. Ada suami istri yang posisinya paling tinggi di sebuah perkebunan. Jika sang istri sedang pergi jauh dalam waktu lumayan lama, sang suami meminta anak buahnya untuk bergilir mengirim istri-istri mereka untuk 'menemani'nya. Juga sebaliknya, jika sang suami pergi jauh dalam waktu lama, sang istri akan meminta anak buah suaminya -- yang laki-laki karena kebetulan sang istri ini hetero -- untuk 'menemaninya'.

Ada satu kalimat yang sangat aku sukai dari cerpen "Kebun Teh".

Teringat pesan bapak, jangan pernah melukai tubuh perempuan yang melahirkan anak-anakmu, aku tak pernah membicarakan hal itu dengan istriku, apalagi melukai tubuhnya. (halm. 40)

PT28 15.31 230612

Beberapa komen yang muncul di lapak sebelah, yang akan digusur tanggal 1 Desember 2012 nanti. :'(


orangjava wrote on Jun 27
Pekerja Wanita Indonesia di Arab dijadikan BUDAK....
afemaleguest wrote on Jun 27
orangjava said
Pekerja Wanita Indonesia di Arab dijadikan BUDAK....
betul itu Pak Dhe :(
orangjava wrote on Jun 27
betul itu Pak Dhe :(
Memang malah ada 2TKI yang dibawa Kedubes ARAB SAUDI, gak boleh keluar mereka kabur, minta bantuan ke POLISI, anehnya masih saja Pemerintah RI mengirim tenaga² ke ARAB, aku ora mudenk.......
afemaleguest wrote on Jun 27
orangjava said
Memang malah ada 2TKI yang dibawa Kedubes ARAB SAUDI, gak boleh keluar mereka kabur, minta bantuan ke POLISI, anehnya masih saja Pemerintah RI mengirim tenaga² ke ARAB, aku ora mudenk.......
karena pemerintah sendiri ga mampu menyediakan lapangan kerja buat mereka :-(
afemaleguest wrote on Jun 27
meluncuuurrr
orangjava wrote on Jun 27
Dulu sampe persoalan ini gede..http://www.spiegel.de/spiegel/print/d-79175749.html.....coba pake Tante GOOGLE...
rengganiez wrote on Jun 27
dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki)
di Indonesia juga ada :-(
afemaleguest wrote on Jun 27
sedihnyaaa :-(
martoart wrote on Jun 27
setidaknya di dunia jaman sekarang secara resmi sudah dinyatakan terlarang. hukum yg beradab pada moral kemanusiaan suah diterapkan, meski ada praktek yg melanggarnya.

yg sedih adalah di dunia jaman sekarang masih ada yg secara resmi menerapkan hukum tidak beradab. tki yg dikirim, secara hukum negeri penerima bukan lagi dihitung pekerja, tapi dibeli sebagai budak.
orangjava wrote on Jun 27
martoart said
setidaknya di dunia jaman sekarang secara resmi sudah dinyatakan terlarang. hukum yg beradab pada moral kemanusiaan suah diterapkan, meski ada praktek yg melanggarnya.

yg sedih adalah di dunia jaman sekarang masih ada yg secara resmi menerapkan hukum tidak beradab. tki yg dikirim, secara hukum negeri penerima bukan lagi dihitung pekerja, tapi dibeli sebagai budak.
Malah BUDAKnya sampe dibawa ke Berlin segala...untung bisa kabur...
afemaleguest wrote on Jun 28
how I hate that foolish so-called 'religious' chauvinist country! :-(((
agamfat wrote on Jun 27
Di Saudi praktek ginian melenggang bebas, dg segala ayat dan pembela
afemaleguest wrote on Jun 28
how I hate that country! :-(
rembulanku wrote on Jun 28
ck ck ck nasibnya perempuan kok ya masih menyedihkan
afemaleguest wrote on Jun 28
begitulah La :-(
nanaskuningkeci wrote on Jun 28
jd teringat film Abraham Lincoln : Vampire Hunter mengenai perang amerika itu jadinya
afemaleguest wrote on Jun 28
ahaaa
aku belum nonton :-)

Jumat, 22 Juni 2012

Bincang-bincang buku Perempuan Kopi



Talking about Book Discussion program, aku sangat jarang memiliki kesempatan untuk ikut hadir. Ada beberapa excuses yang bisa kukemukakan sebagai seseorang yang mengaku sebagai bookworm, book lover, atau pun book collector. :-D
  1. Waktu penyelengaraan yang sering tidak 'tepat' dengan waktu luang yang kumiliki. Sebagai seorang pekerja keras, aku kerja dua kali sehari, pagi jam 07.00 - 15.00; sore jam 17.00 - 21.00.
  2. Jika kebetulan waktu penyelenggaraan pas dengan waktu luang, tempat penyelenggaraan yang tidak friendly bagi seorang bike-to-worker sepertiku.
  3. Jika waktu dan tempat penyelenggaraan 'oke', mood-ku sedang kabur. wkwkwkwkwk ... (yang ini sangat jarang, suwer!) Atau mungkin anak semata wayangku sedang butuh perhatian ekstra sehingga tidak bisa kutinggalkan. (Sometimes one function to have kids is to have a very good scapegoat for something. LOL.)
Jumat 22 Juni 2012 kebetulan merupakan hari libur bagiku dan tidak ada kegiatan apa pun yang ada di agendaku, maka kusempatkan menghadiri acara "Bincang-Bincang Buku "Perempuan Kopi" besutan seorang pengarang perempuan yang intens sekali perhatiannya kepada isu perempuan, Dewi Nova. Plus, tempat penyelenggaraan yang tidak jauh dari tempat tinggalku, dan aku lumayan familiar dengan gedung itu, Kompas/Warta Jateng, yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno. Tahun 2010 lalu, Komunitas b2w Semarang mengadakan kerjasama dengan Kompas dalam rangka menyelenggarakan talk show 'jalur sepeda'. :)

DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku. :) Aku 'mengenal' nama itu pun karena seorang sahabat terkasih -- Asih Ernawati -- menyebut namanya beberapa bulan lalu sebagai seorang penulis yang sangat concerned terhadap isu perempuan. Aku belum pernah tahu buku apa yang pernah dia tulis sampai beberapa bulan lalu DN mempromosikan buku "Kami Tidak Bisu" yang ditulis oleh Kamilia Manaf sedangkan DN adalah editornya.

Judul buku "Perempuan Kopi" telah kuketahui beberapa minggu lalu dari wall DN maupun wall orang lain yang mempromosikannya. Aku memang kepengen beli, namun menunggu kesempatan aku 'bernafas lega' dari kegiatan sehari-hari untuk kemudian meluncur ke toko buku. Maka, ketika aku membaca flyer di efbe yang mempromosikan acara bincang-bincang buku yang diselenggarakan di kantor Kompas/Warta Jateng, aku langsung berniat datang.

Berhubung aku belum punya bukunya dan belum membaca satu pun cerpen yang ada di dalamnya, aku hanya menjadi pendengar yang baik saja selama bincang-bincang yang dimoderatori oleh Kang Putu. :) Namun seperti yang bisa diperkirakan dari 'background' yang diberikan oleh Asih bahwa DN adalah seseorang yang sangat care pada isu perempuan, cerpen-cerpen yang ada di dalamnya berkisah tentang perempuan-perempuan.

Mengapa 'perempuan'? DN adalah seorang perempuan yang juga selalu penuh semangat menyuarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan suara perempuan yang terpinggirkan di tengah-tengah status quo kultur patriarki.

Mengapa 'kopi'? DN menjelaskan bahwa kopi memiliki sejarah kolonialisasi. Belanda yang menjajah Indonesia sekian abad, yang membawa kopi ke Indonesia yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil kopi ketiga terbesar di dunia (http://forum.detik.com/indonesia-penghasil-kopi-terbesar-ke-3-dunia-t292411.html). Namun, masyarakat Indonesia sendiri harus membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi yang memiliki kualitas di atas rata-rata. Ada kisah sedih di balik sebiji kopi, laksana para perempuan yang suaranya terpinggirkan.

Komentar beberapa pembaca yang sempat kurekam adalah tentu seorang DN menulis tidak hanya sekedar menulis, melainkan melalui riset yang cukup memadai. DN sendiri menjelaskan bahwa dia berpindah menulis ke fiksi -- dari 'laporan' riset dan essay -- karena dia ingin membuat para pembacanya selalu terkenang isu-isu yang dia angkat dalam tulisannya. Berbeda dengan membaca hasil riset yang mungkin kurang dibumbui kata-kata indah sehingga orang akan mudah lupa.

Dalam buku "Membaca Sastra" Melani Budianta dkk mengawalinya dengan mengemukakan beda antara tulisan fiksi versus non fiksi, dimana memang biasanya orang akan lebih teringat sebuah 'berita' yang ditulis dalam bentuk fiksi yang lebih menyentuh. Misalnya, kisah seorang perempuan Cina yang menjadi korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 Jakarta yang ditulis dalam bentuk cerpen akan lebih menggugah perasaan pembaca dari pada membacanya dalam bentuk berita di surat kabar.

"Menciptakan tokoh yang utopis" merupakan salah satu kenikmatan yang disukai oleh seorang DN dalam menulis fiksi. Dalam cerpennya yang berjudul "Anak", DN mengaku menciptakan seorang tokoh utopis, seorang ibu yang sedemikian rupa mempersiapkan anak gadisnya yang berusian belasan tahun untuk mengenali dirinya sendiri, mengenal gairah seksualnya, termasuk bagaimana melakukan seks yang aman dengan anggapan bahwa sang anak adalah seorang hetero, terkaget-kaget ketika sang anak mengaku bahwa dia seorang lesbian. Meskipun kaget, sang ibu -- yang tentu diciptakan oleh DN sebagai seorang feminis yang memahami segala isu seksualitas termasuk orientasi seksual -- menerima pengakuan sang anak dengan legawa, dengan penuh perhatian.

Mengingat seksualitas merupakan salah satu topik sentral yang diusung dalam buku ini, maka seorang pembaca pun mengatakan bahwa dalam buku ini, DN merayakan seksualitas. Seorang perempuan mungkin menjadi seorang korban seksual dalam satu waktu, namun bisa jadi juga seorang perempuan sangat bebas menyuarakan kebutuhan seksualnya tanpa perlu merasa tabu atau dikungkung oleh moral publik. Sebuah kebebasan yang hanya bisa diperoleh oleh seorang perempuan jika dia menginginkannya.

Mengenai 'tuduhan' bahwa mungkin DN menulis buku ini untuk pembenaran ketaklaziman -- isu lesbianisme -- DN dengan manis mengatakan bahwa memang dia tidak pernah berpikir bahwa cinta sesama jenis merupakan satu ketaklaziman. Cinta ya cinta. Titik.

Sudahkan anda memiliki buku "Perempuan Kopi"? Jika anda mengaku sebagai seseorang yang hobi membaca, yang concern terhadap isu perempuan, yang hobi minum kopi, ayo bacalah bukunya. :)

McD 13.34 220612

Beberapa komen dari lapak sebelah, yang harus kucopy-paste disini, sebelum dihilangkan secara paksa.

orangjava wrote on Jun 26
ISBN??
afemaleguest wrote on Jun 26
orangjava said
ISBN??
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
orangjava wrote on Jun 26
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
Mana??
afemaleguest wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
orangjava wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
Mau nyari di AMAZON kali aja ada yang jual....buku RI gak ada disini...kalau ada sudah diterjemahkan dalam bahasa Jejeran Sleman..seperti dari Muchtar Lubis, Pramudyia Ananta Toer...
afemaleguest wrote on Jun 26
tentu belum diterjemahkan ke bahasa asing mana pun :-D
bambangpriantono wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
afemaleguest wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
Ngopo?
*sruputt*
afemaleguest wrote on Jun 26
Ngopo?
*sruputt*
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
Oooo..RS endi?
Gek ndang mari yo
afemaleguest wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
onit wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
afemaleguest wrote on Jun 27
onit said
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
ada ... torabika ... tapi aku belum pernah nyoba kopi torabika je
^^
rengganiez wrote on Jun 26
membaca "Perempuan Kopi" sambil ngopi yo, mbak...
afemaleguest wrote on Jun 26
iyo
hahaha
rembulanku wrote on Jun 26
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
afemaleguest wrote on Jun 27
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
sshhhttt ...
eman-eman duite ... haghaghaghag
martoart wrote on Jun 30
DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku.
Sama. Malah kukira De 'Supernova'
afemaleguest wrote on Jul 4
:-)

Selasa, 07 Februari 2012

Perempuan dalam Kultur Patriarki



“Mereka sendiri tidak siap menerima anak-anaknya yang berubah karena pendidikan yang telah mereka pelajari.” ~ “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” oleh Ni Komang Ariani

Kultur patriarki telah bercokol di banyak daerah di belahan bumi ini sejak waktu yang entah. Sebegitu dalam kultur yang mengutamakan kepentingan kaum laki-laki ini dipercayai oleh masyarakat sehingga segala hal yang dianut di dalamnya dipercaya sebagai suatu keniscayaan – taking it as one undeniable truth – dan hal-hal yang tidak mengamininya dianggap sebagai suatu yang di luar ‘kodrat’.  Bahkan oleh kaum perempuan yang ‘seyogyanya’ merasa menjadi korban ketidakadilan ini.

Topik ‘klise’ inilah yang dibidik oleh Ni Komang Ariani dalam cerpennya yang berjudul “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara”, yang kebetulan dibukukan bersama 17 cerpen lain dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2010. Sang tokoh utama – Dinaya – adalah seorang perempuan Bali yang meski berpendidikan tinggi tetap saja menjadi korban dalam kultur patriarki, bahkan sang ‘biyang’ (ibu) adalah salah satu pelaku utama yang menjadikannya sebagai makhluk yang ‘terpenjara’ dalam kungkungan kultur yang mendewakan kaum laki-laki.

Meskipun klise, namun di abad ke 21 ini aku yakin masih banyak perempuan yang menjadi korban; bahkan ketika mereka telah mendapatkan pendidikan formal yang cukup tinggi, jika masyarakat luas masih saja menempatkan perempuan di posisi yang harus memprioritaskan kebutuhan laki-laki – butuh dijadikan panutan dalam keluarga bukan karena apa yang telah dia lakukan untuk keluarga, namun melulu karena dia berjenis kelamin laki-laki; butuh dijadikan satu-satunya yang boleh menentukan apa-apa yang akan dilakukan oleh anggota keluarga, termasuk menuntut sang istri lah yang melakukan segala pekerjaan rumah tangga, dan menjadi pendengar sang suami yang butuh didengarkan karena hanya ketika berada di rumah lah sang suami bisa berkicau sesuka hati.

Yang paling menarik dari cerpen ini bagiku adalah ketika Dinaya memprotes bagaimana orangtuanya tak membolehkannya memiliki cara berpikir yang berbeda padahal cara berpikir ini dia dapatkan dari pendidikan yang telah dia kejar; pendidikan yang dulu dipaksakan oleh orangtuanya. Ternyata setelah dewasa, setelah pendidikan menjadikan Dinaya ‘berkembang’ menjadi sesosok perempuan yang berpikir bebas, di mata orang tuanya, Dinaya tetaplah seperti bocah yang mengenakan seragam sekolah dasarnya, yang sering dimarahi orangtuanya karena belum bisa menulis dan membaca. “Kesarjanaan hanya membuat Dinaya menjadi perempuan yang tinggi hati.” Tulis Ni Komang Ariani.

Protes Dinaya hanya tetap menjelma protes tanpa makna. Keotoriteran kedua orangtuanya telah mengebirinya.

GL7 11.29 060212

Rabu, 26 Oktober 2011

Buku Pelajaran Sejarah

Baru tahun akademik ini aku ketiban sampur mengajar mata pelajaran "Sejarah" di kelas 12. Dikarenakan belum ada buku yang ditulis secara bilingual, maka kita menggunakan buku yang hanya ditulis dalam Bahasa Indonesia.Sekolah memilih menggunakan buku Sejarah terbitan Y*dh*****a.

Memasuki term kedua ini pembahasan 'baru' (atau 'telah' ya?) sampai bab dua, yakni "Perkembangan Perekonomian dan Politik Indonesia".

Mungkin karena anak-anak yang telah terkondisi menggunakan English dalam interaksi sehari-hari di sekolah sehingga ketika diskusi menggunakan Bahasa Indonesia menjadi kaku, atau mungkin karena mereka terbiasa menggunakan buku-buku terbitan luar negeri sehingga selalu saja masalah 'bosan' menimpa diskusi di kelas, atau instead of breaking the mirror for my ugly face, I must admit that I am so boring to teach the material.

Kemarin salah satu siswa kelas 12 -- if you follow my note/blog perhaps you will know my favorite student in 'Religious Studies class -- komplen. Ada dua hal yang dia kemukakan:

  1. "Miss, this book or this subject is not supposed to be called as "Sejarah Indonesia", instead it is supposed to be called "Sejarah Politik Indonesia".
  2. "Miss, don't you think that history book must be free from anybody's opinion?" sambil menunjuk beberapa contoh kalimat yang memang jelas-jelas tidak hanya mengungkap 'fakta' yang ada melainkan juga opini sang penulis.

Kebetulan tahun akademik lalu aku mengajar 'History' kelas 7 dimana kita menggunakan buku terbitan C**br****e. Untuk komplen point kedua aku bisa langsung membandingkan bahwa dalam buku terbitan Cambridge, jika akan mengacu 'opini', maka yang dikemukakan dalam buku adalah opini historian baik di masa lalu (ketika suatu peristiwa terjadi) yang kemudian dikomparasikan dengan opini historian di masa kini, sehingga kita bisa mengkaji suatu peristiwa dari beberapa sudut pandang. Dan, memang tak bisa ditemukan kalimat-kalimat yang bias opini si penulis buku.

Sedangkan untuk point pertama, dalam buku terbitan C**br****e, ketika membahas suatu peristiwa, misal perang bla bla bla ... maka akan disinggung juga kehidupan masyarakat di daerah dimana perang terjadi,bagaimana masyarakat menjadi korban, dan lain sebagainya. Sehingga pembahasan menjadi menarik karena tidak melulu membahas 'konferensi Malino' terjadi di satu tempat pada tanggal sekian sampai tanggal sekian, tanpa explanasi yang jelas mengapa konferensi tersebut diselenggarakan, dan bagaimana dampak konferensi tersebut terhadap masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.

As simple as that.

WEW.

GL7 09.44 261011