Searching

Rabu, 25 Juni 2008

Si Parasit Lajang


SI PARASIT LAJANG by Ayu Utami, a feminist writer of Indonesia is one of my favorite books. I bought it in one book fair held in Yogyakarta on October 12, 2003. FYI, I always write the date and the place where I buy my books on the last page so that it is easy for me to check it next time. :) So, it is not coz I have a very great memory. LOL. How can I remember the time and the place where I buy all my books that until now comprise more than 700 titles? LOL.
I was still shaping myself to be a feminist at that time, after I bought a book entitled STUDI ALQURAN KONTEMPORER some months before that. This is the first book that opened my mind that there will always be new things in anything, including in interpreting Alquran, moreover in any other thing. When something is socially constructed, there will always be changes in re-viewing it. Naïve Nana was still very naïve at that time, and oftentimes saw social constructions as something created, as a “destiny”. A new Nana was born in 2003. LOL. “Do you feel happier with the new you?” a workmate asked me such a question some time ago. “Everything has risk and responsibility in this life. In one side, probably I am happier with the new me. However, in another side, I also easily become hurt when seeing the unfairness done to women, something that probably didn’t bother me in the past; such as a woman will always be the second in the family after the husband, sometimes even the third after the husband and the children. Aquarini illustrated in her book KAJIAN BUDAYA FEMINIS, “an ordinary woman is a woman who is willing to lose her old self, who always gives the first priority to the husband first, the children second, and herself the last, if she still has time to take care of herself.”
Many provoking ideas I got when reading Ayu Utami’s book. Therefore, I often promote the book to my workmates and friends. LOL. I also bought the book to two male friends of mine to show my gratitude to them. Well, two reasons behind it: I wanted to thank them for spending their special time for me, and making me very special. LOL. The second reason was that I wanted to provoke them too in viewing man-woman relationship when reading the book. Tricky of me, huh? LOL.
The book consists of 33 articles, not all about gender things. Some are about Ayu’s witty criticism on life (such as, why writers in Indonesia seldom include animals in the stories, does it show that Indonesian people don’t love animals? About urine therapy, etc), also her criticism on the national politics of Indonesia (e.g. why until now PKI (Indonesia Communist Party) is still considered as latent danger. After Soeharto diminished the party in 1966, the offspring of the party is still considered as danger, to enliven this Communist Party again so that they don’t get appropriate treatment from the nation. Indonesian people easily get provoked with this PKI term until now.
I also take two articles from the book to discuss in my SPEAKING class. I didn’t bother myself to translate the articles into English. I let my students read the articles in Bahasa Indonesia. However, of course, the discussion in the class was conducted in English.
Until now, I have read some articles in SI PARASIT LAJANG many times. I never find it a bore. :) Perhaps next time I will give an interpretation of one article and post it in my blog. :)
PT56 13.19 020806

Argenteuil


ARGENTEUIL, Hidup Memisahkan Diri merupakan salah satu seri “Cerita Kenangan” Nh. Dini, yang menceritakan tentang episode hidupnya mulai pertengahan tahun 1970-an. Mengapa Dini memakai istilah “Cerita Kenangan” untuk buku otobiografinya, Dini menjelaskannya pada bagian kelima buku ini.

“Kukenal perkataan-perkataan memoir, recit, narration, biographie, autobiographie, dan souvernirs. Pada dasarnya semua itu berarti tulisan berisi cerita yang bersangkutan dengan riwayat atau kisah hidup, kebanakan dihasilkan oleh orang yang menjadi tokoh utama atau si ‘aku”. (halaman 82)”


Terilhami oleh Marcel Pagnol yang menggunakan istilah ‘souvernirs’ yang berarti kenang-kenangan tatkala menuliskan kisah hidupnya, Dini pun menyebut serial otobiografinya “Seri Cerita Kenangan”. Dengan sengaja dia membagi kisah hidupnya dalam beberapa periode, sehingga juga terbagi menjadi beberapa buku, sehingga untuk menyebutnya, kita perlu menggunakan kata “seri”.
ARGENTEUIL merupakan kisah lanjutan yang berjudul LA GRANDE BORNE. Kata ARGENTEUIL sendiri adalah nama sebuah kota kecil di tepian sungai Seine, kira-kira 10 km barat laut Paris. Setelah memutuskan untuk mengubah hidupnya secara drastis, untuk ‘menyembuhkan diri’ dari luka lama, ke sanalah Dini pindah, dan tidak mengikuti suaminya yang mendapatkan tugas sebagai Konsul Jenderal Prancis di Detroit, Amerika Serikat. Pada saat yang sama pula Dini dengan berani memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya. Meskipun berat pada awalnya, Dini menjadi mantap hatinya tatkala kedua buah hatinya, Lintang dan Padang, mendukungnya. Padang, si bungsu yang waktu itu masih berusia 8 tahun, berkata:

“Tidak apa-apa, Maman,” ... “Dia mungkin papa yang baik; tapi sebagai laki-laki, sebagai suami, hemmmm, menyebalkan ya...”


Sedangkan Lintang yang berusia 15 tahun bahkan sudah bisa memberi usul yang sangat dewasa:

“Hati-hati, Maman, kalau kamu yang meninggalkan rumah tangga, jangan-jangan kelak kamu disalahkan oleh Pengadilan. Papa itu lelaki yang pintar menggunakan suasana demi kepentingannya...”


Untuk menghidupi hidupnya sendiri, Dini bekerja sebagai ‘dame de compagnie’ atau wanita pendamping bagi Monsieur Willm, kakak Alice Willm, salah satu sahabat Dini. Monsieur Willm lah yang tinggal di ARGENTEUIL, di sebuah rumah berlantai empat yang pernah ditinggali oleh Karl Marx. Tugas seorang ‘dame de compagnie’ – yang dalam English disebut ‘governess’ adalah mengurus, merawat, dan menjadi teman berbincang.
Di awal-awal hidupnya di ARGENTEUIL inilah Dini mempersiapkan otobiografinya yang dia bagi menjadi beberapa episode. Setelah sang suami dan si bungsu Padang pindah ke Detroit, Dini memiliki banyak waktu luang yang bisa dia gunakan untuk menekuni kegemarannya menulis. Lintang sendiri tinggal di asrama, dan hanya ‘pulang’ setiap akhir pekan.
Di episode ARGENTEUIL inilah Dini mendengar kabar kematian kekasihnya, Maurice, alias Bagus., dari Angele, kakaknya. Di episode ini pula Dini berkesempatan untuk mengunjungi rumah pertanian tempat kekasihnya itu dilahirkan dan melihat dengan jelas ‘jejak-jejak’ yang ditinggalkan oleh Maurice sebagai bukti cintanya kepada Dini.
Bagaimanakah perasaan Dini tatkala pertama kali mendengar kabar kematian kekasihnya itu? Bagaimana pula perasaan Dini tatkala menginjakkan kakinya ke tanah kelahiran Cinta sejatinya?
PT56 14.25 220608

A Room of One's Own


A ROOM OF ONE’S OWN (1929) is one title of a popular book written by Virginia Woolf, a feminist writer from Britain. A talented woman will be as creative as man to produce literary work as long as she has her own room, her own privacy to expose her talent.
Room here can mean a real physical place, can be a bedroom or study room that exclusively belongs to a woman. In it, she can satisfy her greed to create or produce anything. No other person is allowed to enter it when the owner of the room, a woman, is busy doing something.
However, room here can also mean an abstract thing, such as special time where she can enjoy herself, either to write, to paint, or to do any other creative things. She can do it anywhere as long as nobody disturbs her, perhaps a park, a garden, a kitchen, the living room, or any other place. The most important thing is that she is respected by everybody to be herself.
Virginia Woolf who was born into a very communicative, literate, letter writing, visiting, articulate, late-nineteenth-century world was quite lucky. She could dig out her potential to her heart’s content so that she could produce many masterpieces, such as her novels, Mrs Dalloway, To The Lighthouse, until A Room of One’s Own. Charlotte Perkins Gilman had to undergo nervous breakdown to pursue her work as a writer because her first husband, Charles Walter Stetson did not support her effort to “get a name by her own name” and not as a Mrs. Charles Walter Stetson. Alice James—the sister of Henry James, and Edith Wharton were two other examples of women writers who were diagnosed as to suffer from nervous breakdown. Was it because they did not have their own room? Their own privacy to do what they want to do to express themselves?
Anna Wickham in her poem “Dedication of the Cook” criticized the condition a woman had to face when she wanted to do.

If any ask why there’s no great She-Poet,
Let him come live with me, and he will know it:
If I’d indite an ode or mend a sonnet,
I must go choose a dish or a bonnet.
For she who serves in forced virginity
Since I am wedded will not have me free;
And those new flowers my garden is so rich in
Must die for clammy odors of my kitchen.


One century will have passed since Virginia Woolf wrote A Room of One’s Own. In my country, Indonesia, lotsa women still do not enjoy their own private room, their own privacy, moreover after they get married. A married woman is still obliged to give the first priority to her husband, and then children, and themselves as the least important.
PT56 13.45 150507

Jurnal Perempuan

JURNAL PEREMPUAN (JP) adalah bacaan favoritku.
Pertama kali ‘berkenalan’ dengan JP sekitar tahun 2003 (better late than never, as always!!!), tahun yang sering kuanggap menjadi batas perubahan dari seorang Nana yang konvensional menjadi Nana yang feminis dan sekular. Buku pertama sebagai penanda bahwa aku telah mendapatkan ‘enlightenment’ adalah buku STUDI AL-QURAN KONTEMPORER terbitan IAIN Sunan Kalijaga, yang berisi artikel-artikel ilmiah tulisan-tulisan dosen IAIN SuKa, terutama yang berjudul “Metodologi Tafsir Perspektif Gender (Studi Kritis Pemikiran Riffat Hassan)”, tulisan Abdul Mustaqim.
Namun yang kemudian menjadi acuanku untuk menempa diri menjadi seorang feminis adalah JURNAL PEREMPUAN. Slogan yang tertulis di bawah judul “untuk pencerahan dan kesetaraan” benar-benar mewakili artikel-artikel yang ada. Tak pernah satu kali pun aku menemukan “fallacy” dalam JP, satu hal yang masih sering kutemukan dalam kolom-kolom “perempuan” dalam surat kabar-surat kabar yang pernah kubaca. Misal: dalam kolom “perempuan” sebuah surat kabar lokal, masih sering kutemukan artikel yang tetap saja membelenggu perempuan menjadi makhluk super bentukan rezim Orde Baru. Contoh tertulis: “Di era emansipasi ini sudah selayaknya lah perempuan mendapatkan hak-hak yang memang mereka miliki, misal berkarir di luar rumah. Namun satu hal yang tak boleh dilupakan adalah bahwa mereka adalah makhluk yang bertanggung jawab atas segala apa yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga.” Tidak pernah ada ‘fallacy’ semacam itu dalam artikel-artikel JP. Benar-benar untuk pencerahan dan kesetaraan. Tentu hal ini tak lepas dari visi dan misi yang diemban oleh mereka yang membidani kelahiran jurnal ini maupun mereka yang berada di balik meja redaksi JP, sehingga mereka hanya meloloskan tulisan-tulisan yang tidak bersifat ambigu.
Motto lain yang tercetak di halaman belakang luar adalah “Jurnal Perempuan adalah satu-satunya jurnal yang menggali secara serius persoalan perempuan serta isu-isu gender di Indonesia dan dunia. Provokatif, analitis, politis, serta membangkitkan kesadaran”. Menyadari bahwa pengekalan stereotyping-stereotyping—misal stereotyping bahwa perempuan adalah makhluk domestik yang lemah—sering dilakukan oleh media, JP pun melakukan ‘pelurusan’ bahwa stereotyping tersebut tidak memiliki akar yang kuat melalui media, dengan tanpa lelah menuliskan hal-hal yang membangkitkan rasa kesetaraan dalam diri pembaca perempuan khususnya, dan pembaca laki-laki pada umumnya.
Beberapa blurb yang ditulis di halaman belakang luar, misalnya:

“Jurnal Perempuan adalah contoh jurnalisme yang teguh menjaga independensinya. Penerbitan seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang berada dalam proses transisi menuju demokrasi” (http://www.saksi.com) (dalam Jurnal Perempuan nomor 19)


“Melihat pada gelagat magma yang ada pada terbitan-terbitan YJP, tak salah kalau kami katakan bahwa yayasan Jurnal Perempuan lewat karya penerbitanya menjadi ujung tombak buku-buku bertemakan isu perempuan di Indonesia kini dan (kelak) nanti.” Oleh T. Jacob Koekerits (misal tercetak pada Jurnal Perempuan nomor 39)


“Jurnal Perempuan is a prestigious feminist publication in Indonesia.” Oleh A. Junaidi dari The Jakarta Post (misal tertulis pada Jurnal Perempuan nomor 58).


Jurnal Perempuan adalah media yang tepat untuk mencari tahu bagaimana perempuan memandang dirinya sendiri.
PT56 16.26 220608

blue jean


blue jean edisi berbahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2003. Versi berbahasa Inggris memiliki judul “blue jean; What Young Women Are Thinking, Saying, and Doing” terbit di Amerika pada tahun 2001.

Semua artikel yang dimuat dalam buku ini telah diterbitkan dalam versi majalah (blue jean magazine) yang pertama kali didirikan oleh Sherry Handel pada tahun 1995. Ide utama yang melatar belakangi terbitnya blue jean magazine adalah untuk menyediakan media bagi para remaja untuk menyuarakan apa yang mereka pikirkan, katakan, dan lakukan, lepas dari cara berpikir orang-orang dewasa yang mendoktrin mereka berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh para kaum kapitalis, lewat iklan, advertorial, maupun tulisan-tulisan. Itu sebabnya blue jean magazine bebas iklan dari produk-produk kecantikan dan glamor yang terbukti banyak ‘menyiksa’ para remaja.

Meskipun dengan cepat mendapatkan tempat di hati para remaja di seluruh dunia, blue jean magazine kesulitan keuangan karena tidak menerima iklan-iklan yang menyesatkan. Sherry Handel menyatakan diri bangkrut dan menutup blue jean magazine pada tahun 1999. Namun dengan semangat dan keyakinan bahwa “para gadis dan perempuan muda harus menciptakan media mereka sendiri” blue jean magazine kembali dalam bentuk digital yang bisa diakses di www.bluejeanonline.com/magazine.htm Penerbitan buku blue jean merupakan salah satu bentuk lain kembalinya media yang memberdayakan gadis-gadis remaja dan perempuan-perempuan muda untuk menulis dan menyunting majalah mereka sendiri.

blue jean yang kumiliki terdiri dari delapan bab, dimana masing-masing bab berisi lima artikel. Satu artikel yang paling menarik perhatianku ada di bab enam yang diberi judul CITRA TUBUH. Sedangkan artikel tersebut berjudul “Terpecah Belah Akibat Bias Gender” ditulis oleh Sarabeth Matilsky, 16 tahun, dari Highland Park, New Jersey. Dalam menulis artikel ini, Sarabeth terinspirasi oleh buku Mary Pipher yang berjudul “Reviving Ophelia: Saving the Selves of Adolescent Girls”. Orang tua Sarabeth membesarkannya dan saudara kandungnya tanpa stereotipe peran gender. Namun lingkungan yang masih memelihara stereotipe peran gender dengan kuat tentu saja tanpa sengaja mempengaruhi Sarabeth dan mulai bertanya-tanya. Misal: tatkala memberi hadiah, mobil-mobilan adalah pilihan untuk adik laki-lakinya, sedangkan untuk Sarabeth dan kakak perempuannya, boneka dan jepit rambut.
 
Ketika berusia belasan tahun, Sarabeth mulai melihat teman-teman sekolahnya yang meributkan penampilan mereka dengan mencemaskan tatanan rambut, riasan, perhiasan, dan berat tubuh mereka. Memperhatikan penampilan menjadi jauh lebih penting—padahal bagi Sarabeth hal tersebut jauh lebih dangkal dan tak berarti—jika dibandingkan dengan berpikir tentang perdamaian dunia atau lingkungan.

Meskipun berusaha keras untuk tidak ‘mengikuti arus’, tekanan-tekanan dari iklan-iklan di televisi, majalah, maupun billboard di jalanan terus menerus membombardirnya, sehingga tak pelak Sarabeth pun kadang-kadang berdiri di depan cermin, memandang refleksi tubuhnya di sana semberi bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku terlalu gemuk?” Sedetik kemudian dia pun menjawab pertanyaannya sendiri, “Terlalu gemuk menurut standar siapa? Dan memangnya itu penting?”

Sarabeth mengakhiri tulisannya dengan pengakuan bahwa dirinya tetap saja terpecah belah atas bias gender yang ada dalam masyarakatnya. Sehingga tak salah jika dia berharap anak-anak perempuannya nanti akan menghadapi masyarakat yang tak lagi membebani perempuan-perempuan dengan hal-hal yang tidak penting itu.
 
PT56 20.36 230608