Sabtu, 07 Juli 2012

Lelaki Tercipta untuk Meninggalkan Perempuan?


LELAKI TERCIPTA UNTUK MENINGGALKAN PEREMPUAN?


Sula novel by Toni Morrison
“Men were created only to leave their women.” Kata Sula pada Nel, sahabatnya sejak kecil dalam novel yang berjudul SULA karangan Toni Morrison. Sula menggunakan ‘excuse’ ini sebagai alasan ketika Nel bertanya kepada Sula mengapa Sula dengan tega tidur bersama Jude, suaminya Nel. So, tidak peduli dengan siapa pun Jude berselingkuh, akhirnya Jude toh tetap akan meninggalkan Nel.

Mungkin cara berpikir Oka Rusmini tidak jauh berbeda dari Toni Morrison lewat penokohan Sula dalam novelnya ketika dia menulis cerpen (yang panjang) yang berjudul “Tiga Perempuan”. (Cerpen pertama dalam buku KumCer “Akar Pule”) Pudak – atau sering disebut ‘jegeg’ maupun ‘tugeg’ si anak pertama – adalah tokoh sentral, si “aku” dalam cerpen ini. Pudak memiliki seorang adik perempuan bernama Melati. Ketika mereka masih termata muda, Pudak berusia 8 tahun sedangkan Melati 4 tahun, ayah mereka – yang disebut ‘Aji’ – meninggalkan istri yang ibu Pudak dan Melati demi perempuan lain. Karena tidak tahan diperlakukan demikian, ibu mereka pun menyerahkan Pudak dan Melati kepada nenek dari ayah mereka, yang disebut Tuniang, agar dia bisa bebas menikah dengan lelaki lain. Istri kedua Aji, memberi seorang anak perempuan lagi yang namanya tidak disebut oleh Oka.

Kumpulan Cerpen karya Oka Rusmini
Tanpa alasan yang jelas Pudak bercerita bahwa suami yang telah dia pilih untuk dia nikahi selama puluhan tahun memiliki kekasih maya, (Pudak pernah menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya dengan lelaki yang beragama dan kasta sama) dimana mereka berdua selalu berhubungan di malam hari, mulai pukul sepuluh malam ketika Pudak baru saja tertidur dengan kedua anaknya, Jasmine dan Plato, hingga pukul empat pagi. Bahkan mereka berdua menyebut diri sebagai “sejoli malam”. Meski telah jelas-jelas menemukan bukti perselingkuhannya – lewat email, sms, maupun YM – sang suami selalu menolak mengakuinya. Terus bersikukuh bahwa hubungan yang mereka miliki adalah hubungan bisnis semata.

Meski digambarkan Pudak terus menerus mengeluh, Oka tidak membuatnya sebagai seorang tokoh perempuan yang gagah berani, misalnya dengan berani memutuskan bercerai. Apakah karena dia telah dibuang oleh keluarganya karena menikahi lelaki yang berbeda agama hingga berarti dia juga telah kehilangan posisi terhormatnya sebagai perempuan yang berasal dari kasta tertinggi? Hanya satu kali dikisahkan Pudak akan bunuh diri dengan mnjatuhkan mobil yang dia naiki bersama kedua anaknya ke jurang. Usaha bunuh diri ini digagalkan oleh seorang perempuan yang menatap matanya dengan tajam dan menyuruhnya untuk menatap wajah kedua anaknya yang duduk di bangku belakang mobil.

Melati – sang adik – menikahi lelaki dari agama dan kasta yang sama. Dan ternyata hal ini tidak berarti bahwa dia memiliki perkawinan yang lebih bahagia dari pada kakaknya. Oka tidak menjelaskan apa sebabnya sehingga Melati memutuskan bercerai. (Dalam hal ini Melati terlihat lebih ‘berani’ memutuskan sesuatu demi kelangsungan hidupnya sendiri.)

“AJI memang bukan bapak yang baik. Mungkin kalian tahu dan paham itu,” ... “Aji tidak akan pernah melarang kalian pulang. Pulanglah kalian, kapan pun kalian mau. (Halaman 15)

Mungkin menyadari bahwa ketidakbahagiaan anak-anaknya juga berasal dari apa yang dia lakukan di masa lalu, maka sang ayah pun menawarkan ‘sanctuary’ untuk anak-anaknya. Jika bagi keluarga ‘terhormat’ (dalam hal agama dan kasta) lain menerima kembali anak perempuan yang telah menikah merupakan aib, (anak perempuan yang telah menikah dalam budaya Bali dianggap telah menjadi milik keluarga laki-laki/sang suami), si tokoh AJI disini memilih sifat yang bertolak belakang. Demi untuk menebus dosa masa lalu?

Si anak perempuan ketiga – adik tiri Pudak dan Melati – dikisahkan bunuh diri setelah membunuh anaknya yang berusia satu tahun. Dia tidak mampu menahan duka hatinya setelah menangkap basah suaminya berselingkuh sepanjang lima tahun usia pernikahannya.

“Kalau kalian punya problem, datanglah padaku. Rumah besar dan tabunganku masih bisa menghidupi seratus cucuku.” Kata sang Aji dingin, seusai upacara pemakaman anak perempuan bungsunya. (halaman 44)

Dalam cerpen yang lumayan panjang ini, tidak hanya tiga perempuan ini saja yang memiliki kisah ditinggalkan oleh lelakinya. Masih ada beberapa tokoh perempuan lain yang dikisahkan memiliki nasib yang sama, tak pandang apakah dia seorang perempuan yang cantik jelita, kaya, berpendidikan tinggi, maupun perempuan yang buruk rupa, miskin, dan tidak berpendidikan. Pada dasarnya mereka akan memiliki kisah yang sama – ditinggalkan oleh lelaki yang pernah berjanji bahwa mereka akan menjadi satu-satunya perempuan yang mereka puja.

Jika kita membaca karya-karya Oka Rusmini, kita akan mendapati beberapa tema utama yang hampir setipe dengan cerpennya yang berjudul “Tiga Perempuan” ini.
1.   Dikhianati oleh lelaki
2.   Dibuang oleh keluarga karena (seorang perempuan) menikahi laki-laki yang beragama lain atau berasal dari kasta yang lebih rendah
3.   Kultur Bali yang sangat patriarki – misal seorang perempuan otomatis menjadi milik keluarga suami yang menikahinya, dan jika sampai terjadi perceraian, anak-anak secara hukum adat menjadi milik keluarga ayah

Latar belakang Oka Rusmini yang perempuan Bali, berasal dari kasta Brahmana, kemudian menikah dengan laki-laki non Bali tentu sangat mempengaruhi karya-karyanya. Dikarenakan tema yang sering ‘gloomy’ maka kata-kata yang dipilih pun bernuansa murung, sedih, dan luka.
Kembali ke awal tulisan, apakah memang laki-laki tercipta untuk meninggalkan perempuannya (baca รจ istri) untuk perempuan lain (atau laki-laki lain?)

PT28 14.14 070712

Senin, 25 Juni 2012

Perempuan Buruh = Budak?

Ini respons yang langsung melintas dalam benakku seusai membaca cerpen "Kebun Teh", salah satu cerpen yang terhimpun dalam KumCer Perempuan Kopi.

Salah satu (atau dua ya?) pembaca yang menghadiri acara bincang-bincang buku Perempuan Kopi pada hari Jumat 22 Juni 2012 telah sempat menyinggung topik cerpen yang satu ini: bahwa perempuan yang hidup di perkebunan dan bekerja menjadi buruh -- atau apa pun posisinya -- tak pernah secara utuh memiliki tubuhnya, dan juga hidupnya. Bahkan, seorang perempuan bisa jadi juga bukan milik suami yang secara legal menikahinya.

Hal ini mengingatkanku ketika membaca novel Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang konon merupakan salah satu trigger pecahnya perang saudara di Amerika Serikat pada tahu 1860 - 1865. Para budak itu sama sekali tak punya hak untuk memiliki hidupnya, hidup mereka adalah milik tuan tanah yang juga memiliki mereka. Terserah para tuan tanah akan melakukan apa pun terhadap hidup para budak itu; misal dijadikan sapi perah untuk terus bekerja dari pagi hingga petang, dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki), atau hanya 'sekedar' menjadi budak seks sang tuan tanah.

Meski sangat menentang praktik perbudakan -- dalam bentuk apa pun juga -- aku berpikir yang dilakukan oleh para tuan tanah di Amerika Serikat bagian Selatan waktu itu masih bisa 'dikunyah' akal.

Namun jika ternyata praktik yang tidak jauh beda itu juga dilakukan di perkebunan-perkebunan di Indonesia, dimana para pekerja disana mendapat upah -- yang meski mungkin tidak layak -- akan tetapi predikat mereka bukanlah 'budak', mereka adalah pekerja.

Dewi Nova (DN) menyatakan bahwa ketigabelas cerpen yang dia tulis berdasarkan realitas hidup yang dia amati dalam kehidupannya sehari-hari. Secara lugas DN mengatakan bahwa topik cerpen dalam "Kebun Teh" pun dia ambil dari kenyataan yang pernah dia lihat sendiri.

Seorang peserta bincang-bincang buku "Perempuan Kopi" mengatakan di Kalimantan (atau Sumatra ya?) dia pernah mendapati praktik serupa. Namun lebih 'setara'. Ada suami istri yang posisinya paling tinggi di sebuah perkebunan. Jika sang istri sedang pergi jauh dalam waktu lumayan lama, sang suami meminta anak buahnya untuk bergilir mengirim istri-istri mereka untuk 'menemani'nya. Juga sebaliknya, jika sang suami pergi jauh dalam waktu lama, sang istri akan meminta anak buah suaminya -- yang laki-laki karena kebetulan sang istri ini hetero -- untuk 'menemaninya'.

Ada satu kalimat yang sangat aku sukai dari cerpen "Kebun Teh".

Teringat pesan bapak, jangan pernah melukai tubuh perempuan yang melahirkan anak-anakmu, aku tak pernah membicarakan hal itu dengan istriku, apalagi melukai tubuhnya. (halm. 40)

PT28 15.31 230612

Beberapa komen yang muncul di lapak sebelah, yang akan digusur tanggal 1 Desember 2012 nanti. :'(


orangjava wrote on Jun 27
Pekerja Wanita Indonesia di Arab dijadikan BUDAK....
afemaleguest wrote on Jun 27
orangjava said
Pekerja Wanita Indonesia di Arab dijadikan BUDAK....
betul itu Pak Dhe :(
orangjava wrote on Jun 27
betul itu Pak Dhe :(
Memang malah ada 2TKI yang dibawa Kedubes ARAB SAUDI, gak boleh keluar mereka kabur, minta bantuan ke POLISI, anehnya masih saja Pemerintah RI mengirim tenaga² ke ARAB, aku ora mudenk.......
afemaleguest wrote on Jun 27
orangjava said
Memang malah ada 2TKI yang dibawa Kedubes ARAB SAUDI, gak boleh keluar mereka kabur, minta bantuan ke POLISI, anehnya masih saja Pemerintah RI mengirim tenaga² ke ARAB, aku ora mudenk.......
karena pemerintah sendiri ga mampu menyediakan lapangan kerja buat mereka :-(
afemaleguest wrote on Jun 27
meluncuuurrr
orangjava wrote on Jun 27
Dulu sampe persoalan ini gede..http://www.spiegel.de/spiegel/print/d-79175749.html.....coba pake Tante GOOGLE...
rengganiez wrote on Jun 27
dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki)
di Indonesia juga ada :-(
afemaleguest wrote on Jun 27
sedihnyaaa :-(
martoart wrote on Jun 27
setidaknya di dunia jaman sekarang secara resmi sudah dinyatakan terlarang. hukum yg beradab pada moral kemanusiaan suah diterapkan, meski ada praktek yg melanggarnya.

yg sedih adalah di dunia jaman sekarang masih ada yg secara resmi menerapkan hukum tidak beradab. tki yg dikirim, secara hukum negeri penerima bukan lagi dihitung pekerja, tapi dibeli sebagai budak.
orangjava wrote on Jun 27
martoart said
setidaknya di dunia jaman sekarang secara resmi sudah dinyatakan terlarang. hukum yg beradab pada moral kemanusiaan suah diterapkan, meski ada praktek yg melanggarnya.

yg sedih adalah di dunia jaman sekarang masih ada yg secara resmi menerapkan hukum tidak beradab. tki yg dikirim, secara hukum negeri penerima bukan lagi dihitung pekerja, tapi dibeli sebagai budak.
Malah BUDAKnya sampe dibawa ke Berlin segala...untung bisa kabur...
afemaleguest wrote on Jun 28
how I hate that foolish so-called 'religious' chauvinist country! :-(((
agamfat wrote on Jun 27
Di Saudi praktek ginian melenggang bebas, dg segala ayat dan pembela
afemaleguest wrote on Jun 28
how I hate that country! :-(
rembulanku wrote on Jun 28
ck ck ck nasibnya perempuan kok ya masih menyedihkan
afemaleguest wrote on Jun 28
begitulah La :-(
nanaskuningkeci wrote on Jun 28
jd teringat film Abraham Lincoln : Vampire Hunter mengenai perang amerika itu jadinya
afemaleguest wrote on Jun 28
ahaaa
aku belum nonton :-)

Kamis, 21 Juni 2012

Bincang-bincang buku Perempuan Kopi


Talking about Book Discussion program, aku sangat jarang memiliki kesempatan untuk ikut hadir. Ada beberapa excuses yang bisa kukemukakan sebagai seseorang yang mengaku sebagai bookworm, book lover, atau pun book collector. :-D
  1. Waktu penyelengaraan yang sering tidak 'tepat' dengan waktu luang yang kumiliki. Sebagai seorang pekerja keras, aku kerja dua kali sehari, pagi jam 07.00 - 15.00; sore jam 17.00 - 21.00.
  2. Jika kebetulan waktu penyelenggaraan pas dengan waktu luang, tempat penyelenggaraan yang tidak friendly bagi seorang bike-to-worker sepertiku.
  3. Jika waktu dan tempat penyelenggaraan 'oke', mood-ku sedang kabur. wkwkwkwkwk ... (yang ini sangat jarang, suwer!) Atau mungkin anak semata wayangku sedang butuh perhatian ekstra sehingga tidak bisa kutinggalkan. (Sometimes one function to have kids is to have a very good scapegoat for something. LOL.)
Jumat 22 Juni 2012 kebetulan merupakan hari libur bagiku dan tidak ada kegiatan apa pun yang ada di agendaku, maka kusempatkan menghadiri acara "Bincang-Bincang Buku "Perempuan Kopi" besutan seorang pengarang perempuan yang intens sekali perhatiannya kepada isu perempuan, Dewi Nova. Plus, tempat penyelenggaraan yang tidak jauh dari tempat tinggalku, dan aku lumayan familiar dengan gedung itu, Kompas/Warta Jateng, yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno. Tahun 2010 lalu, Komunitas b2w Semarang mengadakan kerjasama dengan Kompas dalam rangka menyelenggarakan talk show 'jalur sepeda'. :)

DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku. :) Aku 'mengenal' nama itu pun karena seorang sahabat terkasih -- Asih Ernawati -- menyebut namanya beberapa bulan lalu sebagai seorang penulis yang sangat concerned terhadap isu perempuan. Aku belum pernah tahu buku apa yang pernah dia tulis sampai beberapa bulan lalu DN mempromosikan buku "Kami Tidak Bisu" yang ditulis oleh Kamilia Manaf sedangkan DN adalah editornya.

Judul buku "Perempuan Kopi" telah kuketahui beberapa minggu lalu dari wall DN maupun wall orang lain yang mempromosikannya. Aku memang kepengen beli, namun menunggu kesempatan aku 'bernafas lega' dari kegiatan sehari-hari untuk kemudian meluncur ke toko buku. Maka, ketika aku membaca flyer di efbe yang mempromosikan acara bincang-bincang buku yang diselenggarakan di kantor Kompas/Warta Jateng, aku langsung berniat datang.

Berhubung aku belum punya bukunya dan belum membaca satu pun cerpen yang ada di dalamnya, aku hanya menjadi pendengar yang baik saja selama bincang-bincang yang dimoderatori oleh Kang Putu. :) Namun seperti yang bisa diperkirakan dari 'background' yang diberikan oleh Asih bahwa DN adalah seseorang yang sangat care pada isu perempuan, cerpen-cerpen yang ada di dalamnya berkisah tentang perempuan-perempuan.

Mengapa 'perempuan'? DN adalah seorang perempuan yang juga selalu penuh semangat menyuarakan segala sesuatu yang berkenaan dengan suara perempuan yang terpinggirkan di tengah-tengah status quo kultur patriarki.

Mengapa 'kopi'? DN menjelaskan bahwa kopi memiliki sejarah kolonialisasi. Belanda yang menjajah Indonesia sekian abad, yang membawa kopi ke Indonesia yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil kopi ketiga terbesar di dunia (http://forum.detik.com/indonesia-penghasil-kopi-terbesar-ke-3-dunia-t292411.html). Namun, masyarakat Indonesia sendiri harus membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi yang memiliki kualitas di atas rata-rata. Ada kisah sedih di balik sebiji kopi, laksana para perempuan yang suaranya terpinggirkan.

Komentar beberapa pembaca yang sempat kurekam adalah tentu seorang DN menulis tidak hanya sekedar menulis, melainkan melalui riset yang cukup memadai. DN sendiri menjelaskan bahwa dia berpindah menulis ke fiksi -- dari 'laporan' riset dan essay -- karena dia ingin membuat para pembacanya selalu terkenang isu-isu yang dia angkat dalam tulisannya. Berbeda dengan membaca hasil riset yang mungkin kurang dibumbui kata-kata indah sehingga orang akan mudah lupa.

Dalam buku "Membaca Sastra" Melani Budianta dkk mengawalinya dengan mengemukakan beda antara tulisan fiksi versus non fiksi, dimana memang biasanya orang akan lebih teringat sebuah 'berita' yang ditulis dalam bentuk fiksi yang lebih menyentuh. Misalnya, kisah seorang perempuan Cina yang menjadi korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 Jakarta yang ditulis dalam bentuk cerpen akan lebih menggugah perasaan pembaca dari pada membacanya dalam bentuk berita di surat kabar.

"Menciptakan tokoh yang utopis" merupakan salah satu kenikmatan yang disukai oleh seorang DN dalam menulis fiksi. Dalam cerpennya yang berjudul "Anak", DN mengaku menciptakan seorang tokoh utopis, seorang ibu yang sedemikian rupa mempersiapkan anak gadisnya yang berusian belasan tahun untuk mengenali dirinya sendiri, mengenal gairah seksualnya, termasuk bagaimana melakukan seks yang aman dengan anggapan bahwa sang anak adalah seorang hetero, terkaget-kaget ketika sang anak mengaku bahwa dia seorang lesbian. Meskipun kaget, sang ibu -- yang tentu diciptakan oleh DN sebagai seorang feminis yang memahami segala isu seksualitas termasuk orientasi seksual -- menerima pengakuan sang anak dengan legawa, dengan penuh perhatian.

Mengingat seksualitas merupakan salah satu topik sentral yang diusung dalam buku ini, maka seorang pembaca pun mengatakan bahwa dalam buku ini, DN merayakan seksualitas. Seorang perempuan mungkin menjadi seorang korban seksual dalam satu waktu, namun bisa jadi juga seorang perempuan sangat bebas menyuarakan kebutuhan seksualnya tanpa perlu merasa tabu atau dikungkung oleh moral publik. Sebuah kebebasan yang hanya bisa diperoleh oleh seorang perempuan jika dia menginginkannya.

Mengenai 'tuduhan' bahwa mungkin DN menulis buku ini untuk pembenaran ketaklaziman -- isu lesbianisme -- DN dengan manis mengatakan bahwa memang dia tidak pernah berpikir bahwa cinta sesama jenis merupakan satu ketaklaziman. Cinta ya cinta. Titik.

Sudahkan anda memiliki buku "Perempuan Kopi"? Jika anda mengaku sebagai seseorang yang hobi membaca, yang concern terhadap isu perempuan, yang hobi minum kopi, ayo bacalah bukunya. :)

McD 13.34 220612

Beberapa komen dari lapak sebelah, yang harus kucopy-paste disini, sebelum dihilangkan secara paksa.

orangjava wrote on Jun 26
ISBN??
afemaleguest wrote on Jun 26
orangjava said
ISBN??
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
orangjava wrote on Jun 26
ya adalah ISBN-nya Pak Dhe :)
Mana??
afemaleguest wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
orangjava wrote on Jun 26
waahhh harus ngecek di bukunya
emang penting to Pak Dhe?
what for? :-D
Mau nyari di AMAZON kali aja ada yang jual....buku RI gak ada disini...kalau ada sudah diterjemahkan dalam bahasa Jejeran Sleman..seperti dari Muchtar Lubis, Pramudyia Ananta Toer...
afemaleguest wrote on Jun 26
tentu belum diterjemahkan ke bahasa asing mana pun :-D
bambangpriantono wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
afemaleguest wrote on Jun 26
*Disambi ngupi*
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
aku wis pirang dino iki ora ngopi ...
Ngopo?
*sruputt*
afemaleguest wrote on Jun 26
Ngopo?
*sruputt*
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
bambangpriantono wrote on Jun 26
yen preinan sekolah ngene, aku malah ora ngopi ...
saiki nang rumah sakit, ponakan lara, ora iso ngopi ...
Oooo..RS endi?
Gek ndang mari yo
afemaleguest wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
onit wrote on Jun 26
RS Telogorejo
matur nuwun ya?
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
afemaleguest wrote on Jun 27
onit said
mbak.. nang ngisore rs iku mbok akeh sing dodol ngombe? ora ono kopi yo?

ps: thx for the review :)
ada ... torabika ... tapi aku belum pernah nyoba kopi torabika je
^^
rengganiez wrote on Jun 26
membaca "Perempuan Kopi" sambil ngopi yo, mbak...
afemaleguest wrote on Jun 26
iyo
hahaha
rembulanku wrote on Jun 26
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
afemaleguest wrote on Jun 27
mbak, kalo tempatnya kurang friendly ya sekali2 naek taksi gpp tho
hehehe itung2 biar si seli istirohat dirumah :D
sshhhttt ...
eman-eman duite ... haghaghaghag
martoart wrote on Jun 30
DEWI NOVA. Honestly, nama pengarang satu ini adalah nama yang baru di telingaku.
Sama. Malah kukira De 'Supernova'
afemaleguest wrote on Jul 4
:-)