Kamis, 08 Juli 2010

Perempuan Sejenisku

PEREMPUAN SEJENISKU
Wanda Coleman
(diterjemahkan secara bebas oleh seorang Nana Podungge)

kuikuti lekuk liku penisnya
dengan lidahku

ada warna tertentu yang dimiliki para perempuan
sepertiku, yang biasa dilihat oleh kaum lelaki

berada di lapisan paling bawah dimana tekanan
terasa sangat kuat, berupa kaum yang paling tak diingini
hingga rasanya mati jauh lebih baik
begitu kupikir

ada warna tertentu dimana perempuan
kaumku dipandang oleh lelaki kulit hitam
sebagai orang suci
sebagai ibu
sebagai saudara
sebagai pelacur
namun yang paling sering sebagai musuh

ini bukanlah salah kami, kami adalah korban
yang memilih untuk terus berjuang dan terus hidup

ada warna tertendu dimana perempuan
kaumku dipandang oleh lelaki kulit putih
sebagai makhluk eksotis
sebagai musuh
namun yang paling sering sebagai pelacur

luka yang cukup membuatku menangis
namun tak kulakukan

kuikuti lekuk liku penisnya
dengan lidahku

akankah kupandang
matahari!


Gombel Lama 13.13 delapan juli duaribu sepuluh

Satu hal penting untuk dikemukakan di awal yakni Wanda Coleman adalah seorang pengarang perempuan berkulit hitam sehingga akan mudah bagi kita untuk melakukan interpretasi atas puisinya ini. Coleman menuliskan duka hatinya terlahir sebagai perempuan berkulit hitam di Amerika Serikat.

Sejarah tentang praktek perbudakan di negeri Paman Sam selama kurang lebih duaratus tahun tentu sangat menentukan bagaimana masyarakat dimana memperlakukan ‘saudara-saudara’ mereka yang berkulit hitam. Jika sampai sekarang saja kaum perempuan berkulit putih disana masih merasa dinomorduakan, apalagi kaum perempuan berkulit hitam. (Bukti, Hillary Clinton tidak disukai ketika dia menominasikan diri untuk maju ke pemilihan presiden beberapa tahun lalu. Bukti lain, di pertengahan tahun 1980-an, tatkala salah seorang dosenku – perempuan – mengambil gelar master dan doktor di Amerika, dia mendapat applause yang sangat hebat ketika dia memperkenalkan posisi dia di almamaterku sebagai kepala jurusan Sastra Inggris. Konon di Amerika sana, posisi kepala jurusan, apalagi Dekan dan di atas itu, sangatlah ‘maskulin’ alias dipegang oleh kaum berpenis.)

Maka, jika masyarakat Amerika bisa dibagi menjadi kasta-kasta tertentu (berdasarkan jenis kelamin, plus warna hitam dan putih, bukan berdasarkan race yang banyak dijumpai di sana), maka ada empat kasta utama. Paling tinggi adalah laki-laki berkulit putih, di bawahnya, perempuan berkulit putih, di bawahnya lagi laki-laki berkulit hitam, dan yang paling bawah adalah perempuan berkulit hitam. Inilah yang dimaksud oleh Coleman dalam puisinya pada baris kelima dan keenam being on the bottom where pressures are greatest dan juga least desirable.

Laki-laki berkulit hitam sendiri menganggap rendah perempuan berkulit hitam, seperti yang terlihat pada bait keempat. Ada saat-saat tertentu dimana perempuan berkulit hitam dianggap sebagai orang suci, yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah mendendam, sebagai satu sikap menerima nasib terlahir sebagai perempuan berkulit hitam; mereka harus menerima itu. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai seorang ibu; di satu sisi sebagai ‘mesin pembuat anak’ karena pada saat-saat tertentu kaum kulit hitam mengidolakan perempuan berkulit hitam yang subur. Pada zaman perbudakan dulu, para pemilik budak memaksa budak-budak perempuannya untuk dihamili oleh budak-budak laki-lakinya – atau terkadang para pemilik budak itu meniduri budak-budak perempuannya sendiri – untuk memiliki budak lebih banyak. Hal ini dianggap lebih murah daripada harus membeli budak baru di pasar budak. Anak-anak yang dilahirkan oleh perempuan-perempuan budak otomatis akan menjadi budak pula, dan menjadi hak milik sang tuan (pemilik budak). Di sisi lain, perempuan berkulit hitam dianggap sebagai ibu yang seharusnya memberi pengayoman kepada kaum lelaki berkulit hitam, tatkala mereka membutuhkannya. Hal ini sama dengan ‘peran’ sebagai ‘sister’. Sedangkan peran sebagai ‘pelacur’ ini juga merupakan ‘warisan’ zaman perbudakan dulu; perempuan berkulit hitam – sebagai kelas masyarakat yang paling hina – harus mau diapakan saja. Pada baris terakhir bait keempat, but mostly as the enemy menjelaskan bagaimana tatkala kaum laki-laki kulit hitam frustrasi atau marah kepada kaum kulit putih, namun tak berani mengungkapkan hal tersebut, maka perempuan kulit hitamlah yang menjadi ‘bemper’ alias korban sasaran kemarahan laki-laki kulit hitam. Sebagaimana kaum kulit putih menyiksa kaum kulit hitam (terutama laki-laki) di masa perbudakan dulu, begitu pula laki-laki kulit hitam menyiksa perempuan kulit hitam.

Bait keenam menggambarkan bagaimana laki-laki kulit putih memandang perempuan kulit hitam: eksotis, seperti kita tahu kaum kulit putih mengidolakan warna ‘tan’, sehingga perempuan kulit berwarna nampak eksotis di mata mereka; enemy meski menganggap mereka eksotis, namun karena selama berabad-abad kaum kulit hitam dianggap hina, bahkan kadang lebih hina dibandingkan binatang (dalam novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe perlakuan ini jelas digambarkan), laki-laki kulit putih tak berani melakukan tindakan yang lebih daripada hanya memandang mereka dari kejauhan, atau menyiksa mereka sebagai ungkapan kemarahan yang tidak jelas sebabnya mengapa. Atau paling banter adalah menganggap mereka sebagai but mostly as whores. Puisi ini ditulis ketika perbedaan kulit putih dan kulit hitam masih sangat mendalam, dimana laki-laki kulit putih akan sangat dilecehkan oleh masyarakat jika jatuh cinta kepada perempuan berkulit hitam. Jika yang sebaliknya yang terjadi, perempuan kulit putih jatuh cinta pada laki-laki kulit hitam, sang laki-laki akan dibunuh dengan cara digantung di pohon ramai-ramai oleh kaum kulit putih. (lynching )


lynching

Dalam versi Bahasa Inggris, dengan sengaja Coleman menulis i yang berarti saya dengan huruf kecil untuk menunjukkan betapa perempuan berkulit hitam tidak memiliki arti apa pun di tengah masyarakat Amerika. blow job yang dilakukan oleh perempuan kulit hitam (seperti yang tertulis pada larik kesatu dan kedua, kemudian diulangi lagi pada larik keduapuluh lima dan duapuluh enam) menunjukkan rendahnya posisi perempuan berkulit hitam.

Bait terakhir merupakan tanya Coleman akankah ada masa depan yang cerah bagi perempuan kaumnya.

GL7 13.59 080710

Interpretasi dalam Bahasa Inggris bisa diklik disini Women of My Color

Tidak ada komentar: