Searching

Rabu, 18 Juni 2008

Jadilah Orang Cina


 

“Jadilah orang Cina!” (Be a Chinaman!) is a title of one short story in PETUALANGAN CELANA DALAM. As in my previous post, the story has setting place Semarang, especially Pendrikan and Magersari, where in the boundary of those two areas the writer of the book, Nugroho Suksmanto, was born. Let me quote the special stanza printed as an opening of the story.


Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha aku harus jadi orang “Cina”. Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka.


(I remember my father’s advice very well. If I want to be a businessperson, I have to be “a Chinaman”. He meant not only to socialize with Chinese and understand their behavior, but I also have to comprehend their culture and apply it in my daily life so that I can become successful as they are.)
In this story, Nugroho narrated a teenage boy’s experience before Ramadhan month came. Several weeks before Ramadhan, the dwellers of Magersari area were busy to do many activities to collect money to welcome Lebaran day, the biggest Holiday for Muslim. It had been a tradition to celebrate Lebaran, people wore new clothes, went sightseeing around the town, ate and drink to their heart’s content. To do all of those things, people needed much money.


What kind of activities did people in Magersari do to collect money? Such as making toys of ‘warak ngendog’ and piggy bank, making cookies, sewing clothes, and then they sold them in DUG-DER. Meanwhile for some naughty children, they tried their luck to collect money by gambling! Some games mentioned by Nugroho are ‘dadu kopyok’, ‘udar-bangkol’, ‘cap-sa’.


Talking about ‘dadu kopyok’ I remember I saw it done too in my dwelling place in 1970s, Bulu Setalan, on the south of Magersari. It was done by a group of people, adults, close to my house. (FYI, Bulu Setalan is a very crowded area where many small houses are built very close to each other, leaving no space for yard. In that era, my parents were one of two people in our alley who had televisions. No wonder in the evening, my house was always crowded by neighbors who wanted to watch television. 

This made me able to sneak out of the house to watch people gambling.) Curiously, I came close to it and watched those people playing. I thought it was just a kind of game. When I saw someone win, he could get much more money than the money he put on one number, I was amazed. Was it that easy to get much money with only a little capital? This made me think of taking some money from my piggy bank to join the game. Unfortunately, I didn’t see any other children around my age joining it. This made me doubtful. However, I was really tempted by the easy way to get much money. As a little child, I didn’t have any access to get much money in a short time besides asking for it to my parents. My relatives lived in one town in North Sulawesi, Gorontalo. This hampered me to enjoy one thing that other children did on Lebaran holiday: getting some pocket money from their grandparents, uncles, aunties, cousins, etc.


Thinking of the much money I would get led me to one thing: I had to take some money from my piggy bank! After I won, I could put my money back to my piggy bank, right? Among many neighbors watching television in the living room of my house, I sneaked into a special place where I hid my piggy bank, in one cupboard located in the kitchen. I did it in the dark so that I would not attract anybody’s attention. When making a small hole at the bottom my piggy bank carefully, but nervously (I felt like I had done a very big sin  stealing my own saving in my own piggy bank), I was shocked by someone’s voice, “What are you doing in the dark Na? Why didn’t you turn on the lamp?”


I almost fainted. Huh, it was my brother!!! Feeling shy because he caught me in the act, but also feeling sure of what I was doing, I told him my plan. (In fact, he had watched me secretly for some time while I watched those adult people gambling.) Unfortunately he didn’t agree with me. He said, “That is called JUDI (Gambling). It is not just a common game! And you know that JUDI is HARAM in our religion. Don’t do this! No one is rich only because of gambling, our religion teacher said that, right? Our parents will be angry too to know this.”


Uh … I was very disappointed. However, as someone raised in a very strictly religious family, of course I was afraid of making sin, especially making my parents angry!


So? I never joined it even though I was very tempted. I still watched people playing it around my house until my dad found out and he forbade me to go out in the night to see those people. 


P.S.: What is the relationship between the title of the short story with gambling? Read the story by yourself, will ya? :)


PT56 21.20 150807


-------------------------------
1 Warak ngendog is a special creature that is believed to represent three different ethnic groups in Semarang: Javanese, Chinese and Arabian. Its head is like a dragon (Chinese), its body is the combination of buraq (a special animal believed to take Prophet Muhammad to Sidratil Muntaha => Arabian) and goat (Javanese).


2 Dug-der is a special event held some days before Ramadhan month. This is like a fair done in the evening. In the event, people sell many things, from children toys, clothes, various kinds of food—especially dates are sold because Muslim people believe that to break their fast during Ramadhan month, their fasting will be blessed more if they eat dates

Kajian Budaya Feminis


 

Aku sedang membaca buku yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS, tulisan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Topik yang akan kubahas kali ini adalah pengaruh budaya Jawa—terutama Bahasa Jawa dalam pengukuhan budaya patriarki.


Aquarini adalah seorang perempuan Sunda yang menikahi seorang lelaki Jawa. Di awal pernikahan mereka, suaminya kadang-kadang berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa, dan menyebutnya “kowe”. Ketika Aquarini ikut-ikutan menyebut suaminya dengan sebutan “kowe”, saudara suaminya yang mendengarnya, tergopoh-gopoh mendekati Aquarini dan melarangnya menggunakan istilah yang sama. Sang suami boleh menggunakan istilah tersebut, namun sang istri tidak boleh karena itu berarti Aquarini tidak menghormati suaminya yang dalam budaya Jawa memiliki posisi lebih tinggi daripada sang istri yang seorang perempuan. 


Sebagai seorang feminis, tentu saja Aquarini tidak menyukai hal tersebut karena berbicara dalam bahasa Jawa membuat Aquarini harus memposisikan dirinya lebih rendah dari pada sang suami. Akhirnya Aquarini membuat kesepakatan dengan sang suami untuk tidak lagi berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. 


Membaca hal ini mengingatkanku pada pengalamanku sendiri, terutama dalam pernikahanku yang pertama dengan ayah anakku, Angie. 


Meskipun aku tidak memiliki darah Jawa karena kedua orang tuaku berasal dari Gorontalo, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku dibesarkan dalam lingkungan orang Jawa, dengan budaya Jawa. Hal tersebut membentukku untuk memposisikan diri lebih rendah dari suami without reserve. Misalnya aku memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ untuk menghormatinya, juga tidak pernah aku menyebutnya ‘kowe’ (sebagai ganti, aku selalu menyebut namanya, dan aku menyebut namaku dan tidak menggunakan istilah ‘aku’); sementara dia bebas saja memanggilku hanya namaku dan menggunakan istilah ‘kowe’ kepadaku. 


Setelah bercerai di tahun 2000, dan terluka karena akhirnya harus kuakhiri semua ‘perjuanganku’ untuk bertahan dalam perkawinan itu, aku tak lagi memanggilnya ‘mas’ ketika berinteraksi. Aku juga menyebutnya ‘kowe’ dan aku masih ingat betapa kaget ekspresi wajahnya ketika pertama kali aku melakukannya. Aku ‘belum’ menjadi seorang feminis waktu itu, namun aku ‘telah mengenali’ suatu keinginan dalam hati bahwa aku menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin bagi banyak orang ini adalah hal sepele, namun bagiku (dan juga bagi Aquarini) merupakan salah satu bentuk arogansi budaya patriarki kepada kaum perempuan.


Ah, hal ini mengingatkanku akan salah satu pertanyaan yang disebutkan Aquarini dalam bukunya. “mengapa kaum feminis meributkan hal-hal yang sudah established dari sononya, dimana sebagian besar dari hal tersebut hanyalah merupakan masalah sepele?” aku pun sering mendapatkan pertanyaan yang sama dari orang-orang di sekitarku, juga dari komentar-komentar yang masuk ke blogku (terutama dari para komentator yang berasal dari Indonesia maupun Malaysia dan Singapore.) Pertanyaan yang sering melukaiku karena betapa banyak orang-orang yang hanya take it for granted atas segala hal yang terjadi sehingga menganggap orang-orang feminis sebagai kumpulan orang-orang yang aneh. 


“Can’t you just be an ordinary wife because I am just an ordinary husband?” (hal. 30)


Pertanyaan ini terlontar dari mulut suami Aquarini tatkala dia lelah berdiskusi tentang segala hal dengan Aquarini. Pertanyaan yang membuat Aquarini melongo. Dan aku pun melongo tatkala membaca pertanyaan tersebut keluar dalam buku KAJIAN BUDAYA FEMINIS ini karena pertanyaan yang sama persis pernah ditanyakan oleh ayah Angie setelah aku membentuk diri menjadi seorang feminis. Ketika kita menikah lagi di tahun 2002, aku masih seorang konvensional yang percaya bahwa aku bisa menjadi seorang superwoman (hasil bentukan orde barunya Soeharto!), berhasil dalam karier namun juga merupakan seorang istri dan ibu yang baik, yang tak pernah sekalipun melupakan tugas-tugas rumah tangga, dan jangan lupa, TETAP MEMPOSISIKAN DIRI LEBIH RENDAH DARI SUAMI (meskipun aku tidak lagi menyebutnya ‘mas’, dan juga menyebutnya ‘kowe’).


Ayah Angie tak lagi mengenaliku dengan identitas baruku—seorang feminis—dengan cara berpikir yang kontradiktif dari aku yang dulu (ditambah lagi seorang sekuler!). Atau mungkin dia masih memimpikan aku untuk kembali menjadi seorang istri yang dia kenali dalam perkawinan kita yang pertama.


Kamu percaya kah kalau kita terbentuk menjadi kita sekarang ini dikarenakan our upbringing, juga pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui dalam hidup ini, sehingga merupakan suatu kemustahilan jika kita akan kembali menjadi kita di masa lalu? 


Aku baru membaca buku KAJIAN BUDAYA FEMINIS ini sampai hal 34 dari keseluruhan buku yang terdiri dari 461. buku ini kubeli hari Kamis 6 Juli 2006. aku selalu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan membaca sebuah buku. Bukan karena kesibukanku, namun lebih karena kadang aku terlalu begitu hanyut kedalamnya, sehingga, kadang baru membaca satu paragraf atau kadang satu halaman, hal ini bisa membuatku merenung sampai berjam-jam setelahnya, yang tentu saja membuatku berhenti membaca paragraf/ halaman berikutnya. 


PT56 00.27 100706

Sabtu, 14 Juni 2008

The Zoo Story

 


Pertama kali membaca THE ZOO STORY, naskah drama tulisan Edward Albee tatkala duduk di semester 2 American Studies Graduate Program, Universitas Gadjah Mada, dalam mata kuliah “The Comparative Literature” dengan Pak Bakdi Soemanto, salah satu budayawan terkenal yang tinggal di kota gudeg, Jogjakarta. Atau mungkin Pak Bakdi juga sudah memperkenalkan karya Albee ini tatkala aku menjadi salah satu mahasiswa S1 di jurusan Sastra Inggris UGM? Aku lupa. Kalaupun sudah, tentu topik utama diskusi berbeda, karena waktu aku duduk di S1, THE ZOO STORY dibahas sendiri, sedangkan dalam kuliah “The Comparative Literature”, kita membandingkan karya yang bisa dimasukkan ke dalam kategori absurd ini dengan salah satu karya Putu Wijaya (I am sorry, I forgot the title :( ) yang juga bisa dikategorikan karya absurd.


Semester ini untuk pertama kali dalam sejarah karier-ku mengajar TELAAH DRAMA, LOL, aku membahas THE ZOO STORY—yang aku kategorikan ke MODERN COMEDY work—sebagai karya bandingan LYSISTRATA—yang masuk kategori CLASSICAL COMEDY work.


THE ZOO STORY ditulis oleh Edward Albee pada tahun 1958. Meskipun di awal sejarahnya, THE ZOO STORY kurang laku di Amerika, sehingga pementasan pertamanya dilakukan di Berlin Jerman pada tanggal 28 September 1959, akhirnya THE ZOO STORY pun dipentaskan di Broadway pada tanggal 14 Januari 1960.


Untuk membahas THE ZOO STORY, aku memberikan 4 pertanyaan kepada para mahasiswa:

1. What is the main conflict of the story?
2. What kind of personality traits do the two characters—Jerry and Peter—have?
3. How do their family backgrounds differ from each other?
4. What is your reaction at the end of the play?


Konflik utama dari THE ZOO STORY adalah dampak modernisasi sebuah masyarakat yang membuat orang-orang menderita “penyakit” alienasi; keterasingan pada kehidupan yang mereka miliki. Latar belakang Jerry dan Peter yang bertolak belakang membuat mereka berdua memiliki sisi kepribadian yang berbeda pula. Jerry yang hidup seorang diri—di sebuah rumah susun yang kumuh, dengan landlady yang abusive dan anjingnya yang gila, menurut Jerry—plus tidak memiliki pekerjaan yang tetap nampak cemburu pada Peter yang memiliki kehidupan yang ‘utuh’, menikah, punya anak, yang masing-masing punya binatang kesayangan (satu hal yang jelas membedakan kultur Indonesia dengan Amerika—komentar salah satu mahasiswa, yang sehari sebelumnya kehilangan anjingnya. Di Amerika, seekor binatang kesayangan bisa dianggap sebagai salah satu anggota keluarga, sedangkan di Indonesia, seekor binatang peliharaan ya hanya dianggap sebagai seekor binatang belaka), dan memiliki pekerjaan yang ‘terhormat’ yang memberinya penghidupan yang mapan.


Jerry merasa asing dengan kehidupan Peter yang nampak hanya ada dalam buku-buku dongeng, sedangkan Peter pun merasa asing ada seseorang ‘gila’ seperti Jerry, yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya, dan hidup di sebuah rumah susun kumuh yang menurut Peter “It doesn’t sound like a very nice place ... where you live.” (1963:22)



Menilik masa lalu mereka berdua yang berbeda, tentu tidak aneh jika kepribadian mereka pun sangat bertolak belakang. Peter berasal dari ‘middle-class society’ (satu kelas sosial ‘favorit’ di Amerika) sedangkan Jerry dari kelas ‘poor white trash’. Peter yang well-educated, dari cara dia berbicara, dan Jerry yang not-educated, dari cara dia memprovokasi Peter, agar kehilangan kontrol emosinya.
Mengenai akhir cerita, tak satupun dari mahasiswaku yang ‘mengharapkan’ THE ZOO STORY akan berakhir setragis itu, Jerry mati, bunuh diri, menggunakan pisau yang dia bawa sendiri, meskipun pada waktu itu, pisau berada di tangan Peter.


LL TBL 11.46

Minggu, 08 Juni 2008

Reading


 

“Reading” is always one thing I mention when people ask what hobbies I have, besides swimming, and recently blogging. At home, if I am not mistaken I have more than one thousand titles of books although my paycheck is just so so. (Well, so I think. ) It means people can add another hobby of mine: collecting books.

Do you then think that my days are full of reading activities?

Recently I start to suspect myself that in fact I am not that fond of reading.  I just want to show off to people around me that I belong to the intellectual type by saying that I love reading.  Also by bringing book(s) anywhere I go while in fact I don’t always have time (or force myself to spare time) to read. 

What made me accuse myself that horrible (and pathetic) thing? LOL.

Recently, I start paying attention to one workmate of mine who loves bringing books to the workplace. She is lucky to get one stand by time (I have never got one since five or six years ago) so that if all teachers on duty are present, she doesn’t have lots of things to do but pressing the bell as a sign the class starts and ends. I always see her taking out a book. She is still interested in reading books about raising children. FYI, her first child is around two years old while the second one is around six months old. After one or two weeks she will bring a new book to read. That made me conclude that she already finished reading the previous book. Different from me that mostly bringing my own book, she brings books she borrows from a public library where she is one of the members. (I am even no longer a member of one library, after finishing my study around two years ago.) Because the books do not belong to her, she has to read the books she borrows from the library at a certain period of time. This quite amazed me of course because that is one thing I cannot do: have to read books at a certain period of time. I don’t enjoy reading books like that. 

I remember one friend from my ex workplace that also loves reading. She can finish reading one book—novels oftentimes—in a very short time.

Is it because I don’t really have much spare time I can use to read books?

Around a year ago, a workmate gave me a registration form to be a member of one library located not far from my workplace. Not wanting to disappoint him (or perhaps I wanted him to see me as a reading freak ), I received that registration form, put it in one book I had with me at that time, then ... forgot it peacefully. When another workmate of mine asked whether I had registered myself at the library, I snobbishly (and annoyingly) said, “I have lotsa books at home and I don’t finish reading all of them yet. I don’t need to borrow any book yet from a library.” Huuuuuuuuuuuu...

I know I always have difficulty to finish reading one book (especially the non fiction ones) because I easily get bored. I will just jump to read another book. But when I love one book, I will have it with me until I produce some writings for blogs. Well, you can check them under topic “Books” or “Book review”. Many writings of mine are inspired by the books I (have) read, besides experiences of people around me.

I think this then became my Abang’s idea to “provoke” one new member of the mailing list we possess together (he made that milis but then always says that it belongs to all the members LOL). And his “provocation” took its toll. LOL. The new member who just had his first novel published sent one copy to me, expecting I would make a review, or analysis, or whatever it is called. I didn’t want to disappoint him so I agreed although I was a bit worried because I was not a pro (yet). LOL. I have written some reviews or interpretations of books I have read because I love reading the books. What if in fact I don’t like the book? 

And my worry came true. The book is not to my interest.  Thus, it becomes a very heavy burden for me to finish reading it until the last page, 482. (moreover to “peel it out”) So far, I stopped reading it till page 5 because it gave me an illustration like Indonesian sinetrons that are full of unnecessary violent acts and insulting words that are inappropriate to be heard. Not to mention his illustrating characters that are not suitable for children.

This made me question myself what makes me fall in love with a book? I love SI PARASIT LAJANG very much. Oh no, perhaps I cannot compare a non fiction book to a fiction one. I like SAMAN (from the same author) although not as crazy as I am for SI PARASIT LAJANG. And as a melancholic romantic feminist, I think I like female authors more than male ones. (I am not a lesbian though. LOL.) I believe you can understand why I love Ayu Utami’s books because we view this life from similar point of view. Meanwhile I like Dewi Lestari because to me we have undergone similar spiritual journeys, questioning deeply about this life and religiosity; only she has made a (can be said temporary, she once said) choice in being a Buddhist while I still stay Muslim.

How about the book one member of the mailing list gave me? So far, until page 5, it didn’t give me any feministic point of view nor spiritual journey. It tells about parents who quarrel in front of their young children. Perhaps it is too quick of me to jump to a conclusion. But the problem is, like what I stated in the beginning of this writing, in fact I don’t think I really like reading, or I don’t always succeed forcing myself to spare time to read.

As for more information some books written by male writers I like:

* “Lelaki Terindah” by Andrei Aksana, full of romantic and beautiful poems. I directly fell in love with the book when I read the poem printed in the back cover.
* “Cantik Itu Luka” by Eka Kurniawan. This novel is not thinner than Harry Potter’s series. I like the book, first by it’s mysterious yet attractive title. The plot is mixture of forward and backward, and the story, similar to its mysterious title, is also somewhat horror (although I don’t like horror movies anymore, this was only during my teenage years). He is a real expert in narrating the story.
* “Ronggeng Dukuh Paruk” by Ahmad Tohari. This novel tells about a woman destined to be born a “ronggeng” or a sensual dancer and her complicate life: having many admirers and foes at the same time.
* “Selingkuh itu Indah” a collection of short stories by Agus Noor. Well, perhaps this name is already a guarantee of good writings. He is smart in choosing the title of one short story to be the title of the book. And he cheated the people who “judged the book by its cover/title”. Instead of narrating a beautiful love affair outside the wedlock, Agus in fact wanted to criticize such affairs. 
* “Petualangan Celana Dalam” a collection of short stories, the first book written by Nugroho Suksmanto. Some short stories written with Semarang as their settings really attracted my attention, somewhat forced me back to my childhood (and tried finding my “root”, as Budi Darma said when talking about MUDIK tradition on Lebaran ). I like some other stories too, including the story whose title was chosen to be the title of the book “Petualangan Celana Dalam”. One weakness, in my opinion, one (or more, I forget) short stories when Nugroho chose a girl as the main character. Nugroho didn’t do deep and thorough investigation of women’s emotional and psychological problems.

Btw, at the moment I am still reading AKAR, the second novel (in Supernova series) by Dewi Lestari. I have time to read it only some minutes in the early morning while waiting for one student of mine at Bank Jateng Demak to pick me up and we leave together, and on my way home from teaching there, while sitting in the bus. Many philosophical statements I found in this book that made me want to write, to “peel out” my own spiritual, emotional, as well as psychological problems. I must admit that as a blogger, I just look for a media to expose my being narcissistic. However, this is really RELIEVING.

(Meanwhile I still have that big burden: to finish reading the novel a member of the mailing list has sent me and then write my interpretation on it. Sigh deeply ...)

PT56 12.55 281107

Kutubuku

 


“Apakah kategori buku bagus itu?”

Ini adalah salah satu topik diskusi di mailing list WritersTavern yang kuikuti mulai sebulan lalu. Banyak ide bermunculan di sana, dan aku bengong saja tidak ikutan. LOL. Bukan karena tidak punya ide, namun aku memang menganggap diri orang yang tidak mudah mengikuti trend, atau mengikuti selera pasar. Aku baca apa yang ingin kubaca. Jadi yah ... biar sajalah orang-orang sibuk melontarkan pendapatnya mengenai apa kategori buku bagus itu. Dan aku akan terus membaca buku yang ingin kubaca, tidak peduli orang bilang bagus atau tidak. Dan aku akan tetap tidak ingin membaca suatu buku kalau aku tidak tergerak hati untuk membaca, meskipun buku itu sedang diblow-up oleh pasar perbukuan Indonesia, maupun internasional.

Semenjak kuliah di American Studies Graduate Program, UGM tahun 2002, aku telah menambah koleksi buku untuk perpustakaan pribadiku lebih dari 600 judul buku. Bagiku ini merupakan suatu prestasi sendiri mengingat gajiku yang pas-pasan. LOL. Dan dari buku-buku yang kukoleksi itu, paling banter yang telah kubaca hanya separuhnya saja. Yang lain, baru menginjak halaman pendahuluan dan bab satu. LOL. Setelah itu, seperti biasa, aku langsung sok bisa menebak, “Oh, kalau pembahasannya seperti ini, pembahasannya pasti seperti ini seperti itu. Bla bla bla ...” LOL. Dan kemudian aku pun akan berpindah ke buku yang lain, dan kukembalikan buku yang bersangkutan ke rak buku, menunggu nasib baik berpihak kepadanya jika satu saat nanti aku akan membacanya secara tuntas. LOL.

Berbicara tentang buku favorit ... well, dari sekian jumlah buku yang telah kubaca, aku tidak gampang mengatakan bahwa aku sangat suka salah satu judul buku sehingga pantas untuk kumasukkan ke dalam kategori buku favoritku.

Salah satu buku yang sangat kusukai adalah Si Parasit Lajang, kumpulan artikel tulisan Ayu Utami. Saking sukanya, aku sampai ingat detil-detil beberapa artikel di dalamnya (contoh: “Mari Berkeluarga di dalam Kota!”.dan “Super Kondom”)

Btw, tentu saja aku memasukkan Charlotte Perkins Gilman sebagai salah sau penulis kesukaanku.

Buku lain yang sangat kusukai adalah SULA, novel tulisan Toni Morrison. Tokoh Sula Peace yang sangat kontroversial dan rebellious di novel ini sangat menarik perhatianku.

Masih banyak buku lain yang membuatku terhenyak, terkesima, terpana, dan melongo ketika aku membacanya. Misalnya: The History of Sexuality nya Michel Foucault, Women’s Madness: Mysogyny or Mental Illness? Karya Jane Ussher, Invalid Women tulisan Diane Price Herndl, (Kedua buku ini sangat membantuku dalam penulisan tesis, selain The Yellow Wallpaper, A Bedford Cultural Edition yang diedit oleh Dale M. Bauer). Saman dan Larung tulisan Ayu Utami, Cantik itu Luka tulisan Eka Kurniawan, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran karya Nasaruddin Umar, Fiqih Perempuan milik KH Husein Muhammad, dll.

Bulan Mei ini aku membeli beberapa buku; Qur’an Menurut Perempuan tulisan Amina Wadud (terjemahan), Jangan Berkedip karya bareng Primadonna Angela dan Isman Hidayat, 3some tulisan Nova Riyanti Yusuf, Feminisme:Sebuah Kata Hati rangkuman tulisan Gadis Arivia, dan yang terbaru Filosofi Kopi Kumpulan Cerita dan Prosa Dewi Lestari. Untuk Angie aku membelikannya dua novel teen lit.

Ketika aku membeli Filofosi Kopi, terus terang aku mengharapkan buku semacam Si Parasit Lajang, artikel-artikel yang full of provoking ideas itu. Aku membelinya di TB Toga Mas (agar dapat diskon!) dan tak tersedia satu eksemplar pun yang terbuka sehingga bisa aku lihat-lihat dulu isinya apa. Setelah aku membayar di kasir, di pelataran parkir aku buka plastik pembungkusnya untuk ngecek apakah semua halaman utuh. Terus terang, aku agak kecewa melihat judul-judul prosa di halaman Daftar Isi. Yah ...

Sabtu malam, 27 Mei 2006, aku langsung membaca satu judul cerdang yang dijadikan judul buku itu, Filosofi Kopi. Wah ... ternyata ceritanya K-E-R-E-N. Semenjak aku melanjutkan kuliah ke American Studies, aku memang mulai merasakan ketergantungan dengan kopi, untuk membantuku melek mengerjakan tugas-tugas yang due esok harinya. Namun mungkin aku belumlah merupakan seseorang yang begitu menikmati kopi sehingga aku bisa merasakan kopi seperti apakah yang wow ... yang bercitarasa tinggi, yang memberi kesan “I am the most successful person in the world.” Atau “This coffee really represents who I am.” Aku jadi penasaran, kopi yang bagaimanakah cara meraciknya yang bisa memberiku suatu sensasi tersendiri?

Nah ... aku sudah terhanyut cerita itu. LOL.

Hari Minggu 28 Mei 2006 aku ke Gramedia Pandanaran untuk menghadiri acara Ngobrol Bareng + Bedah Buku Filosofi Kopi dengan Dewi Lestari. (Aha ... jadi ingat, aku membaca Saman di tahun 2003 sebelum Ayu menjadi salah satu pembicara Internasional Seminar yang dilaksanakan oleh American Studies UGM, padahal buku itu sudah menghebohkan jagad perbukuan Indonesia sejak beberapa tahun sebelumnya! :)) Aku pengen tahu aja bagaimana Dee mempromosikan bukunya dalam acara itu.

Setelah tahu bahwa akan dibagikan tiga buah buku terbitan Gagas Media sebagai merchandise bagi penanya, aku langsung tambah bersemangat untuk bertanya. LOL. Dan di akhir acara, aku pun berhasil mendapatkan satu buku gratis yang berjudul Jakarta Metropolis Tunggang Langgang tulisan Marco Kusumawijaya, meskipun sebenarnya yang kuincar adalah buku tulisan FX Rudy Gunawan yang telah lama ingin kumiliki, yang sayangnya sekarang aku lupa judulnya. LOL.

Beberapa hal menarik yang kuingat dari hasil diskusi itu. Pertama, ketika Dee mengatakan bahwa dia menulis untuk berbagi dengan orang lain tentang kegelisahan yang dia rasakan. Bagi beberapa orang tertentu mungkin mereka berbagi kegelisahan itu dengan berdiskusi dengan orang-orang sekitar. Namun bagi orang yang suka menulis, mereka akan menuliskan kegelisahan itu. This is exactly what I have been experiencing! Ketika berbicara dengan orang-orang di sekitarku, keluarga, teman kerja, juga mahasiswa-mahasiswaku tak lagi kurasakan cukup, thank God, aku menemukan teknologi blog.

Kedua, ketika Dee menggambarkan perjalanan spiritualitasnya. Aku suka caranya yang menganalogikan ketika seseorang tenggelam di laut lepas (baca รจ tatkala seseorang tak memiliki pegangan satu agama pun), pulau-pulau di sekitarnya yang akan memberinya tempat yang nyaman, refuge, akan terlihat sama (baca => semua agama akan terkesan sama, tak satu agama pun akan terkesan lebih baik, atau pun lebih benar, dibandingkan agama yang lain).

Apakah Buddhism adalah titik klimaks perjalanan spiritualitasnya? Dee mengatakan tidak. Bukankah dalam hidup ini, kita akan selalu mencari dan mencari? Akan selalu melakukan perjalanan? Dan ketika pilihannya jatuh ke Buddhism, itu tak lain karena dia adalah anggota masyarakat, yang kadang memang tak memberi kita pilihan lain selain mengikuti apa yang telah masyarakat tentukan. Contoh: tatkala mengisi kolom KTP, tak bisa seseorang di Indonesia untuk membiarkannya tetap kosong.

Jadi ingat perjalanan spiritualitasku sendiri. Ingat beberapa komentar rekan kerja yang kasak kusuk di belakangku, “Nana has changed to be someone weird. Her study has made her become someone difficult to understand.” Dll ... dll ...

Studiku memang telah membuatku menjadi seseorang yang sekuler. There is nothing wrong to be secular, is there? Namun aku tetap memilih menjadi seorang Muslim (yang sekuler!) Paling tidak untuk mengisi kolom KTP, aku tak perlu bingung, aku akan tetap menulis Islam sebagai agamaku. Ada dua hal utama yang melatarbelakanginya. Pertama, my family. I don’t want to hurt them (especially my mom.) Kedua, aku ingin menyitir tulisan Ayu, “Buat saya, lebih baik berlangganan tuhan yang teruji ribuan tahun daripada menyembah merek baru.” (Si Parasit Lajang, 2003:12) Agak sedikit berbeda dengan ilustrasi Ayu di artikel yang berjudul “Agama” itu, aku menginterpretasikannya sebagai Islam adalah agama yang telah teruji selama bertahun-tahun dalam keluarga besar Podungge. LOL. Maksa banget nggak sih? LOL.

PT56 21.53 280506