Minggu, 08 Juni 2008

Kutubuku

“Apakah kategori buku bagus itu?”

Ini adalah salah satu topik diskusi di mailing list WritersTavern yang kuikuti mulai sebulan lalu. Banyak ide bermunculan di sana, dan aku bengong saja tidak ikutan. LOL. Bukan karena tidak punya ide, namun aku memang menganggap diri orang yang tidak mudah mengikuti trend, atau mengikuti selera pasar. Aku baca apa yang ingin kubaca. Jadi yah ... biar sajalah orang-orang sibuk melontarkan pendapatnya mengenai apa kategori buku bagus itu. Dan aku akan terus membaca buku yang ingin kubaca, tidak peduli orang bilang bagus atau tidak. Dan aku akan tetap tidak ingin membaca suatu buku kalau aku tidak tergerak hati untuk membaca, meskipun buku itu sedang diblow-up oleh pasar perbukuan Indonesia, maupun internasional.

Semenjak kuliah di American Studies Graduate Program, UGM tahun 2002, aku telah menambah koleksi buku untuk perpustakaan pribadiku lebih dari 600 judul buku. Bagiku ini merupakan suatu prestasi sendiri mengingat gajiku yang pas-pasan. LOL. Dan dari buku-buku yang kukoleksi itu, paling banter yang telah kubaca hanya separuhnya saja. Yang lain, baru menginjak halaman pendahuluan dan bab satu. LOL. Setelah itu, seperti biasa, aku langsung sok bisa menebak, “Oh, kalau pembahasannya seperti ini, pembahasannya pasti seperti ini seperti itu. Bla bla bla ...” LOL. Dan kemudian aku pun akan berpindah ke buku yang lain, dan kukembalikan buku yang bersangkutan ke rak buku, menunggu nasib baik berpihak kepadanya jika satu saat nanti aku akan membacanya secara tuntas. LOL.

Berbicara tentang buku favorit ... well, dari sekian jumlah buku yang telah kubaca, aku tidak gampang mengatakan bahwa aku sangat suka salah satu judul buku sehingga pantas untuk kumasukkan ke dalam kategori buku favoritku.

Salah satu buku yang sangat kusukai adalah Si Parasit Lajang, kumpulan artikel tulisan Ayu Utami. Saking sukanya, aku sampai ingat detil-detil beberapa artikel di dalamnya (contoh: “Mari Berkeluarga di dalam Kota!”.dan “Super Kondom”)

Btw, tentu saja aku memasukkan Charlotte Perkins Gilman sebagai salah sau penulis kesukaanku.

Buku lain yang sangat kusukai adalah SULA, novel tulisan Toni Morrison. Tokoh Sula Peace yang sangat kontroversial dan rebellious di novel ini sangat menarik perhatianku.

Masih banyak buku lain yang membuatku terhenyak, terkesima, terpana, dan melongo ketika aku membacanya. Misalnya: The History of Sexuality nya Michel Foucault, Women’s Madness: Mysogyny or Mental Illness? Karya Jane Ussher, Invalid Women tulisan Diane Price Herndl, (Kedua buku ini sangat membantuku dalam penulisan tesis, selain The Yellow Wallpaper, A Bedford Cultural Edition yang diedit oleh Dale M. Bauer). Saman dan Larung tulisan Ayu Utami, Cantik itu Luka tulisan Eka Kurniawan, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran karya Nasaruddin Umar, Fiqih Perempuan milik KH Husein Muhammad, dll.

Bulan Mei ini aku membeli beberapa buku; Qur’an Menurut Perempuan tulisan Amina Wadud (terjemahan), Jangan Berkedip karya bareng Primadonna Angela dan Isman Hidayat, 3some tulisan Nova Riyanti Yusuf, Feminisme:Sebuah Kata Hati rangkuman tulisan Gadis Arivia, dan yang terbaru Filosofi Kopi Kumpulan Cerita dan Prosa Dewi Lestari. Untuk Angie aku membelikannya dua novel teen lit.

Ketika aku membeli Filofosi Kopi, terus terang aku mengharapkan buku semacam Si Parasit Lajang, artikel-artikel yang full of provoking ideas itu. Aku membelinya di TB Toga Mas (agar dapat diskon!) dan tak tersedia satu eksemplar pun yang terbuka sehingga bisa aku lihat-lihat dulu isinya apa. Setelah aku membayar di kasir, di pelataran parkir aku buka plastik pembungkusnya untuk ngecek apakah semua halaman utuh. Terus terang, aku agak kecewa melihat judul-judul prosa di halaman Daftar Isi. Yah ...

Sabtu malam, 27 Mei 2006, aku langsung membaca satu judul cerdang yang dijadikan judul buku itu, Filosofi Kopi. Wah ... ternyata ceritanya K-E-R-E-N. Semenjak aku melanjutkan kuliah ke American Studies, aku memang mulai merasakan ketergantungan dengan kopi, untuk membantuku melek mengerjakan tugas-tugas yang due esok harinya. Namun mungkin aku belumlah merupakan seseorang yang begitu menikmati kopi sehingga aku bisa merasakan kopi seperti apakah yang wow ... yang bercitarasa tinggi, yang memberi kesan “I am the most successful person in the world.” Atau “This coffee really represents who I am.” Aku jadi penasaran, kopi yang bagaimanakah cara meraciknya yang bisa memberiku suatu sensasi tersendiri?

Nah ... aku sudah terhanyut cerita itu. LOL.

Hari Minggu 28 Mei 2006 aku ke Gramedia Pandanaran untuk menghadiri acara Ngobrol Bareng + Bedah Buku Filosofi Kopi dengan Dewi Lestari. (Aha ... jadi ingat, aku membaca Saman di tahun 2003 sebelum Ayu menjadi salah satu pembicara Internasional Seminar yang dilaksanakan oleh American Studies UGM, padahal buku itu sudah menghebohkan jagad perbukuan Indonesia sejak beberapa tahun sebelumnya! :)) Aku pengen tahu aja bagaimana Dee mempromosikan bukunya dalam acara itu.

Setelah tahu bahwa akan dibagikan tiga buah buku terbitan Gagas Media sebagai merchandise bagi penanya, aku langsung tambah bersemangat untuk bertanya. LOL. Dan di akhir acara, aku pun berhasil mendapatkan satu buku gratis yang berjudul Jakarta Metropolis Tunggang Langgang tulisan Marco Kusumawijaya, meskipun sebenarnya yang kuincar adalah buku tulisan FX Rudy Gunawan yang telah lama ingin kumiliki, yang sayangnya sekarang aku lupa judulnya. LOL.

Beberapa hal menarik yang kuingat dari hasil diskusi itu. Pertama, ketika Dee mengatakan bahwa dia menulis untuk berbagi dengan orang lain tentang kegelisahan yang dia rasakan. Bagi beberapa orang tertentu mungkin mereka berbagi kegelisahan itu dengan berdiskusi dengan orang-orang sekitar. Namun bagi orang yang suka menulis, mereka akan menuliskan kegelisahan itu. This is exactly what I have been experiencing! Ketika berbicara dengan orang-orang di sekitarku, keluarga, teman kerja, juga mahasiswa-mahasiswaku tak lagi kurasakan cukup, thank God, aku menemukan teknologi blog.

Kedua, ketika Dee menggambarkan perjalanan spiritualitasnya. Aku suka caranya yang menganalogikan ketika seseorang tenggelam di laut lepas (baca è tatkala seseorang tak memiliki pegangan satu agama pun), pulau-pulau di sekitarnya yang akan memberinya tempat yang nyaman, refuge, akan terlihat sama (baca => semua agama akan terkesan sama, tak satu agama pun akan terkesan lebih baik, atau pun lebih benar, dibandingkan agama yang lain).

Apakah Buddhism adalah titik klimaks perjalanan spiritualitasnya? Dee mengatakan tidak. Bukankah dalam hidup ini, kita akan selalu mencari dan mencari? Akan selalu melakukan perjalanan? Dan ketika pilihannya jatuh ke Buddhism, itu tak lain karena dia adalah anggota masyarakat, yang kadang memang tak memberi kita pilihan lain selain mengikuti apa yang telah masyarakat tentukan. Contoh: tatkala mengisi kolom KTP, tak bisa seseorang di Indonesia untuk membiarkannya tetap kosong.

Jadi ingat perjalanan spiritualitasku sendiri. Ingat beberapa komentar rekan kerja yang kasak kusuk di belakangku, “Nana has changed to be someone weird. Her study has made her become someone difficult to understand.” Dll ... dll ...

Studiku memang telah membuatku menjadi seseorang yang sekuler. There is nothing wrong to be secular, is there? Namun aku tetap memilih menjadi seorang Muslim (yang sekuler!) Paling tidak untuk mengisi kolom KTP, aku tak perlu bingung, aku akan tetap menulis Islam sebagai agamaku. Ada dua hal utama yang melatarbelakanginya. Pertama, my family. I don’t want to hurt them (especially my mom.) Kedua, aku ingin menyitir tulisan Ayu, “Buat saya, lebih baik berlangganan tuhan yang teruji ribuan tahun daripada menyembah merek baru.” (Si Parasit Lajang, 2003:12) Agak sedikit berbeda dengan ilustrasi Ayu di artikel yang berjudul “Agama” itu, aku menginterpretasikannya sebagai Islam adalah agama yang telah teruji selama bertahun-tahun dalam keluarga besar Podungge. LOL. Maksa banget nggak sih? LOL.

PT56 21.53 280506

Tidak ada komentar: