Rabu, 18 Juni 2008

Agus Noor


Potongan Cerita di Kartu Pos adalah kumpulan cerpen ketiga karya Agus Noor yang kumiliki, setelah Selingkuh Itu Indah dan Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia. Bisa dikatakan bahwa aku suka karya-karya penulis laki-laki satu ini mengingat aku memiliki tiga buah buku hasil tulisan laki-laki yang dilahirkan di Tegal 1968 ini. Seingatku sangat jarang aku memiliki buku tulisan penulis laki-laki lebih dari satu. Eka Kurniawan dengan novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka dan mampu menghenyakkanku tatkala membacanya dari lembar ke lembar berikutnya, dan membuatku ternganga dengan kepiawaiannya merangkai alur cerita yang sangat kompleks, maju mundur dengan indahnya, pun hanya mampu memprovokasiku untuk membeli satu bukunya yang lain, yang berjudul Lelaki Harimau. Total hanya dua buah buku karya Eka Kurniawan yang kumiliki. Aku memiliki buku Pramudya Ananta Toer hanya satu buku, dan bukan satu dari buku tetraloginya yang sangat terkenal itu. Umar Kayam aku memiliki novel klasiknya yang berjudul Para Priyayi. Penulis (Indonesia) laki-laki mana lagi ya yang kumiliki bukunya? Lupa. LOL. Kayaknya memang hanya ketiga orang ini yang bukunya berada di rak bukuku. LOL. Gosh, hampir lupa, Andrei Aksana dengan Lelaki Terindahnya. :)

Kembali ke kumpulan cerpen terbaru dari Agus Noor yang kumiliki. Harus kuakui bahwa gaya menulisnya semakin matang, cerita mengalir dengan nikmat dan indah, meskipun itu merupakan tulisan surealis (yang terus terang saja, sebenarnya tidak begitu kusukai. LOL.) Tentu saja hal ini jika kubandingkan dengan kedua kumpulan cerpennya yang sebelumnya. Ada sembilan cerpen di buku ini, dan saat ini baru lima cerpen yang kubaca, karena memang kusengaja untuk tidak segera menghabiskan membaca semua cerpen itu dalam satu kali duduk. Dari kelima cerpen yang telah kubaca—masing-masing judulnya “Komposisi untuk Sebuah Ilusi”, “Sirkus”, “Cerita Buat Bapak Presiden”, “Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu” dan “Dongeng buat Pussy”—yang membuatku tercenung dalam waktu yang cukup lama setelah usai membacanya adalah “Sirkus”.

Dalam “Sirkus”, Agus Noor mengungkapkan kegundahan hatinya melihat masalah-masalah sosial yang ada di Indonesia, seperti harga BBM yang melambung tinggi yang menyebabkan harga-harga sembako pun melonjak, tak terjangkau masyarakat kecil, dan akhirnya menyebabkan puluhan juta balita kekurangan gizi, yang di kemudian hari tentu akan menghasilkan generasi penerus yang tidak mumpuni. Poor us!!! :(

Guess where I read this short story? Di Paradise Club sewaktu aku melakukan cycling. I did three things at the same time: cycling, listening to music from my MP, and reading.

Btw, belum tahu penulis laki-laki siapa lagi yang bakal kubeli bukunya untuk menambahi koleksiku. :) Banyak penulis lain tentu saja, hanya aku belum tergoda saja untuk membelinya. :)

PT56 20.59 151206

Tidak ada komentar: