Sabtu, 07 Juni 2008

Petualangan Celana Dalam 2

Hari Selasa 24 Juli kemarin aku memintaku siswa Elementary Class 2 untuk membawa buku bacaan favorit masisng-masing karena topik Lesson 3 adalah "My Favorite Book". Tak ketinggalan tentu aku pun membawa beberapa buku favoritku. Yang kubawa: "Si Parasit Lajang" kumpulan essay Ayu Utami (always become my favorite, since I bought it in 2003), "Lelaki Terindah" novel dengan topik yang masih bisa dianggap lumayan kontroversial tulisan Andrei Aksana, "Melampaui Pluralisme" hasil karya Hendar Riyadi, dan "Srinthil" Media Perempuan Multikultural edisi Oktober 2003.

Dari hasil diskusi tentang buku favorit masing-masing, seorang siswa bertanya padaku apakah aku telah membaca buku yang berjudul "Petualangan Celana Dalam". Mungkin aku pernah mendengar judul buku ini, namun aku belum membacanya. Ketika aku bertanya ke Berti, nama siswa itu, siapa nama penulisnya, dia lupa. Seorang siswa lain menyebut nama "Djenar Maesa Ayu" yang tentu saja langsung tidak kusetujui. Meskipun aku tidak memasukkan nama Djenar sebagai salah satu penulis kesukaan, aku memiliki semua buku tulisannya. (atau bisa juga dibalik, meskipun aku memiliki semua buku tulisan Djenar, dia tidak kumasukkan ke dalam salah satu penulis kesukaanku. LOL. Dasar guru Bahasa iseng. LOL.) Kebetulan Berti memiliki buku tersebut, yang tentu saja kemudian membuatku memintanya untuk membawanya ke kelas pada pertemuan berikutnya, Kamis 26 Juli.

Hari Kamis, Berti tidak lupa membawa buku yang ternyata berisikan kumpulan cerpen tulisan Nugroho Suskmanto yang kelahiran Semarang. Bahkan dengan baik hatinya dia pinjamkan buku itu kepadaku. Waktu aku bertanya, "Berti, do you remember how much it costs?" Dia lupa, dan mengatakan, "You can borrow it, Ma’am. I have finished reading it." Tentu saja hal ini membuatku bersuka cita. LOL. Well, secara sekilas tatkala membaca salah satu cerpen yang dijadikan judul buku, "Petualangan Celana Dalam", aku langsung suka dengan cara menulis Nugroho. Hal ini membuatku berpikir untuk membeli buku ini. Namun kalau Berti meminjamkan buku ini kepadaku, berarti aku bisa segera membacanya, tanpa perlu menunggu aku harus ke toko buku dulu untuk membelinya, dan aku harus menunggu waktu luang yang akan bisa kupakai untuk pergi ke toko buku, isn’t it great?

"Perburuan Wirog" adalah cerpen yang dicetak di halaman pertama. Tentu karena alasan judul ini kurang komersil akhirnya tidak dipilih sebagai judul buku. LOL. Nugroho yang kelahiran Semarang menunjukkan kecintaannya pada kota kelahirannya ini, plus ingatan yang sangat bagus akan masa kecil yang dia lewatkan di satu daerah yang disebut sebagai batasan perbatasan Pendrikan dan Magersari. Sekarang tentunya yang disebut sebagai Jalan Indraprasta, jalan yang selalu kulalui tiap hari, tatkala akan berangkat kerja, maupun berangkat ke Paradise Club ataupun ke warnet langganan.

Membaca "Perburuan Wirog" serasa melemparkanku kembali pada masa kecilku, sekitar tahun 1970-an. Aku tinggal di satu daerah yang disebut Bulu Setalan, terletak di sebelah Selatan Magersari. Masa kecil (baca: masa SD) cukup kulewatkan di daerah Bulu Setalan pula. Nama Magersari dan Pendrikan tentu sangat familiar bagiku. Namun berhubung untuk mencapai Magersari, aku harus menyeberang jalan besar, Jalan Sugiyopranoto, aku tidak pernah keluyuran kesana. Apalagi kakakku satu-satunya yang dengannya aku banyak menghabiskan masa kecilku sambil bermain kelereng, "umbul", gobak sodor, layang-layang, naik sepeda, sampai ke bekel, dakon, lompat tali, tipe orang rumahan. Mana pernah dia ngajakin aku nyebrang jalan raya?

Meskipun begitu aku masih ingat aku pernah diajak ke salah satu teman my dearest Mom ke sana, naik becak. Jalanan yang lengang, (maklum, masih tahun 1970-an), suasana yang asri, angin semilir mengalir lembut (again, it was still in 1970-an), membuatku menikmati kunjungan itu.

Membaca beberapa cerpen dalam "Petualangan Celana Dalam" benar-benar membuatku sadar betapa aku mencintai kota kelahiranku ini. Kota yang memiliki landmarks Tugumuda dan Lawangsewu. Kota yang cukup damai, karena merupakan salah satu kota yang tidak dilanda kerusuhan yang hebat, tatkala kota-kota lain menderita hal tersebut di tahun 1998, masa menjelang runtuhnya Orde Baru.

Membaca "Petualangan Celana Dalam" pun mengingatkanku atas satu novel detektif anak-anak yang berjudul NONI. Aku dulu sangat menyukai NONI, bukan hanya lantaran lakonnnya seorang anak perempuan (anak perempuan jadi jagoan? Wah NANA banget deh, huehehehe ...) namun karena setting place yang mengambil nama-nama daerah Semarang, mulai dari Krapyak, Karangayu, Gombel, Wonodri (sayang Pusponjolo tidak disebut LOL, namun "Pasar Bulu" tentu sempat disebut) membuat novel anak-anak ini terasa sangat membumi, dibandingkan dengan Lima Sekawan tulisan Enid Blyton (yang juga sangat kusukai waktu aku duduk di bangku SMP) yang tentu saja mengambil setting place London, Hampshire, dan sebagainya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, bagi yang hobby membaca apalagi yang hobby koleksi buku, beli yuk buku yang berjudul "Petualangan Celana Dalam" ini? Terutama yang asli Semarang, dan hobby bernostalgia masa kecil, kumpulan cerpen ini cukup menghibur, dan menemani kita kembali mengingat masa lalu.

("Mengapa masa kecil selalu terasa lebih indah dan membahagiakan dibanding masa sekarang?" I keep asking myself. Jawabanku sementara adalah, "Masa kecil adalah masa tanpa beban berat, such as harus bertanggung jawab mengerjakan ini itu, cara berpikir anak kecil yang innocent tidak pernah berpikir yang sulit-sulit.")

PT56 10.08 280707

2 komentar:

wahyu asyari m mengatakan...

sekarang saya kos di magersari sist :D

menuntut ilmu di udinus, biar deket :lol:

A Feminist Blog mengatakan...

Bagaimana rasanya ngekos di Magersari? :)