Rabu, 18 Juni 2008

Perburuan Wirog


“Perburuan Wirog” merupakan salah satu cerpen kesukaanku dalam kumcer “Petualangan Celana Dalam”. Bukan karena aku suka berburu wirog tentunya, melainkan karena ilustrasi Nugroho Suksmanto akan daerah kelahirannya, perbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari membuatku sibuk mengira-ira seperti apakah daerah ini di dekade 1950-1960-an? Aku menebak bahwa latar waktu yang diambil oleh Nugroho dalam cerpen ini sekitar dua dekade tersebut.
Dari cerpen ini aku tahu bahwa di zaman dulu (seberapa dulu? Yah ... dimulai dari zaman kolonial Belanda tentu saja, karena kata ‘Pendrikan’ ternyata berasal dari Fendrijk, nama seorang tuan tanah Belanda, penguasa wilayah barat daya kota Semarang) Pendrikan merupakan kawasan tempat tinggal para priyayi, sedangkan Kampung Magersari merupakan tempat tinggal para pendatang yang konon non priyayi. Kedua kawasan ini dibatasi oleh sebuah sungai yang disebut ‘Ngemplak’, bukan jalan Indraprasta seperti yang kutulis di postinganku sebelum ini yang kuberi judul “Petualangan Celana Dalam”. Apakah waktu itu daerah Pendrikan hanya melingkupi mulai dari Jalan Sugiyopranoto sampai jalan yang sekarang disebut Jalan Indraprasta? Dimanakah sungai yang disebut ‘Ngemplak’ oleh Nugroho?
Nampaknya bukan, karena di sebelah utara jalan Indraprasta seingatku daerah itu juga masih disebut daerah Pendrikan. Sekarang dibuktikan dengan keberadaan SD Pendrikan Utara 03-04 yang terletak di mulut Jalan Abimanyu; SD Pendrikan Utara 03-04 ini menghubungkan Jalan Abimanyu dengan Jalan Indraprasta. Seingatku pula waktu aku masih kecil (waktu duduk di bangku SD), kadang-kadang aku diajak shalat Jumat oleh Ibundaku di masjid milik SD/SMP/SMEA Muhammadiyah yang terletak di pinggir Jalan Indraprasta, sebelah Utara. Waktu dulu disebut-kalau aku tidak salah ingat-Muhammadiyah Pendrikan. Tahun 1950an, my dearest late Dad pernah menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah ini. Entah mengapa kemudian beliau tak lagi menjadi guru/Kepala Sekolah, dan bekerja di Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia).
Sedangkan daerah yang disebut Kampung Magersari, setahuku sekarang ini hanya di kawasan pemukiman di antara dua jalan raya, Jalan Sugiyopranoto dan Jalan Indraprasta. Sesempit itukah kawasan yang dihuni oleh para pendatang yang non priyayi tersebut?
Nampaknya aku benar-benar terhipnotis oleh Nugroho sehingga sekarang setiap kali aku berangkat bekerja melewati Jalan Indraprasta, aku selalu celingukan mencari sungai yang disebutnya sungai ‘Ngemplak’. Saking biasanya aku melewati jalan ini, aku tidak pernah memperhatikan memang ada dua buah sungai, yang satu lebih lebar, yang lainnya lagi lebih sempit. Ini berarti Pendrikan terletak di sebelah Timur ‘sungai’ Ngemplak (kalau masih bisa disebut ‘sungai’ sih, karena sekarang ‘sungai’ ini terlalu sempit, sehingga hanya menyerupai selokan. Dengan Selokan Mataram yang membatasi daerah UGM dengan pemukiman Jalan Kaliurang saja, ‘sungai’ Ngemplak masih lebih sempit.) sedangkan Kampung Magersari terletak di sebelah Barat ‘sungai’ Ngemplak.
Dan dari hasil celingukan tatkala berangkat bekerja, menyusuri jalan Indraprasta, aku melihat sebuah gapura yang bertuliskan Jl EMPLAK INDRAPRASTA. Nah, ini diakah daerah perbatasan tersebut? Di bawah ini gambar gapura tersebut. Di sebelah kiri ada sebuah sungai.

Hal ini juga membuatku benar-benar ingin kembali ke dekade aku lahir-mungkin di tahun-tahun tersebut setting time yang dipilih oleh Nugroho-untuk melihat what that area looked like; memandangnya dengan menggunakan kacamata seorang Nana saat sekarang ini; kalau bisa mengabadikannya dalam bentuk jepretan foto. Apakah ‘sungai’ ini sejak dulu hanya selebar itu? Ataukah karena perubahan alam-yang sering disebabkan oleh manusia-sungai Ngemplak sekarang ini menjadi begitu sempit. Juga aku ingin tahu dimanakah letak ‘papringan’ yang konon sering terdengar tangis seorang bocah perempuan mungil?
PT 56 21.15 050807

Tidak ada komentar: